Oleh: Sekjen Partai Keadilan Sejahtera Muhammad Kholid
REPUBLIKA.CO.ID,Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha dengan gema takbir yang memenuhi langit dan hati manusia. Di balik penyembelihan hewan kurban dan suasana kebersamaan, Idul Adha sesungguhnya menyimpan makna spiritual yang sangat dalam.
Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi momentum refleksi tentang iman, pengorbanan, keikhlasan, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta sesamanya. Idul Adha mengajarkan bahwa cinta kepada Allah terkadang menuntut manusia untuk rela melepaskan sesuatu yang paling dicintainya.
Baca Juga
Baru Semester 4, Mahasiswa Bisnis Digital UNM Sudah Jadi Head of Creative
Perang dan Ketidakpastian Global Bikin Pengusaha RI Lebih Berhati-hati
Rupiah Melemah ke Rp 17.749 per Dolar AS, Permintaan Aset Safe Haven Meningkat
Hakikat Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, ujian itu bukan sekadar ujian fisik, tetapi ujian hati dan keimanan. Sebagai seorang ayah, tentu Ibrahim memiliki cinta yang sangat besar kepada Ismail. Namun, cintanya kepada Allah berada di atas segala-galanya.
Yang membuat kisah ini semakin agung adalah ketulusan Nabi Ismail. Ia tidak melawan, tidak marah, dan tidak memberontak. Dengan penuh keimanan, ia berkata:
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Dialog ini menunjukkan bahwa pengorbanan sejati lahir dari iman dan keikhlasan. Dan, ketika keduanya telah menunjukkan ketundukan total kepada Allah, maka Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan kurban.
Makna pengorbanan
Hari ini, manusia sering memahami pengorbanan hanya sebatas materi. Padahal, Idul Adha mengajarkan pengorbanan yang jauh lebih luas. Mengorbankan ego demi kebaikan, mengorbankan kesombongan demi kerendahan hati, mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama, bahkan mengorbankan kenyamanan demi kebenaran.
Di zaman modern, manusia sering ingin mendapatkan banyak hal tanpa mau berkorban. Padahal, tidak ada kemuliaan yang lahir tanpa kesungguhan dan pengorbanan.
Seorang ibu berkorban demi anak-anaknya. Seorang ayah berjuang demi keluarganya. Guru mengorbankan waktu dan tenaga demi murid-muridnya. Pemimpin yang baik rela mengutamakan kepentingan rakyat di atas dirinya sendiri.
Karena itu, Idul Adha sesungguhnya berbicara tentang semangat memberi, bukan hanya menerima.
Suasana transaksi jual dan beli kambing di pasar penanggalan Jawa (Pasaran Pon), Pasar Hewan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/5/2026). Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskeswan, RPH dan Pasar Hewan Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah memperketat pengawasan kesehatan hewan ternak, terutama sapi, menjelang Idul Adha 1447 Hijriah di Pasar Hewan Ambarawa guna memastikan hewan yang diperjualbelikan sehat dan bebas dari penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi dan kerbau. - (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.