JERUSALEM, KOMPAS.TV - Rencana kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tengah dibahas melalui jalur mediasi Pakistan mulai memicu kritik dari dalam negeri Israel.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menilai draf kesepakatan tersebut tidak memenuhi kepentingan strategis Israel dan mencerminkan melemahnya pengaruh diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Washington.
Lapid menyampaikan kritik tersebut saat berbicara kepada wartawan di Jerusalem, Senin (25/5/2026).
Baca Juga: Ledakan Menggema di Nabatieh, Israel Gempur Target di Lebanon Selatan Usai Perintah Evakuasi
Ia menyebut detail awal kesepakatan yang sedang dinegosiasikan AS dan Iran sebagai sesuatu yang “mengganggu”.
“Kesepakatan ini buruk untuk Israel, buruk untuk kawasan, dan buruk untuk warga Iran sendiri,” ujar Lapid dikutip dari Associated Press.
Kritik itu muncul di tengah pembahasan kesepakatan transisi 60 hari antara Washington dan Teheran untuk meredakan konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Lapid menilai draf kesepakatan tersebut belum menjawab sejumlah tujuan utama yang sebelumnya disampaikan AS dan Israel pada awal konflik.
Saat perang pecah pada 28 Februari 2026, pemerintahan Presiden Donald Trump dan kabinet Netanyahu menyatakan ingin menghentikan ancaman program rudal balistik Iran, melemahkan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah, serta mencegah Iran memperoleh kemampuan senjata nuklir.
Trump dan Netanyahu juga beberapa kali menyampaikan harapan agar tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran dapat menciptakan kondisi yang melemahkan pemerintahan Teheran.
Namun, berdasarkan laporan sejumlah pejabat regional, pembahasan kesepakatan sementara saat ini lebih berfokus pada isu nuklir dan stabilitas jalur energi global.
Baca Juga: PM Israel Netanyahu Sebut Satu Suara dengan Trump Terkait Iran, Jawab Isu Perpecahan?
Iran disebut bersedia menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya tinggi kepada pihak ketiga serta membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Sebagai imbalannya, AS dilaporkan mempertimbangkan pelonggaran sanksi dan penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran.
Sementara itu, isu program rudal balistik Iran dan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan disebut masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan.
Lapid, yang memimpin partai tengah Yesh Atid, juga mengkritik kemampuan pemerintahan Netanyahu dalam memengaruhi arah kebijakan AS selama perang berlangsung.
“Pemerintah Israel berada di titik terendah dalam sejarah dalam hal kemampuan memengaruhi keputusan di Washington,” kata Lapid.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Associated Press
- Gencatan senjata AS Iran
- Yair Lapid
- Benjamin Netanyahu
- Pemilu Israel 2026
- Konflik Timur Tengah
- Donald Trump





