Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan militer dunia tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah senjata dan personel.
Dalam konflik modern, daya tempur sangat bergantung pada rantai pasok material: tembaga, nikel, hingga tanah jarang (rare earths) yang menjadi fondasi elektronik militer, amunisi, radar, drone, dan sistem komunikasi. Di era ini, perang bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal siapa yang menguasai bahan baku teknologi pertahanan.
JP Morgan dalam laporannya Pandora's Bog: the global energy shock of 2026 menyoroti bagaimana intensitas perang dapat mendorong kebutuhan logam mineral pertambangan, bahkan dalam waktu singkat. Contoh terbaru adalah penggunaan logam mineral jarang dalam operasi militer AS dalam 96 jam pertama perang Iran yang meletus pada 28 Februari 2026.
Dalam berapa tahun terakhir, belanja pertahanan negara-negara besar terus naik. Amerika Serikat, misalnya, mengalokasikan anggaran pertahanan hingga US$ 831,5 miliar (sekitar Rp14.551 triliun dengan asumsi kurs US$1=Rp17.500).
Sementara anggota NATO didorong mengalokasikan belanja pertahanan hingga 5% PDB. Tren ini menegaskan bahwa kebutuhan material strategis untuk pertahanan akan tetap tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




