Fakta Teror Pocong Gentayangan di Bojonegoro, Polisi Ungkap yang Sebenarnya

grid.id
7 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Baru-baru ini warga digegerkan dengan teror pocong gentayangan di Bojonegoro. Polisi ungkap fakta yang sebenarnya.

Warga Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dilanda keresahan setelah beredar foto pocong di wilayah mereka. Disebut-sebut, sosok pocong tersebut gentayangan di permukiman warga Desa Gunungsari RT 12.

Foto pocong yang viral di media sosial membuat warga resah. Berbagai spekulasi pun muncul di tengah masyarakat, termasuk dugaan modus kejahatan.

Hal ini membuat warga ketakutan untuk melewati jalan poros desa yang diduga menjadi tempat kemunculan pocong. Akibat keresahan ini, pihak kepolisian bergerak untuk mengecek dan mengungkap fakta teror pocong gentayangan di Bojonegoro.

Dari hasil penelusuran polisi, dipastikan bahwa teror pocong yang beredar adalah hoax alias berita bohong.

"Hasil pengecekan yang kami lakukan, informasi tentang adanya teror pocong di wilayah Desa Gunungsari dipastikan tidak benar atau hoaks," ujar Kapolsek Baureno, AKP H Sholeh, dikutip dari Tribun Bojonegoro.

Kemudian, terkait foto pocong yang beredar di tengah masyarakat rupanya adalah foto hasil editan. Seorang warga berinisial D, sengaja membuat foto editan tersebut dan diposting di media sosial.

Alhasil, foto yang diunggah dengan narasi tentang pocong gentayangan di Bojonegoro tersebut dipercaya oleh banyak orang. Hal itu pun membuat keresahan di tengah masyarakat.

Untuk itu, AKP Sholeh mengimbau masyarakat untuk bijak dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi melalui media sosial. Selain itu, setiap orang juga tidak boleh begitu saja menelan mentah-mentah informasi dari media sosial tanpa mengecek kebenarannya.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya," ujarnya.

Lebih lanjut, penyebar hoax teror pocong gentayangan di Bojonegoro, D, akhirnya meminta maaf atas kecerobohoannya. Ia mengakui bahwa foto yang beredar adalah hoax.

 

"Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kecamatan Baureno, karena telah menyebarkan foto hoax tentang pocong di Desa Gunungsari," ucapnya.

Polisi juga menegaskan bahwa saat ini situasi dan kondisi di wilayah Kecamatan Baureno terpantau aman dan kondusif. Pihaknya juga akan meningkatkan patroli malam di sejumlah titik untuk memastikan situasi tetap aman terkendali.

Teror Pocong di Bondowoso

Selain teror pocong gentayangan di Bojonegoro, isu meresahkan serupa juga terjadi di Bondowoso. Warga Dusun Poler, Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal, dihebohkan dengan foto pocong di halaman depan rumah warga.

Dari hasil penelurusan polisi, foto pocong yang beredar juga dipastikan adalah editan alias hoax.

"Foto pocong itu hoax yang di Sumbertengah," ungkap Kasi Humas Polres Bondowoso, Iptu Bobby Dwi Siswanto, dikutip dari Tribun Jatim.

Polisi menyebut bahwa foto tersebut adalah hasil editan dari seorang warga berinisial MS. MS mengaku bahwa dirinya baru belajar mengedit foto dan menyimpan foto tersebut di ponsel pribadinya.

Akan tetapi keesokan harinya, istrinya menemukan foto tersebut di ponselnya dan langsung mengirim foto tersebut kepada kakaknya tanpa sepengetahuannya. Oleh sang kakak, foto pocong tersebut akhirnya dijadikan status di media sosial dan menjadi viral.

"Oleh kakaknya dijadikan status dan sudah tersebar di media sosial," tuturnya.

Terkait berita hoax yang menimbulkan keresahan ini, polisi pun mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi dengan kabar yang belum dipastikan kebenarannya.

"Intinya berita itu hoax dan himbauan kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi berita yang belum benar adanya," pungkasnya.

