Peningkatan biaya hidup, kenaikan ongkos kesehatan, hingga ketidakpastian pendapatan telah memicu kekhawatiran finansial masyarakat kelas menengah di Indonesia. Masyarakat pun berupaya mencari ketenangan di masa depan dengan pelindungan finansial, seperti asuransi.
Kekhawatiran finansial masyarakat, terutama untuk kelas menengah, di Indonesia, antara lain, tergambar dalam laporan FWD Consumer Outlook Survey. Survei ini dilakukan FWD Group, perusahaan asuransi di Asia, bersama Ipsos, perusahaan riset pasar global pada Oktober 2025.
Survei secara daring ini melibatkan lebih dari 1.000 responden kelas menengah Indonesia yang berusia 21-65 tahun. Riset ini mengkaji kesejahteraan dan kekhawatiran terkait kondisi keuangan serta meneliti kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko finansial di masa depan.
Sebanyak 66 persen masyarakat atau responden yang disurvei merasa khawatir terhadap kestabilan keuangan mereka saat ini dan yang akan datang.
”Dari studi ini, kami menemukan, sebanyak 66 persen masyarakat atau responden yang disurvei merasa khawatir terhadap kestabilan keuangan mereka saat ini dan yang akan datang,” ujar Rudy Franto Manik, Direktur Sumber Daya Manusia dan Pemasaran PT FWD Insurance Indonesia.
Rudy menyampaikan hal itu saat peluncuran produk asuransi jiwa FWD Income Prosperity di Jakarta, Senin (25/5/2026). Acara bertema ”Secure Today, Certainty Tomorrow” itu dihadiri Presiden Direktur FWD Insurance Jeffrey Woo, jajaran direksi, dan publik figur Agatha Suci.
Menurut Rudy, kekhawatiran finansial yang dirasakan masyarakat tersebut dipicu tiga faktor. Sebanyak 70 persen responden menjawab kenaikan biaya hidup sebagai faktor terbesar. Faktor lainnya adalah ketidakpastian pendapatan (43 persen) dan kenaikan biaya kesehatan (40 persen).
”Akhirnya, masyarakat lebih fokus untuk menjaga kestabilan keuangan saat ini dibandingkan mengejar pertumbuhan,” ucap Rudy. Artinya, warga kini lebih berhati-hati mengelola keuangan. Survei ini juga menemukan perbedaan kebutuhan dan kekhawatiran finansial setiap generasi.
Generasi Z, yang lahir 1997-2012, misalnya, mencari kemandirian finansial dengan dukungan proteksi sederhana dan terjangkau. Generasi Y atau milenial (kelahiran 1981-1996) menghadapi tekanan sebagai sandwich generasi, yakni ketika generasi menanggung biaya hidup keluarganya.
Adapun generasi X (kelahiran 1965-1980) lebih memprioritaskan stabilitas jangka panjang dan mempertahankan kesejahteraan di usia pensiun. Meski kebutuhan dan kekhawatiran finansialnya berbeda, setiap generasi mendambakan ketenangan secara finansial di masa mendatang.
Ironisnya, survei ini hanya mencatat sekitar 34 persen masyarakat yang merasa tenang dan yakin dapat merencanakan keuangannya di masa mendatang. Artinya, sekitar dua pertiga masyarakat merasa khawatir terhadap kondisi finansial saat ini dan masa depan.
Riset ini juga menemukan sebagian besar masyarakat kelas menengah hanya bergantung pada pendapatan aktif, seperti upah atau gaji bulanan. ”Namun, kondisi ini memiliki risiko. Jika pendapatan aktif ini terganggu, keuangan masyarakat juga terganggu saat ini dan di masa depan,” ujarnya.
Apalagi, survei ini mengidentifikasi adanya kesenjangan antara harapan hidup, kesiapan finansial, dan kondisi kesehatan di masa depan. Rata-rata responden memperkirakan angka harapan hidup hingga 79 tahun, sedangkan tabungan hanya cukup 19 tahun setelah pensiun.
Padahal, rata-rata usia pensiun berkisar 55 tahun-60 tahun. Selain itu, terdapat pula potensi periode kerentanan kesehatan selama dua hingga empat tahun di masa tua. Kondisi ini menegaskan pentingnya perencanaan finansial jangka panjang dan solusi pelindungannya.
