Menyambut Pindapata, Persembahan Penuh Makna di Trotoar Malioboro

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jasmiko (42), menanti dengan sabar di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (26/5/2026) pagi. Tumpukan dus berisi air mineral dan mie instan serta plastik berisi puluhan telur rebus yang dibawanya dari rumah diletakkan di salah satu bangku trotoar.

Saat yang dinanti-nanti telah tampak dari kejauhan, Jasmiko langsung bergerak mengambil posisi berlutut di atas trotoar. Rombongan bhikku atau biksu yang ditunggunya itu pun melintas tepat di hadapan Jasmiko.

Tanpa aba-aba, Jasmiko langsung menyerahkan botol-botol air mineral dan makanan tadi ke dalam patta atau mangkuk logam yang dibawa setiap biksu. Sesekali Jasmiko memberikan tanda hormat dengan kedua tangannya, yang dibalas dengan sikap serupa oleh para biksu.

Para biksu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) itu sedang melakukan tradisi pindapata atau berjalan kaki mengumpulkan persembahan makanan dan minuman dari umat. Sebanyak 57 biksu lintas negara itu sedang dalam perjalanan menuju Candi Borobudur untuk mengikuti Perayaan Waisak 2026 pada 31 Mei nanti.

Para biksu menyinggahi Kota Yogyakarta usai perjalanan ratusan kilometer yang dimulai dari Bali pada 9 Mei lalu. Ini sekaligus menjadi pertama kalinya Yogyakarta dilintasi rombongan biksu yang setiap tahun rutin menggelar perjalanan spiritual jelang Waisak tersebut.

"Sebagai umat Buddha, saya ikut memeriahkan serta berusaha memberikan dana makan tersebut," ujar Jasmiko.

Baca JugaPindapata dan Semangat Perdamaian yang Disebarkan

Bukan hanya Jasmiko, puluhan umat Buddha lainnya juga melakukan hal serupa. Tradisi ini sekaligus menyimbolkan hubungan erat antara umat dan biksu. Umat menanti sejak matahari belum tinggi di sepanjang Jalan Malioboro untuk memberikan berbagai jenis makanan dan minuman kepada biksu yang lewat.

Pasangan suami-istri Marko (38) dan Sherly (37), misalnya, menyiapkan puluhan biskuit kemasan dan minuman isotonik. Makanan dan minuman itu dibawa dalam sebuah koper besar. "Supaya mudah membawanya," ujar Sherly.

Tak butuh waktu lama, satu per satu isi koper itu berpindah ke mangkuk para biksu. Wajah suami-istri itu pun tampak bahagia. "Ini pertama kalinya saya ikut pindapata. Sebelumnya hanya lihat saja di tempat lain," tutur Sherly.

Dia pun memaknai tradisi ini sebagai wujud berbagi kepada sesama. Hal tersebut diiringi harapan Waisak tahun ini membawa kebahagiaan bagi semua makhuk dan kebaikan bagi bangsa Indonesia.

Bumi kita cuma satu, jadi harus dijaga dan dirawat baik-baik.

Sementara itu, Jasmiko mengungkapkan, pindapata ini menjadi berkah tersendiri bagi umat dalam menyokong pertapaan para biksu. Bagi diri pribadinya, ini merupakan salah satu praktik pelepasan kemelekatan, seperti harta yang bersifat duniawi, untuk kebajikan yang lebih tinggi.

Dia pun berharap pada momen perayaan Waisak tahun ini perdamaian dunia, yang saat ini tengah diuji dengan konflik, bisa kembali pulih. "Bumi kita cuma satu, jadi harus dijaga dan dirawat baik-baik," tuturnya.

Pada Senin (25/5/2026) sore, rombongan biksu disambut oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X di kompleks Kantor Gubernur DIY, Kota Yogyakarta.

Sultan menyebut, esensi perjalanan biksu lintas negara ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah manifesto kemanusiaan yang kuat.

