Hujan masih menyisakan rintik di halaman Kampus 3 Universitas Pamulang atau Unpam, Rabu (20/5/2026). Ratusan sepeda motor mahasiswa memenuhi parkiran kampus di Witana Harja, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, itu.
Mahasiswa datang dan pergi. Sebagian tampak baru keluar dari kelas, sebagian lainnya bergegas masuk lift menuju ruang kuliah.
Di tengah suasana itu, Byandra Destianingrum (22) duduk menunggu temannya di lobi kampus. Keduanya hendak pergi ke rumah seorang teman di Depok, Jawa Barat, untuk mengerjakan tugas kelompok. Sudah tiga tahun Byandra kuliah di Unpam.
Lulusan SMK Kebangsaan, Pondok Aren, Tangerang Selatan, ini sebenarnya ingin lanjut studi di perguruan tinggi negeri di Solo, Jawa Tengah, selepas lulus pada 2023. Namun, ayahnya tak mengizinkan karena tak ingin Byandra jauh dari keluarga. Akhirnya, Byandra memilih perguruan tinggi swasta (PTS).
Serial Artikel
Subsidi Negara Menyusut, Biaya Kuliah Bertambah
Porsi pendapatan perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang bersumber dari uang kuliah tunggal dan kegiatan akademik terus membesar dalam satu dekade terakhir.
”Sebenarnya waktu itu mau cari kerja saja karena aku lulusan SMK. Tapi, omku menyarankan kuliah dulu. Belum tentu juga langsung dapat kerja karena sekarang banyak yang mensyaratkan minimal S-1,” kata Byandra, Senin (27/4/2026).
Ia sempat bingung menentukan program studi (prodi) sebelum akhirnya memilih D-4 Akuntansi Perpajakan Unpam atas saran pamannya. Selain prospek kerja yang dinilai menjanjikan, biaya kuliahnya juga dianggap terjangkau.
Sebagai mahasiswa reguler, ia membayar uang kuliah Rp 1,9 juta per semester, termasuk biaya registrasi Rp 400.000, ujian UTS dan UAS masing-masing Rp 250.000, dan sisanya bisa dicicil Rp 200.000 per bulan.
Setiap pekan ia datang ke kampus dua tiga kali dengan jam kuliah pagi hingga sore. Perkuliahan dengan sistem campuran: tatap muka dan daring. ”Misalnya 3 SKS, dua jam dosen nerangin teori, pertanyaan dan diskusi lewat Zoom atau e-learning,” ujar Byandra.
Menurut dia, materi kuliah cukup sesuai dengan ekspektasi dan banyak dosen dari kalangan praktisi. ”Mereka rajin datang, kok. Salah satu dosen cerita, mahasiswa bimbingannya yang baru lulus sudah diterima kerja di perusahaan tambang di Kalimantan dan jaringan ritel es krim,” kata Byandra yang optimistis bakal cepat dapat kerja juga setelah lulus.
Pada hari berbeda, suasana lain tampak di kompleks Kampus 2 Unpam. Hiruk pikuk nyaris tak mengenal jeda. Kantin penuh. Lorong perpustakaan dipenuhi mahasiswa yang menatap layar laptop atau menekuni buku.
Di luar gedung, gazebo dan ruang terbuka menjadi tempat mahasiswa berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar menunggu kelas berikutnya. Keramaian itu menjadi potret dari skala Unpam hari ini. Di Kampus II saja, terdapat tiga gedung, dua di antaranya 10 lantai dan satu gedung 12 lantai.
Arus mahasiswa bertambah setiap tahun yang menjadikan Unpam perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa terbesar di Indonesia saat ini di bawah Universitas Terbuka. Pada 2025, mahasiswa aktif di jenjang D-4 dan S-1 mencapai 106.491 orang. Ditambah jenjang D-3, S-2, dan Profesi mencapai 110.923 mahasiswa.
Selain tiga kampus di Pamulang, Unpam juga tengah merampungkan pembangunan kampus di Serang, Banten. Dari rencana bangunan 11 lantai, enam lantai telah berdiri dan menampung 17.000-an mahasiswa.
Rektor Unpam Nurzaman mengatakan, kampusnya sejak awal berusaha membuka akses pendidikan tinggi seluas mungkin dengan menetapkan biaya kuliah murah. Hal itu dimungkinkan karena subsidi dari Yayasan Sasmita Jaya yang menaungi Unpam.
Yayasan ini memiliki sejumlah aktivitas bisnis yang hasilnya diinvestasikan kembali untuk membiayai fasilitas dan sarana kampus sehingga mahasiswa tidak dibebani biaya terlalu besar.
”Pemilik yayasan sejak awal ingin membantu masyarakat kurang mampu supaya bisa kuliah. Beliau cerita tidak mudah untuk kuliah. Makanya beliau bercita-cita harus jadi orang kaya supaya bisa membantu orang miskin kuliah,” kata Nurzaman saat ditemui Kompas, Kamis (21/5/2026).
Sempat mempertimbangkan masuk PTN, Georgia Ananta (19) akhirnya mantap langsung memilih Binus University. Prodi Desain Komunikasi Visual New Media yang ia pilih sangat sesuai dengan minatnya.
