BANDUNG, KOMPAS — Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, bakal mengumumkan calon pengelola Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo pada awal Juni mendatang. Terdapat tiga calon kuat yang akan bersaing mengelola salah satu kebun binatang terbesar di Jabar itu.
Hal ini disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat ditemui seusai mengikuti Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Al Ukhuwwah, Bandung, Rabu (27/5/2026).
Farhan mengatakan, Pemkot Bandung telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terkait calon pengelola Bandung Zoo. Proses penilaian para calon pengelola oleh Kemenhut pun telah rampung.
Ia memaparkan, tiga calon kuat yang akan mengelola Bandung Zoo berasal dari sejumlah daerah, antara lain, Jakarta dan Yogyakarta. Ketiganya adalah Faunaland, Taman Safari, dan Gembira Loka.
"Insya Allah saya akan mendapatkan hasil penilaian dari Kementerian Kehutanan antara tanggal 1 hingga 3 Juni," kata Farhan.
Farhan menuturkan, pengumuman hasil pemenang tender pengelola Bandung Zoo baru akan disampaikan pada periode 5-12 Juni. Sebab, masih ada proses untuk melengkapi syarat administrasi.
"Pemenang tender ini akan mendapatkan izin sebagai lembaga konservasi yang mengelola Bandung Zoo," tuturnya.
Farhan menambahkan, Bandung Zoo diharapkan segera beroperasi normal kembali. Hal ini agar pengelolaan kebun binatang dengan 709 satwa tersebut menjadi lebih optimal, termasuk dari sisi biosekuriti.
”Bagi calon pengelola, ada sejumlah syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya, mempertahankan seluruh pekerja Bandung Zoo dari manajemen sebelumnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Sulhan Syafi’i dari Humas Serikat Pekerja Bandung Zoo berharap proses seleksi berjalan secepatnya sehingga pengelola baru segera terpilih.
Dengan demikian, operasional Bandung Zoo bisa segera berjalan normal dan masyarakat kembali mendapatkan fasilitas publik sebagai wahana rekreasi dan edukasi.
"Dengan terpilihnya pengelola baru, sebanyak 121 pekerja dapat bekerja dengan optimal dalam penanganan ratusan satwa di Bandung Zoo,” ucap Sulhan.
Masalah di Bandung Zoo muncul setelah adanya konflik di antara manajemen yang terjadi sejak Agustus 2025. Penyebabnya adalah dualisme kepemimpinan Yayasan Margasatwa Tamansari.
Akibat konflik itu, Bandung Zoo pun mesti ditutup. Pekerja kebun binatang itu sampai harus mengamen dan membuka donasi untuk mengumpulkan biaya operasional.
Sejak 5 Februari 2026, pengawasan dan operasionalisasi kebun binatang diserahkan kepada Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar.
Masalah di Bandung Zoo memuncak saat dua anak harimau benggala bernama Huru dan Hara mati karena sakit pada usia delapan bulan. Kedua satwa itu mati karena infeksi feline panleukopenia virus (FPV).
Hara mati pada 24 Maret 2026, sedangkan Huru pada 26 Maret 2026. FPV adalah virus yang amat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi jika menginfeksi satwa famili Felidae, khususnya pada usia muda.
Bagi calon pengelola, ada sejumlah syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya, mempertahankan seluruh pekerja Bandung Zoo dari manajemen sebelumnya
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, berpendapat, penentuan calon pengelola sebuah lembaga konservasi satwa semestinya tidak bersifat proyek. Oleh karena itu, seleksi tersebut seharusnya tidak ditujukan untuk mencari pengelola yang menawarkan biaya operasional termurah.
Annisa mengatakan, diperlukan calon pengelola yang memiliki sumber daya yang memadai, baik dalam keuangan maupun pakan. Hal ini untuk memastikan kesejahteraan satwa tak lagi bermasalah.





