JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan perlindungan terhadap pencipta dan mewajibkan perusahaan kecerdasan artifisial atau artificial Intelligence (AI) untuk jujur serta transparan dalam menggunakan data kreasi manusia.
"Sistem AI mengkonsumsi karya manusia. Tadi kami sampaikan, yang dikonsumsinya adalah karya manusia dalam skala industri tanpa kompensasi adalah bentuk eksploitasi yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum maupun etika," kata Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI, Hermansyah Siregar dalam RDPU dengan Komisi XIII DPR, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Mengenal Jegog, Gamelan Bambu Berstatus Kekayaan Intelektual Komunal Asli Jembrana
Hermansyah mengatakan, pelindungan terhadap para kreator lokal bukanlah sebuah pilihan melainkan kewajiban negara.
"Jadi perlindungan ini bukan opsi, ia adalah mandat konstitusional. Perusahaan AI ketika menggunakan data harus jujur dan transparan, karena yang digunakan adalah karya kreasi manusia," tegasnya.
Hermasnyah menyatakan sikap pemerintah tidak anti terhadap perkembangan teknologi.
Menurutnya AI memiliki potensi strategis yang besar bagi masa depan bangsa, asal tetap berjalan di atas koridor hukum yang jelas.
"Pemerintah tidak mengambil posisi anti-teknologi. AI adalah keniscayaan sejarah dengan potensi strategis bagi Indonesia. Namun inovasi tanpa rambu akan menghasilkan distorsi, bukan kemajuan sejati," ungkapnya.
Baca juga: Sah, Kesenian Jegog Jadi Kekayaan Intelektual Komunal Asli Jembrana Bali
Ia menyampaikan, pemerintah saat ini tengah menggodok sejumlah langkah strategis.
Salah satunya adalah penyusunan regulasi yang sinkron antara RUU Hak Cipta dengan Rancangan Perpres Tata Kelola AI yang diinisiasi oleh Kementerian Komdigi.
Hermansyah mengingatkan bahwa teknologi mutakhir seperti AI harus diposisikan sebagai alat bantu yang tunduk pada nilai kemanusiaan, bukan malah justru menggerus hak para pencipta.
"Bagaimanapun juga tetap kreator manusia sebagai pencipta dan kita memandang AI sebagai alat bantu dan jangan sampai menggerus karya kreasi manusia," ungkapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




