Saham-saham consumer staples dinilai masih menarik dicermati di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan perubahan daya beli masyarakat.
IDXChannel - Saham-saham consumer staples dinilai masih menarik dicermati di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan perubahan daya beli masyarakat. Namun, masing-masing emiten menawarkan cerita yang berbeda pada kuartal I-2026.
BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan yang terbit Senin (25/5/2026) menilai PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi pilihan paling menarik dari sisi valuasi dan pertumbuhan laba, sementara PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih dibayangi tekanan kurs.
Di sisi lain PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dinilai berhasil mencatat lonjakan laba, meski kualitas pertumbuhannya perlu dicermati lebih lanjut.
INDF disebut sebagai saham consumer staples dengan valuasi paling murah, namun tetap mampu menjaga pertumbuhan kinerja.
Perseroan membukukan penjualan Rp33,9 triliun pada kuartal I-2026, naik 7,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba bersih juga tumbuh 8,6 persen menjadi sekitar Rp2,95 triliun.
Menurut hemat BRI Danareksa, INDF menawarkan kombinasi value dan growth yang paling seimbang di antara peers.
Broker tersebut menyoroti model bisnis INDF yang terdiversifikasi, mulai dari bisnis makanan konsumen melalui ICBP hingga agribisnis.
Dengan valuasi price to earnings (PE) hanya 5 kali dan price to book value (PBV) 0,76 kali, saham ini dinilai masih berpeluang mengalami re-rating seiring mengecilnya holding discount.
Sementara itu, ICBP mencatat pertumbuhan penjualan yang tetap solid sebesar 7,6 persen YoY menjadi Rp21,7 triliun. Namun laba bersih turun sekitar 3 persen menjadi Rp2,57 triliun.
Menurut BRI Danareksa, penurunan laba ICBP bukan berasal dari pelemahan bisnis inti, melainkan dampak rugi selisih kurs akibat pelemahan rupiah.
Secara operasional, margin perusahaan masih dinilai kuat dengan operating margin mencapai 21,3 persen.
ICBP dinilai tetap mencerminkan kualitas bisnis yang baik, tetapi sementara tertahan faktor valuta asing (FX).
Dengan valuasi PE 7,8 kali dan PBV 1,48 kali, saham ICBP dinilai menarik untuk akumulasi bertahap apabila stabilitas rupiah mulai membaik.
Di sisi lain, MYOR membukukan lonjakan laba paling tinggi di antara dua emiten consumer staples lainnya.
Laba bersih perseroan melonjak 37 persen YoY menjadi Rp946 miliar, meski penjualan justru turun 4,7 persen menjadi Rp9,4 triliun.
Kenaikan laba itu terutama ditopang efisiensi biaya dan perbaikan gross profit margin (GPM) dari 21,9 persen menjadi 26,6 persen.
Namun, BRI Danareksa mengingatkan, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan volume penjualan, terutama di pasar domestik.
Momentum laba MYOR memang kuat, demikian mengutip BRI Danareksa, tetapi valuasinya sudah premium.
MYOR saat ini diperdagangkan pada valuasi PE 11 kali dan PBV 2,21 kali. Meski perseroan memiliki posisi neraca net cash yang solid, investor diminta mencermati potensi pemulihan volume penjualan pada kuartal II-2026 sebelum lebih agresif masuk.
Dari sisi makro, BRI Danareksa menilai inflasi April 2026 yang melandai ke level 2,42 persen menjadi sentimen positif bagi daya beli masyarakat.
Namun, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 serta pelemahan rupiah hingga di kisaran Rp17.700 per USD masih menjadi risiko utama sektor consumer staples.
Tekanan kurs dinilai dapat meningkatkan biaya impor bahan baku seperti gandum dan produk dairy yang digunakan emiten makanan dan minuman. (Aldo Fernando)




