EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah United States Central Command atau CENTCOM mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan defensif berskala besar terhadap sejumlah target strategis di wilayah selatan Iran pada Senin, 25 Mei 2026.
Serangan tersebut disebut menjadi operasi militer Amerika pertama terhadap target di wilayah Iran sejak kedua negara sebelumnya mengumumkan gencatan senjata sementara. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran dunia internasional karena terjadi di sekitar Strait of Hormuz atau Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Menurut keterangan pejabat militer AS, target utama operasi tersebut mencakup lokasi peluncuran rudal milik Islamic Revolutionary Guard Corps, kapal penebar ranjau laut, hingga sistem pertahanan udara terbaru Iran yang diduga baru diterima secara rahasia dari Tiongkok.
AS Klaim Iran Diam-Diam Menebar Ranjau di Selat Hormuz
Sumber intelijen Amerika menyebut operasi militer itu dipicu oleh aktivitas rahasia Garda Revolusi Iran yang terdeteksi oleh satelit dan drone pengintai milik CENTCOM.
Menurut laporan tersebut, pasukan Iran diduga tengah memasang ranjau laut secara diam-diam di jalur strategis Selat Hormuz. Aktivitas itu dinilai sangat berbahaya karena dapat mengancam lalu lintas kapal tanker minyak internasional yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.
Ketegangan semakin meningkat ketika sebuah sistem rudal darat-ke-udara di wilayah selatan Iran dilaporkan tiba-tiba mengaktifkan radar pengunci tembakan dan mengarahkan sistemnya ke pesawat tempur Amerika yang sedang melakukan patroli rutin di kawasan itu.
Insiden tersebut disebut langsung memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump. Menurut sumber internal Gedung Putih, Trump segera memerintahkan CENTCOM untuk melaksanakan serangan cepat terhadap target-target militer Iran.
Ledakan Besar Guncang Bandar Abbas dan Pulau Qeshm
Pada Selasa pagi, 26 Mei 2026, media lokal Iran dan sejumlah sumber intelijen melaporkan sedikitnya tiga ledakan besar mengguncang wilayah Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di pintu masuk Selat Hormuz.
Ledakan juga terdengar di beberapa kawasan pesisir sekitarnya. Serangan presisi militer AS dilaporkan menghantam posisi-posisi Garda Revolusi Iran yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Salah satu sasaran paling menjadi sorotan adalah serangan terhadap Qeshm Island. Menurut bocoran kelompok oposisi Iran, militer Amerika berhasil menghancurkan satu unit sistem pertahanan udara HQ-9 atau Hongqi-9 yang baru saja diterima Iran secara diam-diam dari Tiongkok.
Sistem Pertahanan HQ-9 Disebut Hancur Sebelum Sempat Digunakan
Sistem HQ-9 selama ini dipromosikan oleh Tiongkok sebagai salah satu sistem pertahanan udara canggih yang mampu menghadapi pesawat siluman dan rudal jelajah modern.
Namun dalam operasi terbaru ini, sistem tersebut dilaporkan hancur sebelum sempat digunakan secara efektif. Beberapa sumber menyebut bom presisi AS langsung menghantam area tempat sistem itu ditempatkan bersama barak militer Garda Revolusi.
Insiden ini menjadi pukulan simbolis bagi Iran sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem pertahanan udara yang selama ini dipuji Beijing.
Drone AS Serang Pangkalan Parchin Dekat Teheran
Di saat serangan masih berlangsung di Iran selatan, drone tempur Amerika juga dilaporkan meluncurkan operasi presisi terhadap Parchin Military Complex di dekat Teheran pada hari Selasa.
Pangkalan Parchin selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu fasilitas paling sensitif Iran karena diduga terkait penelitian bahan peledak berkekuatan tinggi dan teknologi pemicu senjata nuklir.
Sumber intelijen menyebut serangan tersebut kemungkinan menewaskan sejumlah peneliti senior yang memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran. Hingga kini pihak Teheran belum memberikan angka resmi korban jiwa.
Banyak analis menilai langkah ini merupakan bentuk tekanan tambahan dari pemerintahan Trump terhadap Iran di tengah negosiasi diplomatik yang masih berlangsung.
Angkatan Laut AS Mulai Operasi Pengawalan di Selat Hormuz
Belum lama setelah serangan udara terjadi, Angkatan Laut Amerika Serikat mengumumkan dimulainya operasi kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Kapal-kapal perusak AS langsung memasuki jalur utama pelayaran dan mulai mengawal kapal dagang internasional yang selama beberapa bulan terakhir terjebak akibat meningkatnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.
Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa sebuah kapal tanker super milik Yunani yang membawa sekitar dua juta barel minyak mentah telah terjebak di Teluk Persia sejak awal Maret 2026.
Selama hampir tiga bulan kapal tersebut tidak dapat bergerak karena tingginya risiko keamanan dan ancaman serangan di sekitar Selat Hormuz. Kerugian akibat keterlambatan pengiriman minyak disebut mencapai angka yang sangat besar.
Pada Selasa pagi, kapal perang Amerika akhirnya mendekati tanker tersebut dan menawarkan pengawalan keluar dari kawasan berbahaya. Tanker itu kemudian berhasil melewati Selat Hormuz di bawah perlindungan militer AS sebelum melanjutkan pelayaran menuju India.
Menurut pejabat Angkatan Laut AS, operasi serupa akan terus dilakukan dalam beberapa hari mendatang untuk membantu lebih dari sepuluh kapal dagang internasional lainnya, termasuk kapal tanker raksasa dan kapal kontainer besar.
Konflik Politik Internal Iran Makin Terbuka
Di tengah tekanan militer dari luar negeri, Iran juga menghadapi ketegangan internal yang semakin terlihat.
Pada 25 Mei 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan perintah kepada kementerian telekomunikasi untuk memulihkan akses internet nasional yang sebelumnya diputus besar-besaran sejak Januari 2026.
Langkah itu disebut sebagai upaya menyelamatkan ekonomi Iran yang semakin terpukul akibat blokade dan krisis berkepanjangan.
Media pemerintah Iran langsung menggambarkan kebijakan tersebut sebagai langkah positif untuk membantu rakyat.
Namun hanya beberapa saat kemudian, kantor berita Fars yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi secara terbuka membantah kewenangan Presiden Iran dalam persoalan tersebut.
Mereka menyatakan bahwa keputusan pemutusan internet sebelumnya dibuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sehingga pencabutannya juga harus melalui persetujuan lembaga tersebut.
Peristiwa ini memperlihatkan semakin jelasnya pertarungan kekuasaan antara pemerintahan sipil dan struktur militer di Iran.
Data pemantauan internasional menunjukkan akses internet internasional di Iran saat ini masih dibatasi hanya sekitar 1% hingga 4%. Sebagian besar warga Iran disebut hanya dapat mengakses dunia luar menggunakan VPN.
Pemutusan internet nasional selama hampir 90 hari itu disebut sebagai salah satu yang paling lama dan paling merusak dalam sejarah modern Iran.
Bentrokan Bersenjata Pecah di Pusat Teheran
Situasi semakin memburuk setelah muncul laporan bentrokan bersenjata di dekat Revolution Square di pusat Teheran.
Menurut sejumlah sumber intelijen, Garda Revolusi Iran bentrok dengan milisi Irak dari Popular Mobilization Forces yang selama ini ditempatkan di Teheran.
Kedua pihak dilaporkan saling menembak menggunakan senapan otomatis dan senapan mesin ringan di jalanan kota.
Sedikitnya lima anggota milisi Irak dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara jumlah korban luka masih belum diumumkan secara resmi.
Insiden ini memperlihatkan bahwa tekanan di dalam tubuh aliansi pro-Iran sendiri mulai muncul di tengah situasi keamanan yang semakin tidak stabil.
Trump Mendadak Panggil Seluruh Kabinet ke Gedung Putih
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Presiden Donald Trump pada Selasa, 26 Mei 2026, secara mendadak memerintahkan seluruh anggota kabinet AS untuk bersiap menghadiri rapat penting.
Awalnya pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Camp David pada Rabu, 27 Mei 2026.
Media Amerika menyebut seluruh pejabat tinggi diwajibkan hadir, termasuk Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard yang dikabarkan akan segera meninggalkan jabatannya.
Langkah tersebut memicu spekulasi luas bahwa negosiasi AS-Iran mungkin telah memasuki tahap penentuan akhir, baik menuju kesepakatan besar maupun kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas.
Namun beberapa jam kemudian, Trump membatalkan rencana perjalanan ke Camp David dan memutuskan rapat kabinet tetap dilaksanakan di Gedung Putih dengan alasan potensi cuaca buruk.
Meski demikian, keputusan mendadak itu tetap dianggap sebagai sinyal bahwa Washington kini sedang menghadapi salah satu momen paling sensitif dalam hubungan AS-Iran sepanjang tahun 2026. (***)





