BERITA tentang kritik Paus Leo XIV terhadap penggunaan kecerdasan buatan untuk mesin perang dan akumulasi laba terasa seperti teguran yang tidak bisa lagi diabaikan.
Ia bukan seruan moral biasa, melainkan penanda bahwa ada yang mulai bergeser dalam cara kita memahami diri dan dunia.
Di balik layar yang kita sentuh setiap hari, bekerja sistem yang tidak sekadar membantu, tetapi juga membentuk keputusan tanpa banyak kita sadari.
Kita terbiasa menyerahkan hal kecil—rute perjalanan, pilihan tontonan, bahkan informasi harian—pada algoritma.
Kebiasaan ini tampak ringan, tetapi pelan-pelan mengubah relasi kita dengan pilihan itu sendiri.
Data menunjukkan bahwa 64 persen pengguna internet global mengandalkan rekomendasi algoritmik untuk konsumsi informasi sehari-hari (Reuters Institute, 2023).
Sementara itu, sekitar 70 persen konten yang ditonton di platform digital besar berasal dari sistem rekomendasi otomatis (YouTube, 2022; The Verge, 18/8/2022).
Baca juga: Lelah Menjadi Kelas Menengah
Angka ini menegaskan bahwa preferensi kita tidak lagi murni lahir dari kesadaran bebas, melainkan hasil interaksi panjang dengan sistem yang terus belajar dari perilaku kita.
Dalam konteks ini, gagasan lama bahwa manusia adalah penentu utama kebenaran mulai goyah.
Di satu sisi, teknologi menjanjikan efisiensi. Namun di sisi lain, ia membentuk cara berpikir yang makin bergantung pada pola yang dapat dihitung.
Ketika pengalaman manusia tidak lagi menjadi pijakan utama, kita mulai menerima keputusan berdasarkan probabilitas.
Ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan pergeseran cara memahami realitas. Kita tidak lagi bertanya “apa yang benar,” tetapi “apa yang paling mungkin benar menurut data.”
Konsekuensi dari pergeseran ini tidak berhenti di ruang digital. Ia merambah hingga wilayah militer.
Laporan PBB menunjukkan bahwa lebih dari 30 negara telah mengembangkan atau menguji sistem senjata otonom (UNODA, 2023).