Rumah yang bukan lagi rumah bagi para pengungsi Suriah

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Daraa (ANTARA) - Umm Abdulrahman menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pengasingan di Yordania sambil memupuk mimpi untuk pulang ke negaranya, Suriah.

Ketika akhirnya berhasil pulang, dia mendapati sebuah blok apartemen setengah runtuh dengan dinding yang retak, tulangan baja yang terekspos, dan ruang-ruang yang dibiarkan terbuka diterpa angin.

Wanita itu tinggal di bangunan tersebut bersama 12 anggota keluarganya. Tempat itu merupakan satu-satunya hunian yang terjangkau bagi mereka, atau dengan kata lain, tempat tersebut gratis.

"Saat datang ke sini, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat seperti ini. Kehidupan di sini sangat sulit," ujar Umm Abdulrahman.

Kisahnya cukup umum terjadi. Sejak keruntuhan pemerintahan Suriah pada Desember 2024, lebih dari 1,64 juta pengungsi Suriah telah kembali dari negara-negara tetangga, menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hampir 200.000 di antaranya kembali dari Yordania saja. Sementara itu, 2 juta warga Suriah yang mengungsi di dalam negeri telah kembali ke daerah asal mereka dari berbagai wilayah lain di negara tersebut.

Banyak pengungsi yang pulang hampir tidak memiliki apa-apa lagi. Separuh wilayah di negara itu berada dalam kondisi porak-poranda.

Proses membangun kembali pun berjalan lambat mengingat perekonomian Suriah yang begitu rapuh hampir tidak mampu menopang upaya tersebut.

Sebuah gedung apartemen yang menjadi tempat berlindung sejumlah pengungsi dan keluarga-keluarga yang kembali ke Suriah dipotret di Atman, Provinsi Daraa, Suriah, pada 10 Mei 2026. (ANTARA/Xinhua/Str) Di seluruh Suriah, di mana perekonomian menyusut 54 persen antara 2011 hingga 2025, sebagian besar infrastruktur penunjang kehidupan sehari-hari seperti hunian terjangkau, pekerjaan tetap, dan layanan utilitas yang berfungsi dengan baik masih sulit diakses.

Bank Dunia pada Oktober tahun lalu memperkirakan bahwa proses perbaikan kerusakan akibat perang selama lebih dari 13 tahun akan menelan biaya sekitar 216 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743), hampir 10 kali lipat dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Suriah untuk 2024.

Bagi keluarga Umm Abdulrahman, perhitungannya terasa begitu berat. Apartemen sederhana untuk 13 anggota keluarganya akan menelan biaya 250 hingga 300 dolar AS per bulan.

Putranya, yang merupakan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga tersebut, mengantongi pendapatan sekitar 200 dolar AS dari pekerjaan sementara. Bangunan hancur yang mereka tempati tersebut, meski berbahaya, tidak menghabiskan biaya sepeser pun.

Di lantai atas, Mohammad Marzouq Forough tidak datang dari pengasingan di luar negeri, namun, pengungsian di wilayah Suriah. Dia pindah bukan karena bom, melainkan kemiskinan.

Di al-Sanamayn, kampung halamannya, tidak ada lapangan pekerjaan dan tempat tinggal. Forough beserta istri dan dua anaknya tinggal berdesakan di dalam tempat tinggal dua kamar milik orang tuanya, tanpa punya harapan akan perubahan.

"Kami terpaksa datang ke sini karena tidak ada lapangan pekerjaan dan tempat tinggal," tutur Forough.

Pendapatan bulanannya juga berkisar sekitar 200 dolar AS, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sedikit kebutuhan lainnya.

Dinding di sekitar tempat tinggalnya terbuka sehingga rentan terhadap cuaca. Kabel listrik terlihat jelas. Sistem pembuangan limbah tidak berfungsi. Untuk saat ini, itulah pilihan terbaik yang bisa mereka lakukan.

"Yang paling kami takutkan adalah kalau (bangunan) runtuh. Terkadang ketika angin kencang berembus, Anda merasa seolah-olah bangunan itu akan runtuh menimpa kepala Anda," kata Furough.

Bahaya fisik yang dihadapi jauh melampaui dinding-dinding yang tidak stabil tersebut. Sejumlah organisasi bantuan memperkirakan bahwa ratusan ribu ranjau darat dan amunisi yang belum meledak masih terkubur di seluruh bekas garis depan dan kawasan permukiman.

Sebuah laporan dari Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Network for Human Rights) mendokumentasikan sedikitnya 3.799 warga sipil tewas akibat ranjau dan amunisi klaster selama periode 2011 hingga April 2026, termasuk 1.000 anak-anak. Jumlah korban jiwa meningkat tajam sejak transisi politik, seiring kembalinya para keluarga ke wilayah-wilayah yang masih dipenuhi ranjau.





Anak-anak bermain di dalam sebuah gedung apartemen yang hancur di Atman, Provinsi Daraa, Suriah, pada 10 Mei 2026. (ANTARA/Xinhua/Str)
Lebih dari 16,7 juta warga Suriah masih membutuhkan bantuan kemanusiaan, kata PBB. Lebih dari 80 persen keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan yang mencukupi.

Di Atman, bangunan tempat Umm Abdulrahman dan keluarganya berlindung berdiri bak luka dari perang berkepanjangan di Suriah. Pakaian yang sedang dijemur tergantung di antara pilar-pilar yang retak, anak-anak bermain di koridor berdebu, dan keluarga berupaya membangun kembali perasaan kehidupan yang normal dari apa yang tersisa.

"Kami hidup dalam bahaya. Jika ada pilihan lain, tidak seorang pun akan mau menerima kehidupan seperti ini."

Bagi mereka yang berhasil menempuh perjalanan pulang, kepulangan itu kini memiliki arti yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Kepulangan tersebut bukan akhir dari pengungsian, melainkan kelanjutannya, di tengah reruntuhan negeri yang dulu mereka sebut sebagai rumah.






Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bea Cukai Soetta Gagalkan Penyelundupan 17,5 Kg Emas Senilai Rp45 Miliar ke China
• 1 jam lalueranasional.com
thumb
Gubernur Jatim pastikan hewan kurban sehat dan pengiriman lancar
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Cynthia Erivo Terima Gelar Kehormatan dari Kerajaan Inggris, Pakai Topi Nyentrik
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kuliah di Rusia Makin Sat-Set! Bye Drama Berkas, Daftar Kampus Cukup via Ru.ID
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Kemnaker Turunkan Tim Khusus untuk Tangani Perselisihan Industrial di PT Indonesian Epson Industry
• 19 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.