Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana kekacauan melanda Pulau Sumatera akibat blackout?
- Mengapa sampai korban tewas berjatuhan di sejumlah daerah akibat listrik mati?
- Apa sesungguhnya penyebab listrik mati di Sumatera?
- Bagaimana PLN menindaklanjuti masalah blackout ini?
- Bagaimana agar pemadaman tak berulang kembali?
Blackout atau listrik lumpuh total melanda Pulau Sumatera sejak Jumat hingga Minggu (22-24/5/2026). Masyarakat mulai dari bagian utara hingga selatan pulau itu terpukul karena listrik mati hingga puluhan jam dalam sehari. Dampaknya merembet cepat ke berbagai sektor kehidupan.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) tak beroperasi sehingga antrean di SPBU sangat panjang. Begitu pula sejumlah mesin ATM tak berfungsi.
Sejumlah titik lampu lalu lintas padam hingga menimbulkan kemacetan parah. Di beberapa persimpangan, arus lalu lintas bahkan sampai stagnan berjam-jam.
Ada warga nekat membawa blender ke ATM untuk menumpang mencolok listrik agar bisa menggiling bumbu dapur. Para ibu yang mempunyai bayi terpaksa menginap di hotel karena bayinya tak berhenti menangis menahan panas di rumah.
Ada pelaku UMKM yang terpaksa berburu genset tetapi harganya sudah berkali lipat dari harga normal. Perburuan lilin di warung-warung pun terjadi. Banyak warga tak kedapatan lilin karena stoknya ludes.
Ibu-ibu di Deli Serdang menunjukkan stok pangan segar akhirnya membusuk di lemari pendingin. Stok ikan, daging, buah, dan sayur di kulkas itu terpaksa dibuang setelah lebih dari 24 jam listrik sama sekali tidak menyala.
Usaha ikan hias pun terpukul karena ikan-ikan di akuarium mati. Peternak dan petambak menjerit karena ayam-ayam mati di kandang dan ikan mati di kolam.
Tak ketinggalan industri hilir ikut terpukul. Beberapa pabrik karet remah berhenti beroperasi saat pemadaman terjadi. Operasionalisasi industri karet remah menggunakan listrik PLN. Pabrik tak berani menanggung risiko rugi jika menggunakan genset karena harga solar industri sekitar Rp 30.000 per liter. Jika tetap beropeerasi dengan genset, biaya pengolahan bengkak lebih dari dua kali lipat.
Gangguan listrik kian membebani para penyintas bencana Sumatera. Masyarakat dilanda panik saat listrik mati serentak. Warga mengira listrik padam dipicu terjadi bencana baru.
Yang paling memilukan, gangguan kelistrikan di Sumatera berdampak pada empat warga tewas dan dua warga dalam kondisi kritis di Sumut dan Sumbar.
Peristiwa tragis itu terjadi saat pemadaman listrik massal melanda, banyak warga menggunakan genset sebagai sumber listrik darurat. Namun, genset yang dinyalakan di ruang tertutup memicu keracunan karbon monoksida (CO), gas beracun yang tidak berbau dan mematikan.
Di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, empat pegawai sebuah toko aksesori ponsel ditemukan tak sadarkan diri di dalam ruko di Kecamatan Air Putih. Saat itu listrik sedang padam dan genset diduga tetap menyala di dalam bangunan yang tertutup rapat. Dua korban meninggal dan dua lainnya dalam kondisi kritis. Keduanya dirawat intensif di rumah sakit.
Sementara di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tiga remaja masuk ke ruang sekretariat masjid ketika listrik padam pada Jumat malam. Mereka menyalakan genset masjid untuk mengisi daya telepon genggam dan berkumpul di ruangan itu.
Tanpa disadari, asap genset memenuhi ruangan tertutup. Dua remaja berusia 15 tahun meninggal. Satu remaja lain berusia 16 tahun dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit.
Pihak PLN menganalisis bahwa sistem kelistrikan di sebagian besar Sumatera lumpuh total akibat gangguan di jalur transmisi 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi. Gangguan itu karena cuaca buruk. Gangguan transmisi menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera bagian tengah terputus dari sistem Sumbagut.
Hal inilah membuat sistem Sumbagut mengalami shock karena putusnya pasokan ataupun beban kelistrikan secara tiba-tiba. Akibatnya, pembangkit listrik di Sumbagut langsung secara otomatis keluar dari sistem. Pembangkitnya juga secara otomatis padam.
Pembangkit listrik otomatis padam karena menanggung beban yang sangat besar. Pembangkit lainnya padam karena kehilangan beban sehingga tegangan naik dan otomatis padam.
Padamnya sejumlah pembangkit listrik menyebabkan efek domino di seluruh sistem. Karena itu, semua pembangkit di sistem tersebut padam dan menimbulkan gangguan listrik di Aceh, Medan, Riau, Kepri, hingga Sumbar.
Tidak hanya berdampak di Sumbagut, efek pemadaman juga berlangsung di wilayah Sumbagsel, mulai dari Jambi, Sumsel, dan Bengkulu.
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan, PLN melakukan evaluasi menyeluruh kelistrikan Sumatera agar kejadian blackout tidak terulang lagi. Pada dua jam pertama setelah blackout, PLN memeriksa dan memastikan seluruh gardu induk dalam kondisi baik. Berikutnya, PLN mulai menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga diesel dan gas. Dalam lima jam pertama, menurut Edwin, PLN sudah menghidupkan 20-30 persen listrik di Sumbagut.
Listrik menyala semua di Sumbagut pada Minggu (24/5/2026) pukul 06.15 WIB. Namun, pemadaman bergilir masih tetap dilakukan karena masih ada kekurangan pasokan listrik 200-300 megawatt akibat belum semua pembangkit listrik beroperasi, khususnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batubara.
Sistem kelistrikan Sumbagut ditopang oleh dua jalur utama transmisi yang menyalurkan daya listrik dari pembangkit-pembangkit di Sumatera bagian selatan ke Sumbagut, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV. Dua koridor saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) itu putus total pada Jumat lalu pukul 18.44 diduga karena cuaca buruk.
Untuk mencegah berulangnya kejadian serupa, PLN akan melakukan pengecekan berulang untuk melihat kondisi sambungan transmisi dengan menggunakan perangkat sinar inframerah. Jika kondisi kabel sudah retas, akan muncul perbedaan suhu. Dalam jangka panjang, PLN akan memperkuat sistem transmisi listrik di Sumatera.
Kelumpuhan listrik total di Sumatera adalah tragedi. Wilayah Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Sumsel, Bengkulu, hingga Jambi tak sekadar gelap gulita. Kerugian ekonomi dan sosial yang ditanggung masyarakat sangat besar. Banyak pihak menilai PLN dan pemerintah tak siap merespons blackout sehingga menimbulkan dampak kerugian yang sangat dalam.
”Kalau dihitung kerugian orang per orang akibat padam listrik di Sumatera bagian utara, nilainya pasti sangat besar,” kata ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Murbanto Sinaga.
Murbanto menyebut, blackout listrik Sumatera terlalu mahal jika berlalu begitu saja tanpa pembelajaran apa pun bagi PLN, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Karena itu, harus ada kebijakan pencegahan dan mitigasi tindakan darurat demi mengurangi dampak kerugian. Selain itu, harus ada pula langkah jangka panjang yang dipersiapkan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.





