Krisis Energi Mengancam, Penjualan Mobil Listrik Global Melaju

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Saat harga minyak melonjak akibat konflik di Timur Tengah, pertumbuhan mobil listrik justru melaju kencang. Bahkan, hampir satu dari tiga mobil yang terjual di dunia tahun ini diperkirakan berbasis listrik. Meski demikian, pertumbuhan kendaraan listrik masih menghadapi tantangan.

Dalam tujuh tahun terakhir, tren penjualan mobil listrik di dunia terus meningkat. Pada 2019 tercatat sekitar 2 juta mobil listrik terjual. Jumlah itu termasuk mobil bertenaga baterai, gabungan antara bensin dan baterai, hingga yang sepenuhnya digerakkan mesin listrik.

Pada 2021 dan 2023, penjualan mobil listrik global melonjak dengan jumlah masing-masing sekitar 6 juta unit dan 14 juta unit. Bahkan, laporan Global EV Outlook 2026 bertajuk ”Growing Sales Amid an Energy Crisis” mencatat penjualan mobil listrik tahun 2025 sekitar 20 juta unit.

Laporan tahunan Badan Energi Internasional (IEA), organisasi yang fokus pada transisi energi, ini telah dirilis pada Rabu (20/5/2026). Laporan ini juga mencatat, penjualan mobil listrik tahun lalu menyumbang 25 persen atau seperempat dari total mobil yang terjual di seluruh dunia.

”Penjualan mobil listrik bahkan mencetak rekor baru di hampir 100 negara tahun lalu. Meningkatnya popularitas EV (kendaraan listrik) telah menandai perubahan besar bagi pasar mobil dan sistem energi secara keseluruhan,” ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam rilis yang dikutip Kompas, Minggu (24/5/2026).

Di Uni Eropa (UE), misalnya, sebanyak 24 negara dari total 27 negara anggota UE mencatatkan rekor penjualan mobil listrik selama 13 tahun terakhir. Tahun lalu, sebanyak 4,1 juta mobil listrik terjual di Eropa atau tumbuh sekitar 1 juta unit. Di Jerman, sebanyak 850.000 unit kendaraan terjual. 

Baca JugaMenikmati Berkah Mobil Listrik

Peningkatan penjualan mobil listrik juga terjadi di Amerika Latin, Timur Tengah, hingga wilayah Asia. Bahkan, Asia Tenggara menjadi kawasan dengan peningkatan penyebaran mobil listrik terbesar di dunia tahun lalu, dengan penjualan dua kali lipat dibandingkan 2024 atau 500.000 unit.

Vietnam, Indonesia, dan Thailand memimpin pertumbuhan penjualan kendaraan listrik di kawasan ini. Kebijakan insentif, perluasan manufaktur domestik, serta kondisi perdagangan yang menguntungkan untuk impor, memicu lonjakan penjualan mobil di Asia Tenggara. 

Dari sisi produksi, produsen otomotif China memasok 60 persen dari mobil listrik yang terjual di seluruh dunia. Produsen terbesar selanjutnya adalah Eropa dan Amerika Utara dengan masing-masing sekitar 15 persen penjualan kendaraan listrik global.

Pertumbuhan berlanjut

Secara global, pertumbuhan penjualan mobil listrik melambat 8 persen pada kuartal I-2026 jika dibandingkan periode serupa tahun lalu. Hal ini terutama akibat penurunan penjualan di China dan AS. Perubahan kebijakan di kedua negara itu jadi penyebabnya.

Di China, produsen utama mobil listrik, pemerintah merevisi insentif untuk skema tukar tambah kendaraan. Sebagai gambaran, tahun lalu, mobil listrik berbasis baterai dengan harga 15.000 dolar AS dapat dibeli dengan harga 12.000 dolar AS jika konsumen menukarkan dengan mobil berbahan bensin.

Baca JugaMobil Listrik China dan Tantangan Membangun Industri Kendaraan Listrik

Kini, dengan skema tukar tambah baru, pembeli harus mengeluarkan 14.000 dolar AS untuk membeli mobil listrik berlabel 15.000 dolar AS. Kondisi ini, menurut laporan IEA, telah membuat konsumen di China memilih menunda pembelian mobil listrik pada tahun ini.

Di AS, berakhirnya kredit pajak federal sejak kuartal III-2025 memicu penurunan penjualan mobil listrik. Sebelumnya, kebijakan itu memberikan insentif pemotongan pajak mobil listrik hingga 7.500 dolar AS. Meski demikian, mobil listrik menyumbang 6-7 persen dari total penjualan mobil.  

Selain AS dan China, perdagangan mobil listrik di kawasan lain justru tumbuh pada kuartal pertama tahun ini. Di Eropa, penjualan tumbuh 30 persen seiring pengetatan standar emisi karbon dioksida (CO2) untuk kendaraan. Di Amerika Latin, pertumbuhannya mencapai 75 persen.

Di Asia Pasifik, kecuali China, pertumbuhannya menyentuh 80 persen. Laporan IEA pun memperkirakan, penjualan mobil listrik tahun ini mencapai 23 juta unit atau 28-30 persen dari penjualan mobil global. Artinya, hampir satu dari tiga mobil yang terjual di dunia tahun ini adalah mobil listrik.

Prediksi penjualan mobil listrik itu bersumber dari analisis data milik sejumlah lembaga. Beberapa di antaranya adalah Asosiasi Produsen Mobil Eropa (European Automobile Manufacturers’ Association/ACEA) hingga data jumlah kendaraan listrik dari perwakilan pemerintah.

