jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riyan Berta Delza menanggapi pernyataan anggota DPR yang mengapresiasi pejabat publik karena memilih jalur haji reguler dan antre selama 12 tahun.
Menurut Riyan, pernyataan tersebut justru memperlihatkan rendahnya standar etik yang dibangun dalam ruang publik hari ini.
BACA JUGA: Imigrasi Batam Terus Mengoptimalkan Layanan Immicare untuk Pasien Sakit
"Apa yang disebut “kesederhanaan” seharusnya bukan sesuatu yang luar biasa untuk dipuji berlebihan, melainkan kewajiban moral setiap pejabat negara," ujar Riyan dalam keterangannya pada Rabu (27/5/2026).
Menurut Riyan, menjalani proses sebagaimana rakyat biasa bukan tindakan heroik. Itu adalah konsekuensi logis dari jabatan publik yang dibiayai rakyat.
BACA JUGA: 10.000 Banser Amankan Nataru, Gaungkan Teladan Kemanusiaan Gus Dur dan Riyanto
Riyan mengatakan Ketika pejabat tidak menggunakan fasilitas istimewa, publik tidak membutuhkan glorifikasi, sebab yang lebih penting adalah bagaimana kekuasaan dijalankan secara adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.
Di tengah berbagai persoalan tata kelola yang dibuat oleh Kepala BGN di Tanah Air yang masih menuai polemik dan kritikan— hal itu membutuhkan substansi kerja, bukan pencitraan kesederhanaan.
BACA JUGA: DPP IMM Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatra
Menurutnya, menggunakan bus bersama jemaah atau menginap jauh dari Masjidil Haram tidak otomatis menyelesaikan problem mendasar tata kelola BGN yang dinilai masih amburadul.
Dia menilai DPR semestinya lebih fokus mengawasi kualitas kebijakan, Tata Kelola BGN yang amburadul dan ugal-ugalan dibanding membangun narasi simbolik yang berpotensi menjadi alat legitimasi personal pejabat.
"Sebab Ukuran keteladanan bukan pada bagaimana seorang pejabat tampil sederhana di hadapan kamera, tetapi kebermanfaatan program yang tepat sasaran," ujarnya.
Riyan mengatakan kesederhanaan pejabat tidak perlu dipertontonkan sebagai pencapaian politik.
"Sebab dalam demokrasi yang sehat, pejabat memang seharusnya hidup dekat dengan realitas rakyatnya," pungkas Riyan.(fri/jpnn)
Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




