Gerakan Komunitas Akar Rumput yang Membuat Bahasa Daerah Bertahan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Komunitas atau individu yang secara konsisten menjaga ruang hidup bahasa ibu menjadi harapan pelestarian bahasa daerah di tengah perubahan zaman. Di rumah-rumah sederhana, sanggar kecil, hingga ruang digital yang menjangkau lintas generasi, mereka merawat kosakata, cerita rakyat, dan tutur yang perlahan mulai jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari.

Berbagai upaya itu hadir ketika semakin banyak bahasa daerah kehilangan penutur muda, terdesak dominasi bahasa nasional dan arus budaya populer yang bergerak cepat. Bagi para pegiat bahasa, pelestarian tidak cukup dilakukan lewat dokumentasi atau seremoni kebudayaan semata. Bahasa harus tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari agar tidak kehilangan makna sosialnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata kepada para pelestari bahasa dan sastra daerah di tingkat akar rumput, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan bantuan bidang kebahasaan dan kesastraan. Program ini menjadi bagian dari Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 yang menegaskan pentingnya partisipasi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai identitas budaya bangsa.

Mereka yang mendapatkan bantuan adalah Rahmah Asa Ridho Harun, Yayasan Hari Puisi yang diwakili Ariyani Isnamurti, TBM Saung Manggar yang dipimpin Nur Istiqomah, Tribuno Svastha Harena yang diwakili Hari Kusmanto, serta Rustani Simanjuntak.

Baca JugaBahasa Daerah Akankah Punah?

Rustani Simanjuntak, akan memanfaatkan bantuan pemerintah untuk mengembangkan pembelajaran dan promosi Aksara Batak. Rustani berencana mencetak alat peraga aksara Batak, buku pembelajaran aksara Batak, hingga kain selendang bermotif aksara Batak sebagai media pengenalan budaya kepada masyarakat luas.

Bahasa daerah diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu hidup dan berkembang dalam ekosistem digital modern.

Ia juga akan mengembangkan buku tutorial belajar aksara Batak yang memuat pengenalan komponen dasar surat Batak, yakni Ina ni Surat dan Anak ni Surat. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami sekaligus menulis bahasa Batak menggunakan aksara tradisionalnya.

Selain itu, Rustani turut mendokumentasikan berbagai karya berbasis aksara Batak, termasuk penulisan empat versi Doa Bapa Kami dalam aksara Batak, bahasa Batak Latin, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

“Kita perlu terus angkat atau naikkan filosofi Habatakon, falsafah hidup orang Batak. Kiranya kita bisa hidup berdampingan dengan latar multikultural di Indonesia ini,” kata Rustani dalam keterangan pers yang diterima Kompas, Rabu (27/6/2026).

Baca JugaBahasa Banjar Kini Sudah Diterjemahkan ke Bahasa Inggris
Hidupkan kegiatan pelestarian

Selain Rustani, Yayasan Tribuno Svastha Harena juga bergerak melalui program penguatan literasi digital bahasa daerah berbasis kearifan lokal agar generasi muda tak melupakan bahasa daerah. Program tersebut dirancang untuk menghadirkan bahasa daerah secara lebih adaptif, kreatif, dan relevan di ruang digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Komunitas akan mengembangkan berbagai kegiatan pelestarian bahasa dan sastra daerah. Kegiatan itu seperti pelatihan produksi konten digital berbasis budaya lokal, penulisan kreatif, dokumentasi bahasa daerah, pengembangan media edukasi, hingga publikasi karya sastra dan budaya melalui media sosial.

"Dengan gerakan ini, bahasa daerah diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu hidup dan berkembang dalam ekosistem digital modern," kata Hari Kusmanto, Perwakilan Yayasan Tribuno Svastha Harena.

Baca JugaBahasa Banjar Kini Sudah Diterjemahkan ke Bahasa Inggris

Hari menjelaskan, program tersebut juga memperkuat kolaborasi antara komunitas literasi, akademisi, pegiat budaya, sekolah, dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk membangun ekosistem revitalisasi bahasa daerah yang partisipatif dan berkelanjutan.

“Bahasa daerah tidak hanya perlu dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga harus mampu hidup dan berkembang di tengah ekosistem digital modern. Karena itu, generasi muda perlu diajak untuk melihat bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas nasional yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini,” ujar Hari.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa program bantuan ini merupakan upaya pemerintah memperkuat ekosistem pelestarian bahasa dan sastra daerah melalui skema fasilitasi komunitas dan apresiasi perseorangan. Di tengah kekhawatiran akan punahnya sejumlah bahasa daerah, kehadiran komunitas-komunitas ini menjadi penanda bahwa bahasa ibu belum sepenuhnya kehilangan ruang hidupnya.

"Kami ingin memberikan dukungan sumber daya kepada komunitas penggerak yang tidak lelah menghidupkan ruang-ruang tutur, sekaligus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para maestro dan aktivis yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai penjaga gawang bahasa dan sastra daerah,” ujar Hafidz.

Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan.

Baca JugaBahasa Daerah Bukan Sekadar Mata Pelajaran di Kelas

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat juga mendorong bahasa daerah tidak cukup hanya diajarkan sebagai mata pelajaran di ruang kelas, tetapi perlu digunakan dalam aktivitas belajar sehari-hari di sekolah. Langkah ini dinilai penting agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu mereka.

”Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan,” kata Atip.

Selain itu, teknologi juga harus dimanfaatkan untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Di era akal imitasi (AI), bahasa daerah harus ikut masuk ke dalam ekosistem digital agar tidak tertinggal. Ia menilai pengembangan teknologi berbasis large language model (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia dapat digunakan secara luas di ruang digital, mulai dari aplikasi hingga platform AI masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manufaktur Masih Rawan Dihantam Badai PHK
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Ribuan Siswa Raih Nilai 100 TKA 2026, Kemendikdasmen Ungkap Fakta Mengejutkan
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Oknum TNI AL Ngamuk Bawa Parang Hancurkan Mobil Tamu Cafe di Surabaya!
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Gibran Salat Iduladha di Istiqlal, Masjid Steril Mulai Pukul 00.00 WIB
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Cerita Inspiratif Diaspora Jepang, Tinggal di Luar Negeri tapi Tetap Kirim Hewan Kurban ke Surabaya
• 4 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.