BEKASI, KOMPAS.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi mengimbau warga Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, untuk tidak menggunakan air kali tercemar dalam aktivitas sehari-hari.
Imbauan itu disampaikan menyusul kondisi aliran kali yang menghitam dan diduga tercemar limbah domestik maupun aktivitas industri di sekitar kawasan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Arief Kurnia mengatakan, penggunaan air kali yang kotor dikhawatirkan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan meski warga merasa belum mengalami keluhan serius.
“Masyarakat diminta tidak menggunakan air kali untuk aktivitas sehari-hari. Karena dampak buruk pasti ada. Cuma menunggu waktu terjadinya,” ujar Arief saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Mandi-Cuci Pakai Air Kali Tercemar, Warga Cikarang Bekasi Alami Gatal hingga Diare
Menurut dia, masyarakat seharusnya mulai meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya penggunaan air bersih demi mencegah penyakit.
“Tentunya gunakan air bersih sesuai kebutuhan,” kata dia.
Sementara itu, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi Dedi Kurniawan mengatakan, aliran kali di kawasan Kampung Cabang Pintu Air sebenarnya rutin dibersihkan setiap pekan oleh petugas UPTD Wilayah setempat.
“Di pintu air PNR itu reguler, kami biasa bersihkan sampah dari UPTD Wilayah 4. Hampir tiap minggu itu kami bersihkan,” ujar Dedi.
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Lulu Tri Rahayu (38) saat sedang mencuci pakaian di aliran kali Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (22/5/2026).
Meski demikian, ia menilai persoalan pencemaran di kali tersebut tidak sesederhana hanya membersihkan sampah karena sumber pencemaran berasal dari berbagai sektor.
Menurut Dedi, kondisi kali mulai berubah sejak kawasan tersebut dipadati permukiman dan industri pada awal tahun 2000-an.
“Masuk era 2004 sudah mulai banyak perumahan dan industri outfall-nya langsung ke kali tersebut,” kata dia.
Ia menjelaskan, limbah domestik dari rumah tangga menjadi salah satu penyebab utama warna air berubah hitam.
“Dari cuci piring, air beras, semuanya langsung masuk ke kali. Makanya warnanya jadi hitam dan enggak bening,” ujar Dedi.
Baca juga: Terpaksa Pakai Air Kali Bekasi yang Keruh, Warga: Enggak Ada Uang Beli Air Bersih
Selain limbah rumah tangga, DLH Kabupaten Bekasi juga mengaku rutin melakukan pengawasan terhadap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) milik industri.
“Sektor industri sendiri sebenarnya sudah kami awasi reguler untuk baku mutu air limbahnya. Cuma sumber pencemarnya kanenggak sesederhana itu,” kata dia.