Menurut Rudy, pelindungan melalui asuransi dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran finansial masyarakat. Pihaknya pun meluncurkan FWD Income Prosperity. Produk asuransi ini menggabungkan manfaat tunai tahunan dengan pelindungan jiwa demi menjaga stabilitas keuangan.
Ia menuturkan, produk asuransi ini menargetkan segmen masyarakat kelas menengah sesuai dengan survei FWD. Adapun premi untuk produk ini adalah minimal Rp 25 juta per tahun dengan masa pembayaran premi selama lima tahun. Masa asuransinya ialah 15 atau 20 tahun.
Rudy mengklaim produk asuransi ini memiliki tiga keunggulan. Pertama, nasabah mendapatkan kepastian manfaat tunai setiap tahun sebesar 14 persen atau 17 persen sesuai perencanaan yang dipilih. Kedua, nasabah akan menerima premi yang dibayar dengan manfaat akhir masa asuransi sebesar 108 persen dari total premi yang dibayar.
Manfaat itu berlaku selama periode kampanye hingga 31 Desember 2026. Ketiga, pengajuan polis nasabah pasti diterima tanpa pemeriksaan kesehatan untuk uang pertanggungan Rp 2 miliar. ”Berbagai manfaat ini yang dibutuhkan nasabah di tengah kondisi ketidakpastian,” katanya.
Presiden Direktur FWD Insurance Jeffrey Woo mengatakan, dengan solusi yang tepat, asuransi kini dapat melampaui sekadar pelindungan terhadap risiko keuangan hingga kesehatan. Asuransi bahkan dapat menjadi bagian dari perencanaan kehidupan yang sederhana, relevan, dan memberdayakan.
”Dengan begitu, masyarakat Indonesia bukan hanya sekadar menjalani kehidupan, melainkan juga benar-benar bisa celebrate living (merayakan kehidupan),” ungkap Jeffrey. Pihaknya pun berkomitmen menghadirkan asuransi yang mudah diakses, dipahami, dan disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pelindungan finansial tersebut, industri asuransi jiwa nasional juga menunjukkan tren pertumbuhan. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat, pada 2025, total pendapatan industri ini tumbuh 9,3 persen menjadi Rp 238,71 triliun. Premi bisnis baru yang dibayarkan juga meningkat 7,8 persen.
”Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap pelindungan asuransi jiwa tetap terjaga. Hal ini juga didukung oleh meningkatnya total tertanggung industri asuransi jiwa yang naik 8,6 persen secara tahunan menjadi 168,03 juta orang,” ujar Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo melalui siaran pers, Maret lalu.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat, sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun (PPDP) menunjukkan tren pertumbuhan. Per akhir Februari 2026, total aset di sektor telah mencapai Rp 2.992 triliun atau tumbuh sebesar 9,94 persen secara tahunan. Nilai investasi pun tumbuh 7,94 persen secara tahunan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK (KE PPDP) Ogi Prastomiyono mengatakan, sektor PPDP memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak utama stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
”Sektor PPDP berperan sebagai risk management engine (pengelolaan risiko) yang memberikan pelindungan terhadap berbagai risiko yang dialami masyarakat, serta memperkuat akses pembiayaan, khususnya bagi UMKM dan sektor produktif,” ujar Ogi dalam keterangan tertulis, April lalu.
Kehadiran asuransi pun semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini, antara lain, tampak dari pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh sekitar Rp 17.600 per dolar AS hingga lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Penyanyi Agatha Suci, misalnya, menilai, asuransi sebagai bentuk proteksi di masa depan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. ”Kita tidak harus menunggu kondisi ideal (untuk memiliki proteksi). Selama kita hidup, akan selalu ada risiko. Risiko inilah yang diatur oleh produk (asuransi),” ujarnya dalam peluncuran FWD Income Prosperity.
Itu sebabnya, Agatha mulai mengikuti asuransi sejak usia 19 tahun atau sekitar 22 tahun lalu. Tujuannya, untuk memberikan proteksi kepada keluarga, terutama dua anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. ”Paling penting sekarang adalah memulai dulu dan harus melek tentang proteksi ini,” ujarnya.





