Waka Komisi X Dorong Investigasi Dugaan Pemalsuan Riset Palsu WNI di Denmark

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menanggapi kasus dugaan pemalsuan riset oleh WNI saat konferensi ilmiah di Denmark. Ia menilai dugaan tersebut menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi dan riset nasional.

“Kami tentu sangat prihatin atas dugaan skandal riset palsu yang melibatkan WNI dalam forum ilmiah internasional," kata Lalu dalam keterangannya, Rabu (27/5).

"Jika benar terdapat manipulasi data, pemalsuan identitas akademik, atau penggunaan AI untuk menghasilkan riset fiktif, maka hal itu bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga dapat mencoreng nama baik Indonesia,” tambah dia.

Ia menegaskan, penggunaan artificial intelligence atau AI seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung kualitas penelitian, bukan justru dipakai untuk melakukan manipulasi karya ilmiah.

“AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat kualitas riset, bukan dipakai untuk memanipulasi karya ilmiah," kata Lalu.

Politikus PKB itu mengatakan kasus tersebut harus menjadi perhatian serius bagi dunia akademik di Indonesia. Ia mendorong adanya investigasi hingga penegakan sanksi etik apabila dugaan pelanggaran tersebut terbukti benar.

“Kasus ini harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi dan riset nasional. Kami mendorong adanya investigasi dan penegakan sanksi etik apabila dugaan tersebut terbukti," ucap dia.

Ia juga mengingatkan agar tindakan segelintir oknum tidak merusak kepercayaan internasional terhadap akademisi Indonesia.

“Jangan sampai tindakan segelintir oknum, merusak kepercayaan internasional terhadap para akademisi dan peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dengan jujur dan profesional," katanya.

Menurut Lalu, pemerintah, perguruan tinggi, hingga lembaga riset perlu memperkuat pengawasan serta tata kelola integritas akademik, termasuk terkait etika penggunaan AI dalam penelitian.

“Ke depan, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset perlu memperkuat pengawasan serta tata kelola integritas akademik, termasuk literasi etika penggunaan AI dalam penelitian. Indonesia membutuhkan budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan meritokrasi agar reputasi pendidikan dan riset nasional tetap terjaga," tutup Lalu.

Sebelumnya, sekelompok periset Indonesia diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Dugaan skandal pemalsuan riset ini viral setelah diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5). Masalah ini menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia.

Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.

Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan AI.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Intip tahapan Inti Puncak Haji: Dari Wukuf di Arafah hingga Tawaf Ifadah
• 36 menit lalubisnis.com
thumb
Momen Tegang Penumpang Saat KRL Duri-Tangerang Mogok: Gerbang Gelap-AC Mati
• 21 jam laludetik.com
thumb
Din Syamsuddin Serukan “Sami’na Wa Atho’na” dalam Khutbah Iduladha di Masjid Al Azhar Jakarta
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Hasil Singapura Open 2026: Gulung Toma Junior Popov Dua Gim Langsung, Alwi Farhan Tantang Shi Yu Qi di Babak 16 Besar
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Sapi Simental hingga Belgian Blue, Hewan Kurban Prabowo Super Jumbo
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.