Situasi antara Amerika Serikat dan Iran mempengaruhi ekonomi global. Berbagai tanda menunjukkan bahwa perundingan damai antara kedua pihak berjalan sangat lancar. Meskipun Presiden Trump mengatakan tidak terburu-buru mencapai kesepakatan, sejumlah pejabat internal AS mengungkapkan bahwa Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium, dan Selat Hormuz diperkirakan akan segera dibuka kembali. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga secara terbuka mengatakan bahwa kabar baik akan segera datang.
EtIndonesia. Perjanjian gencatan senjata AS-Iran kini memasuki tahap penting. Pada 24 Mei, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji bahwa Iran tidak akan lagi mengembangkan senjata nuklir, yang merupakan tuntutan utama Presiden Trump terhadap Iran.
“Sekarang kami juga siap menjamin kepada dunia bahwa kami tidak mencari senjata nuklir dan tidak menginginkan ketidakstabilan kawasan,” ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Trump menulis di media sosial bahwa perundingan berlangsung secara tertib dan konstruktif. Ia mengatakan telah memberi tahu perwakilan AS agar tidak terburu-buru mencapai kesepakatan karena waktu berada di pihak Amerika. Sebelum kesepakatan dicapai, diverifikasi, dan ditandatangani secara resmi, pembatasan terhadap jalur laut Iran masih akan diberlakukan.
Selain kemajuan dalam isu nuklir, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga memberi sinyal bahwa akan ada kabar baik terkait Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Dalam 48 jam terakhir, kami bersama mitra-mitra di kawasan Teluk telah membuat kemajuan dalam kerangka solusi. Jika kerangka ini akhirnya berhasil ditandatangani, bukan hanya akan memastikan Selat Hormuz sepenuhnya terbuka — maksud saya benar-benar terbuka tanpa biaya transit — tetapi juga menyelesaikan masalah utama ambisi nuklir Iran.”
Sebuah video time-lapse yang direkam pada hari Minggu menunjukkan kapal-kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz.
Menurut laporan, dalam 24 jam terakhir setidaknya 33 kapal telah mendapat izin dari otoritas Iran untuk melewati selat tersebut. Namun angka ini masih jauh di bawah tingkat lalu lintas sebelum konflik.
Seorang penasihat militer Iran bersikeras bahwa pengendalian Selat Hormuz adalah “hak sah” Iran.
Rubio menanggapi: “Itu adalah jalur perairan internasional. Apa yang mereka (Iran) lakukan sekarang sebenarnya adalah mengancam dan merusak kapal dagang yang menggunakan jalur internasional tersebut. Dalam kerangka hukum internasional apa pun yang berlaku bagi kami, tindakan itu ilegal.”
Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS dan Iran pada dasarnya telah mencapai sebuah nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengonfirmasi hal itu pada tanggal 24 Mei. Ia turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Trump karena dinilai dengan teguh memenuhi komitmennya terhadap Israel.
Mengenai isi kesepakatan, pejabat AS mengungkapkan bahwa kedua pihak akan menandatangani nota kesepahaman selama 60 hari. Selama periode itu, selain melanjutkan gencatan senjata, Selat Hormuz akan tetap terbuka tanpa pungutan biaya. Iran juga akan membersihkan seluruh ranjau laut yang telah dipasang guna menjamin keamanan pelayaran.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberikan pengecualian sebagian sanksi sehingga Iran dapat kembali menjual minyaknya.
Pejabat lain mengatakan bahwa Iran berharap dana mereka segera dicairkan dan sanksi dicabut secara permanen. Namun pihak AS menegaskan bahwa permintaan tersebut hanya akan dipertimbangkan setelah Iran benar-benar menunjukkan langkah konkret.
Artinya, dalam 60 hari setelah nota kesepahaman berlaku, apabila Iran memenuhi komitmennya, kedua pihak akan melanjutkan negosiasi mengenai pencairan dana dan pencabutan sanksi.
Namun demikian, belum dapat dipastikan apakah kesepakatan final benar-benar akan ditandatangani. Garda Revolusi Iran pada hari Minggu mengeluarkan pernyataan bahwa AS harus segera mencairkan sebagian dana Iran, jika tidak maka kesepakatan bisa dibatalkan.
Pada saat yang sama, Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Eyal Zamir, menyatakan dengan tegas bahwa militer Israel telah siap untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Laporan reporter NTDTV, Li Jiayin, dari Amerika Serikat.