Ghea, panggilan akrab Georgia, sudah sempat survei langsung ke beberapa cabang kampus Binus untuk melihat DKV di tiap-tiap cabang. Ia juga sempat mempelajari kurikulum DKV di Institut Teknologi Bandung (ITB).
”Aku sempat beberapa kali campus visit ke ITB dan Binus yang di FX, Kemanggisan, Alam Sutra, sampai Bandung. Kebetulan Binus ada kerja sama dengan sekolahku, jadi sering banget ada undangan. Jadi lebih kebayang sih kuliah di Binus bagaimana,” ungkap lulusan SMA St John, BSD, Serpong, ini, Senin (27/4/2026).
Dengan kunjungan langsung, ia bisa melihat proses kuliah, fasilitas, hingga interaksi antarmahasiswa. Apa yang ia peroleh di bangku kuliah, menurut Ghea, sesuai ekspektasinya.
”Aku penginnya memang yang enggak terlalu teori dan benar-benar mengikuti tren sekarang. Nanti semester 4 dan 5 lebih spesifik, mau lebih ke UI, UX, atau percetakan. Di tahun awal masih yang dasar tapi dinamis dan fleksibel,” kata Ghea.
Selain itu, nantinya ada mata kuliah kewirausahaan. Kampus menyediakan ruang jualan atau promosi bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha.
”Kebanyakan yang buka small business sih yang sudah enggak ada mata kuliah dan usahanya F&B. Alumni juga sering diundang ke kampus untuk talk show atau bikin workshop bareng. Jadi sampai lulus, kita merasa masih dijaga sama Binus,” katanya.
Setelah lulus kuliah, Ghea berkeinginan punya bisnis sendiri. Namun, sebelumnya ia ingin mencoba bekerja dulu di dunia marketing atau branding untuk mencari pengalaman.
Unpam dan Binus University menjadi PTS yang bisa mengimbangi kinerja PTN dalam hal merekrut mahasiswa. Di saat jumlah mahasiswa di PTS lain kebanyakan stagnan atau malah menurun, Unpam dan Binus University malah tumbuh signifikan.
Ini tecermin dari data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Kemendiktisaintek periode 2014-2024. Jumlah mahasiswa Unpam tahun 2014 tercatat 46.314 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlahnya 95.391 mahasiswa. Ini jumlah terbanyak di kategori PTS. Peringkat kedua ditempati Binus University dengan total jumlah mahasiswa 55.937 pada tahun 2024.
Selain Unpam dan Binus University, kinerja Telkom University juga tak kalah hebat dalam menjaga pertumbuhan jumlah mahasiswa. Tahun 2014, jumlah mahasiswanya semula 14.389 tetapi 10 tahun kemudian naik signifikan menjadi 41.871 orang.
PTS yang diminati biasanya membuka prodi yang praktis dan sesuai kebutuhan industri.
Head of Secretary and Public Relations Telkom University Roosdiana Noor Rochmah menjelaskan, dinamika jumlah intake mahasiswa dialami banyak PTS di dalam dan luar negeri. Pihaknya mempertahankan dan meningkatkan kinerja melalui penguatan keunggulan yang secara luas dikenal pasar sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi.
”Keberhasilan kami sejauh ini didorong program-program kreatif yang melibatkan komunitas dan publikasi masif mengenai dampak positif riset universitas terhadap masyarakat,” ujar Diana, Selasa (5/5/2026).
Pihaknya juga menyadari, PTS yang tidak mampu menciptakan keunggulan di era digital saat ini secara perlahan akan menghadapi penurunan relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar.
Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Budi Djatmiko mengatakan, PTS yang sukses menarik mahasiswa umumnya membuka kelas malam dan kelas sore. Mayoritas mahasiswanya adalah mereka yang sudah bekerja dan berusia di atas 24 tahun, segmen yang biasanya tidak terlayani oleh PTN.
”PTS ini biasanya menawarkan biaya pendidikan yang sangat terjangkau, berkisar Rp 750.000-Rp 2 juta per semester,” kata Budi, Senin (4/5/2026).
PTS yang dilihatnya mampu bertahan, biasanya berfokus melayani masyarakat di daerah 3T (terdepan, terluar, dan terpencil) yang membutuhkan akses pendidikan murah dan dekat dengan tempat tinggal mereka. ”PTS sebenarnya memainkan peran strategis sebagai alat pembangunan desa dan penanggulangan kemiskinan, khususnya di daerah 3T melalui pendidikan yang relevan dengan industri lokal,” katanya.
Selama ini, menurut Budi, ada distorsi persepsi pada masyarakat yang lebih memihak pada PTN yang disubsidi besar-besaran oleh negara. Rata-rata berpandangan PTS kalah berkualitas dibandingkan dengan PTN.
”PTS sering kali tersisih dalam kompetisi bukan semata karena kualitas pendidikannya melainkan karena adanya bias persepsi pada masyarakat yang kebanyakan memandang PTS kurang berkualitas,” ujarnya.
PTS yang mampu menarik minat, menurut dia, berhasil meyakinkan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Di masa depan, kesuksesan PTS semestinya diukur dari kemampuannya memperkuat potensi daerah dan ekonomi lokal. ”PTS yang diminati biasanya membuka prodi yang praktis dan sesuai kebutuhan industri,” kata Budi.





