Teror Pocong dari Lamongan hingga Nganjuk! Psikologi Mistik yang Belum Tuntas

beritajatim.com
7 jam lalu
Cover Berita

Ketika hantu berbaju kriminal berkeliaran di gang-gang Tangerang dan Depok, Lamongan hingga Nganjuk kita sebenarnya sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih tua dari CCTV dan media sosial.

Pocong kembali turun ke jalan. Bukan di layar bioskop, bukan pula di serial horor platform streaming  melainkan di gang-gang pemukiman warga Tangerang, Depok, Lamongan, hingga Nganjuk Jawa Timur.

Sosok berbalut kain kafan putih itu terekam kamera CCTV, viral di grup WhatsApp, dan dalam hitungan jam telah memicu kepanikan yang melampaui batas kelurahan.

Polres Metro Depok menggelar patroli malam. MUI Bekasi mengeluarkan fatwa: pocong jadi-jadian hukumnya haram. Negara turun tangan menangani hantu.

Satu pertanyaan yang kemudian menggantung di udara: mengapa sebuah kostum murah dari kain putih bisa membuat viral di grup WA dan membuat teror ketakutan?

“Ini bukan ilmu sihir. Ini ilmu psikologi yang dipakai oleh penjahat kelas teri.” – namun mengapa psikologi itu bekerja begitu efektif di sini, dan bukan di tempat lain?
Warisan yang Tidak Pernah Tuntas

Clifford Geertz, anthropolog Amerika yang meneliti masyarakat Pare Kediri Jawa Timur pada akhir 1950-an, membagi  Jawa ke dalam tiga kategori: santri, priyayi, dan abangan.

Kaum abangan — mereka yang lebih mengikuti adat, kebatinan, dan praktik sinkretis ketimbang syariat – pernah menjadi mayoritas diam-diam di pedesaan Jawa.

Peneliti MC Ricklefs mencatat bahwa pada 1967, hanya sekitar 15 persen warga pedesaan Jawa yang menjalankan agama. Lautan abangan itu nyata.

Dekade demi dekade berikutnya membawa apa yang para ilmuwan sebut sebagai “santrinisasi” – proses perlahan di mana identitas keagamaan normatif meresap ke akar rumput.

Survei SMRC pada 2023 menemukan bahwa dari penganut agama Jawa yang disurvei, 52,4 persen mengaku santri dan hanya 22,3 persen yang masih mengidentifikasi diri sebagai abangan. Angka yang bergeser dramatis dalam dua generasi.

Namun angka identitas berbeda dari angka kepercayaan. Seorang yang hari ini menyebut dirinya santri, yang rajin beribadah dan hafal kitab suci, bisa saja masih menyimpan  entah disadari atau tidak lapisan kepercayaan yang lebih tua: bahwa malam menyimpan bahaya yang tidak kasatmata, bahwa ada kekuatan di luar logika yang perlu diwaspadai, bahwa siluet putih di kegelapan lebih baik dihindari daripada ditantang.

Kosakata Supranatural sebagai Senjata

Di sinilah teror pocong menemukan celahnya. Para pelaku – apakah kriminal yang mengincar rumah kosong, atau sekadar pembuat konten yang mengejar viral  tidak sedang berinovasi. Mereka sedang mengeksploitasi kosakata lama yang sudah tertanam jauh di dalam imajinasi kolektif Indonesia.

Pocong bukan sembarang hantu. Ia adalah representasi jenazah yang belum terurai tali kafannya — sebuah gambar yang memotong langsung ke lapisan paling purba dari kecemasan manusia Jawa: kematian yang belum tuntas, arwah yang belum tenang, dan konsekuensi dari kelalaian ritual.

Kepercayaan semacam ini tidak hilang hanya karena seseorang kini rajin beribadah. Ia bertahan di bawah permukaan, dan media sosial memberinya amunisi untuk meledak lebih cepat dari sebelumnya.

Pola ini bukan baru. Kelor Ijo di awal 2000-an bekerja dengan logika yang persis sama: memanfaatkan kosakata supranatural yang sudah tertanam dalam budaya Indonesia untuk menciptakan panik, dan dari panik itulah kejahatan bergerak. Dua puluh tahun berlalu. Literasi digital meningkat. Tapi mekanismenya identik.

Santrinisasi mengubah identitas agama jutaan orang Indonesia, tapi belum tentu mengubah arsitektur bawah sadar mereka tentang dunia gaib.
Tidak Bisa Diselesaikan dengan Patroli Malam

Respons negara patroli polisi, imbauan tenang, penyelidikan poster hoaks adalah respons yang tepat untuk dimensi kriminalnya.

Pelaku yang menyamar pocong untuk merampok memang harus ditangkap dan diadili. Tetapi ada dimensi lain yang tidak bisa diatasi dengan intensifikasi ronda malam.

Survei global yang melibatkan lebih dari 140 ribu responden di 95 negara menemukan bahwa sekitar 43 persen populasi dunia masih percaya bahwa seseorang bisa melontarkan kutukan yang mendatangkan kemalangan.

Indonesia masuk dalam sampel itu. Ini bukan soal kebodohan atau ketertinggalan – ini soal bagaimana manusia, di mana pun, mengelola ketidakpastian dan ketakutan akan hal yang tidak bisa dikontrol.

Yang membuat Indonesia khas adalah kedalamannya: kepercayaan mistik di sini bukan sekadar takhayul pinggiran, melainkan telah terjalin selama berabad-abad dengan identitas budaya, ritual kematian, hubungan dengan leluhur, dan cara memaknai alam semesta. Santrinisasi belum  dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya  menghapus lapisan itu.

Penutup

Teror pocong 2026 adalah cermin. Di dalamnya kita melihat dua hal sekaligus: Indonesia yang telah berubah  lebih urban, lebih terhubung, lebih religius secara formal — dan Indonesia yang belum berubah, yang masih menyimpan di sudut terdalam kolektifnya sebuah pertanyaan purba tentang apa yang menghuni kegelapan.

Para pelaku pocong-kostuman memahami hal ini lebih baik dari banyak kebijakan publik yang saat ini digelontorkan ke rakyat yaitu MBG, KDMP dan Sekolah Rakyat.

Mereka tahu bahwa satu siluet putih di gang sempit, bila ditayangkan ulang di ratusan grup WhatsApp, bisa mengalahkan puluhan tahun pendidikan agama dan literasi digital.

Bukan karena masyarakat bodoh. Tapi karena rasa takut yang paling efektif adalah yang berbicara dalam bahasa yang paling dalam kita ketahui sejak kecil.

Dan bahasa itu, ternyata, masih fasih terucap.(ted)

Teddy Ardianto H
Redaktur Pelaksana beritajatim.com, Wakil Ketua AMSI Jatim,
Pengajar Mobile Journalisme di UKWM Surabaya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FIFA Resmi Perkenalkan 3 Maskot Piala Dunia 2026, Ini Nama dan Maknanya
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Tak Ada Lagi Cemas di Ruang Kelas: Selamat Tinggal Surat Peringatan Tunggakan SPP
• 20 menit lalukompas.com
thumb
Viral Sebar Hoaks Mengaku Dibegal, Remaja di Jember Diamankan Polisi
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Puncak Haji 2026 Dimulai, Jemaah Diingatkan untuk Saling Jaga
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Kejar Aktor Intelektual, Kuasa Hukum Ammar Zoni Siapkan Laporan ke Bareskrim
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.