Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tidak percaya pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi nasional justru masih tergolong kuat sehingga pelemahan rupiah dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan situasi domestik.
Baca Juga: Indonesia Ternyata Rugi Besar Gegara 10 Perusahaan Manipulasi Harga Ekspor CPO
“Ini terjadi karena fundamentalnya bagus, sebetulnya enggak masuk akal. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (27/5).
Pernyataan tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,20 persen hingga berada di kisaran Rp17.830 per dolar AS.
Komentar Purbaya menunjukkan pemerintah ingin menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi sentimen global ketimbang kerusakan ekonomi dalam negeri.
Purbaya menilai indikator utama ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. Karena itu, ia tidak melihat pelemahan rupiah sebagai sinyal krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
Ia juga menyoroti kondisi pasar obligasi pemerintah yang disebut masih relatif stabil di tengah tekanan mata uang. Menurutnya, kestabilan pasar obligasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor asing terhadap Indonesia.
“Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk melakukan investasi bond kita akan terjaga juga,” katanya.
Baca Juga: Luhut: Family Office Indonesia Bisa Tarik Dana Ratusan Miliar Dolar dari Timur Tengah
Purbaya bahkan mengungkap pemerintah mulai melihat kembali adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik. Situasi tersebut disebut menjadi salah satu alasan pemerintah belum melihat urgensi untuk mengambil langkah ekstrem meski rupiah melemah tajam.





