VIVA – Melalui Kisah Legendaris, VIVA Sport mengajak pembaca bernostalgia dengan berbagai cerita timeless dari dunia olahraga, mulai dari rivalitas panas, perjuangan atlet, hingga momen menarik yang mengubah sejarah
Dalam sejarah sepak bola Eropa, ada banyak final besar yang dikenang karena kualitas permainan, kehadiran para bintang, atau drama hingga menit akhir. Namun hanya sedikit laga yang mampu berubah menjadi legenda hidup.
Salah satunya adalah final Liga Champions 2005 di Istanbul, ketika Liverpool menciptakan keajaiban paling mustahil dalam sejarah kompetisi dengan bangkit dari ketertinggalan tiga gol untuk menumbangkan AC Milan.
Pertandingan yang digelar di Atatürk Olympic Stadium itu kini dikenang dengan satu nama: Miracle of Istanbul.
Bahkan hampir dua dekade kemudian, kisah tersebut masih terasa seperti dongeng yang sulit dipercaya. Bagaimana tidak, Liverpool yang saat itu tidak terlalu diunggulkan harus menghadapi skuad AC Milan yang dipenuhi pemain kelas dunia.
Tim Italia itu memiliki nama-nama seperti Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Kaká, hingga Andriy Shevchenko. Banyak yang menyebut Milan saat itu sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah modern sepak bola.
Mantan gelandang Liverpool, Dietmar Hamann, bahkan tak menampik kualitas luar biasa lawannya. “Tanpa ragu mereka memang tim yang lebih baik. Siapa pun yang membantah itu mungkin harus periksa ke dokter,” katanya.
Hamann menyebut Milan sebagai “world XI” karena hampir setiap lini diisi pemain elite dunia. Namun Liverpool punya sesuatu yang tidak bisa diukur statistik: mentalitas dan kebersamaan. “Kami punya semangat luar biasa. Ketika situasi sulit, kami saling percaya,” lanjutnya.
Sebelum final berlangsung, Liverpool menjalani persiapan khusus di Spanyol demi menyesuaikan kondisi cuaca dan kelembapan di Turki. Kiper Polandia, Jerzy Dudek, mengingat bagaimana pelatih Rafael Benítez terus menanamkan keyakinan kepada timnya.
Benítez bahkan meyakini kondisi fisik pemain Milan tidak sepenuhnya ideal. Itu sebabnya Liverpool merasa masih punya peluang meski mayoritas publik menjagokan Rossoneri.
Atmosfer final Liga Champions tentu menghadirkan tekanan berbeda. Semua pemain memiliki cara masing-masing untuk menenangkan diri sebelum masuk lapangan. Penyerang Spanyol, Luis García, memilih memainkan bola sendirian di ruang ganti demi mengurangi ketegangan. “Saya hanya ingin menikmati momennya,” kata García.




