Washington (ANTARA) - Fase pertama pembukaan kembali Selat Hormuz akan mencakup pencabutan blokade Amerika Serikat (AS), demikian laporan The Washington Post pada Senin (25/5), mengutip seorang pejabat Iran.
"Seorang pejabat Iran, yang berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan pembukaan Selat tersebut akan dilakukan secara bertahap," urai laporan The Washington Post.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pada fase pertama tersebut, AS akan mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743), pembersihan ranjau di selat tersebut akan dimulai, dan blokade AS akan dicabut.
Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara kedua pihak tidak mencakup kesepakatan nuklir, melainkan hanya sebuah komitmen untuk merundingkan isu nuklir tersebut di kemudian hari, mengutip pernyataan pejabat Iran tersebut.
Kendati demikian, laporan itu juga mengutip pernyataan seorang pejabat senior AS yang mengatakan bahwa nota kesepahaman tersebut "mengikat" pihak Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir, termasuk "menyerahkan debu nuklir".
Juga pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menulis di akun Truth Social miliknya bahwa negosiasi dengan Iran "berjalan lancar".
"Perjanjian tersebut hanya akan menjadi kesepakatan yang bagus bagi semua pihak atau, tidak ada kesepakatan sama sekali. Kembali ke garis depan pertempuran dan saling tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan tak ada seorang pun yang menginginkan itu!" sebut Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada awak media, "Kami memiliki apa yang saya nilai sebagai kesepakatan yang cukup solid di meja perundingan terkait kemampuan mereka untuk membuka selat tersebut, memastikan selat itu terbuka, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, berjangka waktu tertentu mengenai masalah nuklir, dan semoga kami bisa mewujudkannya."
"Seorang pejabat Iran, yang berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan pembukaan Selat tersebut akan dilakukan secara bertahap," urai laporan The Washington Post.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pada fase pertama tersebut, AS akan mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743), pembersihan ranjau di selat tersebut akan dimulai, dan blokade AS akan dicabut.
Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara kedua pihak tidak mencakup kesepakatan nuklir, melainkan hanya sebuah komitmen untuk merundingkan isu nuklir tersebut di kemudian hari, mengutip pernyataan pejabat Iran tersebut.
Kendati demikian, laporan itu juga mengutip pernyataan seorang pejabat senior AS yang mengatakan bahwa nota kesepahaman tersebut "mengikat" pihak Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir, termasuk "menyerahkan debu nuklir".
Juga pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menulis di akun Truth Social miliknya bahwa negosiasi dengan Iran "berjalan lancar".
"Perjanjian tersebut hanya akan menjadi kesepakatan yang bagus bagi semua pihak atau, tidak ada kesepakatan sama sekali. Kembali ke garis depan pertempuran dan saling tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan tak ada seorang pun yang menginginkan itu!" sebut Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada awak media, "Kami memiliki apa yang saya nilai sebagai kesepakatan yang cukup solid di meja perundingan terkait kemampuan mereka untuk membuka selat tersebut, memastikan selat itu terbuka, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, berjangka waktu tertentu mengenai masalah nuklir, dan semoga kami bisa mewujudkannya."





