Oleh: Azis Subekti, mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
“Dunia itu hanya tiga hari:
kemarin yang telah pergi,
Baca Juga
Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri
Surat Terakhir Sang Hantu yang Dibunuh Israel Singgung Kekecewaan Tapi tak akan Pernah Putus Asa
Media Israel Ungkap Mengapa Komandan Tertinggi Al-Qassam Berjuluk Sang Hantu Bisa Terbunuh
esok yang belum tentu datang,dan hari ini yang sedang engkau jalani.” .rec-desc {padding: 7px !important;}
— Hasan al-Bashri
REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta- Ada sesuatu yang bermakna dan dalam dari kalimat Hasan al-Bashri itu. Ia tidak terdengar seperti ancaman.
Tidak pula seperti ceramah seorang dai yang ingin menakut-nakuti manusia tentang dunia. Kalimat itu justru terasa seperti bisikan seorang tua bijak yang pernah melihat manusia kehilangan dirinya sendiri karena terlalu mencintai apa yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dimiliki.
Kemarin telah pergi.
Esok belum tentu datang.Dan hari ini adalah satu-satunya ruang yang sungguh berada dalam genggaman manusia.
Tetapi anehnya, justru pada hari ini manusia paling sering tidak hadir sepenuhnya. Tubuhnya hidup, tetapi jiwanya sibuk mengejar hari esok yang tidak pasti. Ia menumpuk harta seolah akan tinggal selamanya.
Ia mengejar pengakuan seakan seluruh makna hidup bergantung pada penilaian manusia lain. Ia takut kehilangan jabatan, takut kehilangan kekayaan, takut kehilangan kedudukan, sampai perlahan-lahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: ketenangan batin.
Di titik inilah Hasan al-Bashri berbicara tentang zuhud.
Namun zuhud sering disalahpahami.
Sebagian orang mengira zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya: menjauhi harta, membenci kekayaan, hidup miskin, atau menarik diri dari kehidupan sosial.
Di sisi lain, dunia modern justru bergerak pada ekstrem yang berbeda: memuliakan dunia secara berlebihan.
Ukuran keberhasilan manusia dipersempit menjadi angka—berapa hartanya, seberapa terkenal dirinya, seberapa tinggi jabatannya, seberapa mahal apa yang ia kenakan.
Jamaah berdoa usai melaksanakan ibadah shalat Jumat di Masjid Muhyiddin, Desa Minuran, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Ratusan jamaah dikawasan tersebut merupakan korban terdampak banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November lalu. Saat ini aktivitas warga berangsur normal, dan sejumlah fasilitas ibadah dapat digunakan kembali. - (Republika/Thoudy Badai)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.