Tren pertumbuhan kendaraan listrik ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah setelah eskalasi konflik antara AS-Israel versus Iran pada akhir Februari lalu. Harga minyak pun sempat menyentuh 100 dolar AS per barel, atau naik 50 persen dibandingkan sebelum perang di Timur Tengah.

Kondisi (pertumbuhan mobil listrik) saat ini memberikan sedikit kelegaan di tengah guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

”Kondisi (pertumbuhan mobil listrik) saat ini memberikan sedikit kelegaan di tengah guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah,” ujar Birol. Konsumen mobil listrik kini tidak perlu khawatir terhadap lonjakan harga minyak dunia karena kendaraan mereka tidak memakai bensin.

Birol optimistis, kendaraan listrik semakin diminati karena lebih hemat dibandingkan mobil konvensional. ”Ke depan, penurunan harga baterai yang telah kita lihat dan respons kebijakan tepat terhadap krisis energi global akan memberikan momentum lebih lanjut bagi pasar EV,” katanya.

Menurut dia, mobil listrik kini menjadi salah satu solusi dalam menghadapi krisis energi, yang telah beberapa kali terjadi. Pada 1970-an, umpamanya, dunia merespons krisis energi dengan kebijakan standar efisiensi bahan bakar. Kini, beberapa negara memacu penggunaan mobil listrik.

Pihaknya mencatat, kendaraan listrik telah mengurangi konsumsi minyak 1,7 juta barel per hari secara global. Laporan IEA pun memprediksi pada 2035, kendaraan listrik (tidak termasuk sepeda motor dua dan tiga roda) diproyeksikan melonjak hingga 510 juta unit secara global atau naik dari hampir 80 juta saat ini.

Kondisi Indonesia

Di Indonesia, penjualan kendaraan listrik menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal I-2026, IEA melaporkan, penjualan mobil listrik mencapai 30.000 unit atau melonjak hingga 90 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu. Kondisi ini diprediksi masih berlanjut bulan April meski kontribusinya masih berkisar 15 persen dari total penjualan mobil di dalam negeri.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko menilai, lonjakan harga minyak dunia menjadi momentum bagi pertumbuhan mobil listrik. Namun, momentum saja tidak cukup. Industri membutuhkan adanya insentif fiskal dari pemerintah.  

Dalam catatan Kompas, beberapa insentif untuk mobil listrik adalah bea masuk 0 persen untuk impor mobil listrik utuh (completely built up/CBU), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah sebesar 10 persen, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen. Namun, sebagian besar insentif fiskal itu berakhir pada 31 Desember 2025.

Ia mengusulkan, intervensi fiskal fokus pada tiga hal. Pertama, penguatan industri baterai dalam negeri melalui insentif investasi dan produksi lokal. Kedua, dukungan hilirisasi sumber daya alam agar bahan baku utama diproses di dalam negeri. Ketiga, insentif bagi impor komponen strategis yang belum bisa diproduksi di dalam negeri (Kompas, 15/4/2026).

Head of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio menilai, lonjakan penjualan mobil listrik di Indonesia juga tidak terlepas dari upaya produsen mempercepat impor sebelum insentif berakhir 2025. Persediaan kendaraan itu lalu dijual masif pada kuartal pertama dan kedua.

Faktor lainnya adalah munculnya beragam merek mobil listrik yang memberikan opsi bagi konsumen, termasuk dalam memilih harga. Ekosistem kendaraan listrik pun mulai terbentuk, seperti kehadiran tempat pengisian kendaraan listrik untuk umum hingga layanan purnajual.

Meski demikian, lanjut Andry, pertumbuhan mobil listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan produksi domestik, termasuk baterai yang sesuai dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), hingga regulasi yang cenderung berubah-ubah.

Ia mencontohkan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026 yang menghapuskan pajak 0 persen secara otomatis untuk kendaraan listrik. Meskipun kewenangan menarik pajak diserahkan kepada pemerintah daerah, regulasi itu menunjukkan ketidakpastian kebijakan.

Perlu diingat, biaya terbesar yang harus ditanggung industri adalah ketidakpastian akibat kebijakan yang berubah-ubah.

”Perlu diingat, biaya terbesar yang harus ditanggung industri adalah ketidakpastian akibat kebijakan yang berubah-ubah,” ucap Andry, saat dihubungi pada Jumat (22/5/2026). Persoalan lainnya ialah biaya bahan baku kendaraan listrik yang dapat melonjak seiring ancaman krisis energi global.

Pihaknya pun mendorong pemerintah untuk mengantisipasi berbagai masalah tersebut. ”Jika ini tidak diselesaikan, adopsi kendaraan listrik, khususnya mobil listrik, akan terhambat di masa yang akan datang,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Perpanjang Kebijakan WFH ASN 2 Bulan ke Depan, Ini Alasannya
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Sumut Terima Pengembalian TKD Terbesar, Tito Karnavian Ungkap Alasannya
• 21 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Catat! Ini 7 Amalan Sunnah Idul Adha yang Dianjurkan Rasulullah SAW
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Segar Kumala Indonesia (BUAH) Segera Bagikan Dividen Final Rp25 Miliar
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Rumah di Bogor Kebakaran Saat Masak Ketupat Idul Adha, Dua Orang Terluka
• 5 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.