Riyadh (ANTARA) - Posisi Arab Saudi mengenai isu Palestina tetap tidak berubah, demikian disampaikan sebuah sumber Saudi kepada televisi Al Arabiya pada Senin (25/5).
Sumber tersebut menegaskan perlunya "sebuah jalur yang tidak dapat dibatalkan menuju negara Palestina."
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara-negara mayoritas Muslim dan negara-negara regional untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan bergabung dengan Perjanjian Abraham (Abraham Accords).
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump mengatakan para pemimpin dari sejumlah negara telah membahas upaya untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pemimpin Negeri Paman Sam itu menambahkan pula bahwa negara-negara yang membahas upaya mengakhiri perang ini, "setidaknya," harus secara bersamaan menandatangani perjanjian tersebut.
Perjanjian Abraham, yang ditengahi oleh AS pada 2020 selama masa jabatan pertama Trump sebagai presiden AS, menghasilkan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab.
Arab Saudi telah berulang kali mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina.
Sumber tersebut menegaskan perlunya "sebuah jalur yang tidak dapat dibatalkan menuju negara Palestina."
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara-negara mayoritas Muslim dan negara-negara regional untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan bergabung dengan Perjanjian Abraham (Abraham Accords).
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump mengatakan para pemimpin dari sejumlah negara telah membahas upaya untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pemimpin Negeri Paman Sam itu menambahkan pula bahwa negara-negara yang membahas upaya mengakhiri perang ini, "setidaknya," harus secara bersamaan menandatangani perjanjian tersebut.
Perjanjian Abraham, yang ditengahi oleh AS pada 2020 selama masa jabatan pertama Trump sebagai presiden AS, menghasilkan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab.
Arab Saudi telah berulang kali mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina.