 

Tanggapan Psikolog

Isu tentang teror pocong gentayangan di Bojonegoro maupun Bondowoso, serta di beberapa daerah lainnya, baru-baru ini meresahkan banyak orang. Isu tersebut seolah terus berulang meski pelaku penyebar hoax telah ditindaklanjuti.

Psikolog sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, memberikan tanggapannya atas fenomena sosial yang terjadi. Menurutnya, tak hanya kepada pelaku, masyarakat seharusnya juga harus dibekali cara berpikir kritis serta literasi digital agar situasi ini tidak kembali terulang.

“Berpikir kritis itu adalah kemampuan orang menerima informasi tapi bisa menganalisanya apakah informasi ini patut diterima, tolak atau ditangguhkan dulu,” ujar Rose, dikutip dari Kompas.com.

Rose berpesan agar masyarakat tidak langsung menyebarluaskan informasi tanpa berpikir lebih dalam mengenai kebenaran informasi tersebut.

“Nah ini kan harusnya orang mikir benar apa tidak dan sebagainya. Jangan kemudian pada satu berita yang sudah betul memang tidak benar itu di-share ke mana lagi, ke mana lagi, sehingga kemudian jadi viral akibatnya gitu,” jelasnya.

Menurut Rose, berita hoax dibuat sensasional untuk menarik perhatian publik dan memancing emosi masyarakat. Seharusnya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk menelaah setiap informasi yang diterima sebelum disebarluaskan.

“Nah ini yang harus dikasih edukasi adalah masyarakat secara umum. Jadi segala sesuatu yang viral dan itu ternyata hoax memang dibuat sedemikian rupa untuk mencari sensasinya,” kata Rose.

“Kita harus punya kemampuan untuk berpikir kritis, kemampuan untuk menerima informasi tidak seperti apa adanya tetapi ditelaah dulu apakah ini patut diterima, apakah ditolak atau kemudian kita tidak memberikan tanggapan apa-apa dulu gitu dan tidak di-share," pungkasnya.

Senada dengan Rose, seorang Sosiolog, Rakhmat Hidayat juga memberikan pandangan serupa. Menurutnya, teror mistis yang menghantui masyarakat tidak cukup berhenti pada pemberian klarifikasi.

“Langkah menghadapi fenomena seperti ini tidak cukup hanya dengan membubarkan atau memberikan klarifikasi,” kata Rakhmat.

 

Ia pun berpendapat bahwa masyarakat seharusnya tidak boleh langsung menyebarkan informasi tanpa verifikasi dan harus membiasakan untuk mengecek fakta.

Fenomena teror pocong gentayangan dan isu mistis ini tak luput dari budaya sensasionalisme di media sosial yang masih tinggi. Oleh sebab itu, diharapkan masyarakat dapat mengelola rasa takut dan berpikir secara rasional agar tidak menimbulkan kepanikan massal.

“Budaya sensasionalisme di media sosial masih tinggi,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Rakhmat juga menyebut bahwa aparat kepolisian memiliki peran penting untuk meredam keresahan masyarakat. Dalam hal ini, petugas harus bergerak cepat untuk menghentikan teror yang terjadi dan menindak pelaku.

“Aparat perlu bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi, menjaga komunikasi terbuka dengan warga, melakukan patroli agar rasa aman terjaga, serta menindak oknum yang sengaja membuat keresahan publik,” ujar dia. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga MinyaKita Tak Sesuai HET, Pemkot Tangsel Siapkan Distribusi Tanpa Perantara
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Gempa M5,1 Guncang Jember, BMKG: Pusat Gempa di Laut
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sumut Terima Pengembalian TKD Terbesar, Tito Karnavian Ungkap Alasannya
• 19 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Resmi Dibentuk, Ini Daftar Lengkap Anggota Panja Revisi UU Polri di DPR
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Aturan Masuk SD Usia 5,5 Tahun Dikritik, Pakar UMM Ingatkan Risiko Anak Stres dan Mogok Sekolah
• 23 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.