Jakarta (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya susulan erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur pada Selasa pagi.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 06.28 WIB.
Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu dengan tinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke sektor barat daya serta barat.
Selain pengamatan visual, aktivitas erupsi juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 17 milimeter dan durasi sekitar satu menit 49 detik.
Saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga sehingga masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan Badan Geologi.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak.
Badan Geologi juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama di kawasan Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
Baca juga: Gunung Semeru erupsi disertai luncuran awan panas
Baca juga: Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan 1.000 meter
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 06.28 WIB.
Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu dengan tinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke sektor barat daya serta barat.
Selain pengamatan visual, aktivitas erupsi juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 17 milimeter dan durasi sekitar satu menit 49 detik.
Saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga sehingga masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan Badan Geologi.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak.
Badan Geologi juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama di kawasan Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
Baca juga: Gunung Semeru erupsi disertai luncuran awan panas
Baca juga: Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan 1.000 meter





