Jakarta: Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Kewajiban ini tidak hanya berkaitan dengan kesiapan spiritual, tetapi juga meliputi kemampuan fisik, mental, dan kondisi keuangan. Pada saat pelaksanaannya, terdapat sejumlah rukun haji yang harus dilaksanakan dengan teratur. Apabila satu rukun diabaikan, maka ibadah haji akan dianggap tidak sah.
Syarat Kemampuan Menunaikan Haji
Melansir dari BAZNAS, berikut adalah syarat utama untuk melaksanakan ibadah haji. Istitha’ah menjadi dasar utama, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 97, bahwa haji diwajibkan bagi yang mampu menempuh perjalanan.
- Fisik: Jemaah harus dalam kondisi sehat karena rangkaian ibadah haji membutuhkan stamina tinggi.
- Finansial: Biaya haji harus berasal dari harta yang halal.
- Tanggung jawab keluarga: Kebutuhan keluarga yang ditinggalkan harus tetap terjamin.
- Keamanan dan transportasi: Perjalanan menuju Tanah Suci harus aman dan memungkinkan.
Baca Juga :
Wukuf di Arafah, Puncak Spiritual Ibadah HajiBerikut adalah tahapan utama dalam pelaksanaan ibadah haji yang perlu dipahami:
Ihram dan Niat Ihram adalah niat untuk menyelenggarakan haji yang ditandai dengan penggunaan pakaian ihram serta pengucapan talbiyah. Untuk pria, pakaian ihram terdiri dari dua lembar kain putih tanpa jahitan, sedangkan wanita mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Baca Juga :
Sejarah Lempar Jumrah dalam Ibadah Haji dan Makna di BaliknyaMabit di Muzdalifah Setelah melakukan wukuf, jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam. Di lokasi ini, mereka juga mengumpulkan kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah.
Melontarkan Jumrah Aqabah Pada 10 Dzulhijjah, jemaah pergi ke Mina untuk melontar jamrah aqabah dengan tujuh batu. Ritual ini melambangkan penolakan terhadap godaan setan, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS.
Baca Juga :
5 Amalan Hari Arafah yang Dianjurkan, Penuh Keutamaan dan PahalaTawaf Ifadhah Tawaf ifadhah dilakukan di Masjidil Haram dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Ini merupakan salah satu rukun utama dalam haji.
Sai antara Shafa dan Marwah Sai dilakukan dengan berjalan bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah. Ritual ini mengenang perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail AS.
Tahallul Kedua Setelah sai, jemaah melakukan tahalul kedua yang menandakan seluruh larangan ihram telah berakhir.
Mabit di Mina (Hari Tasyrik) Jemaah kembali ke Mina untuk bermalam pada tanggal 11–13 Dzulhijjah. Pada hari-hari ini, jemaah melontar tiga jumrah (ula, wusta, dan aqabah) masing-masing dengan tujuh batu.
Tawaf Wada Sebagai penutup, jemaah melaksanakan tawaf wada atau tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Kota Makkah. Ini menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada Baitullah.
Ibadah haji merupakan rangkaian ibadah yang penuh makna dan harus dilaksanakan secara tertib sesuai rukun yang telah ditetapkan. Setiap tahap memiliki nilai spiritual yang mendalam, mulai dari niat hingga perpisahan dengan Tanah Suci. Dengan memahami urutan ini, diharapkan jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan.
(Jessica Nur Faddilah)




