Tiga Oknum Peneliti Indonesia Diduga Lakukan Riset Palsu di ISPPD 2026 Denmark, Rifaldy Fajar Klarifikasi

disway.id
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Ramai di media sosial dugaan riset palsu dilakukan peneliti Indonesia dalam konferensi ilmiah ISPPD 2026 Denmark.

Kabar ini mencuat lewat unggahan akun Thread @mandharabrasika yang mengungkap kejanggalan hasil riset yang dipaparkan oleh wanita asal Indonesia.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terogranisir di depan ribuan ilmuwan dunia" tulis keterangan akun Thread @mandharabrasika dikutip Selasa, 26 Mei 2026.

BACA JUGA:LPDP Wajibkan Penerima Beasiswa Ikuti Pembekalan TNI Sebelum Studi

Akun tersebut juga mengungkap bahwa hasil riset tersebut dipaparkan dalam konferensi ilmiah bergengsi untuk para ahli Pneumonia yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark.

Bahkan, dugaan pemalsuan riset tersebut dilakukan dihadapan ribuan ilmuan dunia.

Tak hanya memalsukan riset, oknum tersebut juga memalsukan identitas dengan berganti nama saat presentasi

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat berpresentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag." sambungnya.

Lebih lanjut, akun tersebut juga membongkar bahwa hasil riset yang dipaparkan dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan atau AI.

BACA JUGA:Pramono Matangkan Program LPDP Jakarta, Targetkan Mulai Berjalan pada 2027

"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada." jelasnya.

Kecurangan itu dapat dilihat dari poster-poster yang ditampilkan dalam presentasi  yang dinilai merupakan buatan AI termasuk tulisannya.

"Datanya palsu di generate AI, gambar, dan tulisannya juga," tambahnya.

Ia juga menyoroti lokasi penelitian yang tidak masuk akal, karena mencantumkan beberapa daerah di luar negeri yang mana semua itu dilakukan dari Indonesia.

"Lokasi riset tidak masuk akal. Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India utara. Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik." tandasnya.

  • 1
  • 2
  • 3
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Johny Anggoro, Sapi Bantuan Presiden di DIY, Dipelihara 3,5 Tahun dari Pedhet
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Heroik Evakuasi Pendaki Asal Malaysia yang Jatuh di Jalur Puncak Rinjani
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Mahasiswa di Riau Ditangkap usai Bikin Website Bank Palsu, Korban Rugi hingga Rp1 Miliar
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemprov Jateng Ajukan Kuota 700 Formasi CPNS dan PPPK, Cek Kebutuhannya
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hasil Singapura Open 2026: Sabar/Reza Kunci satu Tempat di Babak 16 Besar Usai Bungkam Wakil Tuan Rumah Straight Game
• 27 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.