Baca JugaRitual "Thudong" Para Biksu Disambut Wajah Ramah Indonesia

"Ia adalah simbolisasi langkah maju, menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat, melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama," ujar Sultan.

Lebih lanjut, Sultan juga mengingatkan masyarakat luas mengenai hakikat penciptaan manusia yang beragam demi mempererat persaudaraan global. "Jadi, keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa," ucap Sultan.

Ketua Panitia IWFP 2026 Wilayah DIY, Tandean Harry Setio, mengatakan, IWFP merupakan sebuah perjalanan spiritual dan aksi damai yang dilaksanakan dalam rangka menyambut rangkaian Peringatan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang puncaknya berlangsung pada 31 Mei 2026. 

Kegiatan itu juga bertujuan menyampaikan pesan-pesan perdamaian, memperkuat nilai-nilai toleransi, serta memperat persaudaraan antarumat beragama dan antarbangsa.

Baca JugaWaisak, Pesan Damai di Bumi

Tandean menyebut, kegiatan itu diikuti 57 biksu dari beberapa negara di Asia Tenggara, yaitu Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia. Mereka berjalan kaki dari Bali, lalu melintasi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY, sebelum akhirnya menuju Candi Borobudur.

"Selama perjalanan berlangsung, para biksu melakukan praktik spiritual berjalan kaki sebagai bentuk disiplin spiritual sekaligus simbol penyebaran pesan damai dan welas asih kepada masyarakat," ujar Tandean. 

Ketua IWFP 2026 Pusat Tosin mengatakan, dari 57 biksu yang mengikuti kegiatan itu, sebanyak 43 orang berasal dari Thailand, 4 orang dari Malaysia, 3 orang dari Laos, dan 7 orang dari Indonesia. Biksu termuda berusia 23 tahun, sedangkan yang tertua berusia 67 tahun. 

"Sepanjang perjalanan, walaupun matahari panas dan kehujanan, mereka lalui. Kaki lecet sampai luka mereka tidak putus asa, tetap berjalan sampai hari ini sudah ada di Yogyakarta," kata Tosin. 

Meski kakinya terluka dan baru saja dijahit, para biksu itu pun terus melanjutkan perjalanan.

Dia menambahkan, saat malam hari, terkadang para biksu itu harus menjahit kaki kawannya yang terluka selama perjalanan. Meski kakinya terluka dan baru saja dijahit, para biksu itu pun terus melanjutkan perjalanan.

"Kalau saya amati, di kakinya itu bisa ada tiga sampai lima jahitan. Ini sangat luar biasa," tuturnya. 

Menurut Tosin, setiap hari, para biksu itu berjalan 30-40 kilometer dengan waktu perjalanan 8-10 jam. Dia menyebut, para biksu itu datang ke Bali pada 7 Mei 2026, lalu memulai perjalanan pada 9 Mei.

Mereka dijadwalkan sampai ke Candi Borobudur pada Kamis (28/5). Selama perjalanan, para biksu itu disambut oleh berbagai elemen masyarakat dari berbagai usia dan agama.

"Semua elemen masyarakat, baik anak kecil, remaja, dewasa, orang tua, bahkan yang sakit, mereka sangat senang (menyambut para biksu) dan kadang memberikan minum. Semua bergembira, bukan hanya dari satu agama. Ada yang dari Islam, Hindu, Kristen, dan Buddhis otomatis," ungkap Tosin.

Baca JugaThudong, Waisak dan Branding Borobudur sebagai Axis Mundi Spiritual


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kunjungan Prabowo ke Prancis Direncanakan sejak Tahun Lalu
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ini Aturan Penggunaan Lampu Hazard yang Benar Saat Berkendara
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Al Izhar Cendekia Makassar Terima Murid Baru! Mulai dari TK hingga SMA, Cek Jadwal Pendaftarannya
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Sekarang Kesulitan Ekonomi Sampe Mau Jual Mata, Calvin Dores Berangan Ciptakan Lapangan Kerja
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Hercules Laporkan Balik Anak Penulis di Depok Buntut Tuduhan Penyekapan
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.