Pisau Nabi Ibrahim dan Dunia yang Kehilangan Rasa

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Wibowo Prasetyo, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada sesuatu yang pelan-pelan menumpul dalam diri manusia. Bukan pisau. Melainkan rasa.

Kita hidup pada zaman ketika kabar duka datang bertubi-tubi lalu lewat begitu saja. Konflik berseliweran di layar telepon genggam, berganti beberapa detik kemudian dengan video hiburan.

Baca Juga
  • Kiai Muda Ini Jelaskan Hukum Qurban Pakai APBN, Boleh Asalkan....
  • Media Israel Ungkap Mengapa Komandan Tertinggi Al-Qassam Berjuluk Sang Hantu Bisa Terbunuh
  • Siapa Komandan Al-Qassam yang Syahid, Berjuluk 'Hantu' dan Kepalanya Dibanderol Israel Rp 12 M?

Bencana berubah menjadi angka statistik. Kemiskinan menjadi data. Tangis manusia lain menjelma sekadar lalu lintas informasi.

Kita melihat semakin banyak, tetapi semakin sedikit merasakan. Di situlah mungkin ironi zaman ini berada.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Teknologi membuat manusia semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin peduli. Media sosial membuat kita mengetahui begitu banyak hal, tetapi tidak selalu memahami lebih dalam.

Kita tahu banyak peristiwa dunia, tetapi kadang lupa menyapa tetangga yang rumahnya hanya beberapa langkah dari tempat tinggal kita. Kita terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang, tetapi diam-diam semakin asing satu sama lain.

Sosiolog Jerman Hartmut Rosa pernah mengingatkan bahwa dunia modern bergerak dalam percepatan yang nyaris tak memberi jeda. Melalui gagasannya tentang social acceleration, ia menunjukkan bagaimana manusia perlahan kehilangan kedalaman relasi—dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan dirinya sendiri.

Segalanya bergerak cepat. Tetapi hati tidak selalu mampu mengikutinya. Akibatnya, manusia menjadi mudah lelah. Mudah marah. Dan tanpa sadar perlahan kebal terhadap penderitaan.

Barangkali itu sebabnya tragedi sering terasa hanya sebatas notifikasi. Kita membaca kabar duka sambil menyeruput kopi. Menyaksikan bencana sambil menggulir layar. Melihat penderitaan manusia lain, lalu berpindah ke hiburan berikutnya.

Infografis Tiga Golongan yang Berhak Terima Daging Qurban - (Dok Republika)

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jangan Kecele! Momen Iduladha, Ganjil Genap Jakarta Libur 27-28 Mei 2026 Kendaraan Bebas Melintas
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Tiba di Paris, Presiden Prabowo Perkuat Hubungan Indonesia-Prancis
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Cerita Purbaya Beli Sapi Kurban Seberat 868 Kilogram Pakai Uang Bonus dan Dana Pembatalan Haji 
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Raihan Muhammad Menyoroti Bahaya Normalisasi “Tembak di Tempat” dalam Penanganan Begal
• 22 jam lalupantau.com
thumb
2 Rumah Bertingkat di Padang Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp800 Juta | BERUT
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.