Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan layanan fertilitas canggih dan humanis perlu diberikan guna menjaga Angka Kelahiran Total (TFR) yang saat ini adalah 2,14 per perempuan, demi mempersiapkan generasi masa depan yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan di Jakarta, Kamis, perjalanan menuju kehamilan bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan bukanlah sekadar upaya medis, melainkan sebuah perjuangan merawat harapan.
"10-15 persen pasangan usia subur mengalami infertilitas. Artinya, ada sekitar 4 hingga 6 juta dari total 39,8 juta pasangan usia subur di Tanah Air yang membutuhkan intervensi medis untuk bisa mendapatkan keturunan," kata Dante.
Secara global, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 mencatat sekitar 17,5 persen populasi dewasa atau 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas.
"Tantangan ini menjadi perhatian serius, terlebih Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia berada di angka 2,14 anak per perempuan pada tahun 2023 berdasarkan data BKKBN," kata Dante.
Oleh karena itu, angka fertilitas total ini perlu dijaga demi mempersiapkan generasi masa depan yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Wamenkes: Klinik infertilitas penting jaga pertumbuhan generasi emas
Dia menyebutkan respons masyarakat terhadap layanan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) sendiri terus meningkat pesat. Jumlah pasien secara nasional naik signifikan dari 23 ribu pasien pada 2021 menjadi 36 ribu pasien pada 2024.
Saat ini, katanya, Indonesia memiliki 59 rumah sakit di 15 provinsi yang telah mengantongi izin layanan IVF, di mana RSCM menjadi salah satu pelopornya melalui Klinik Yasmin.
Dante menjelaskan, Klinik Reproductive Cluster tersebut memiliki delapan layanan utama, meliputi infertilitas dan bayi tabung (Yasmin IVF), gangguan haid, endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), keguguran berulang, ginekologi remaja, menopause, hingga preservasi fertilitas.
Baca juga: Wamenkes soroti pentingnya cek kesehatan bagi remaja dan anak
Sepanjang 2025, Klinik Yasmin mencatat 95 kehamilan dari 221 siklus program yang dijalankan. Layanan ini didukung oleh tenaga medis di bidang obstetri, ginekologi, serta andrologi, termasuk para guru besar dengan pengalaman klinis yang luas.
Pengembangan layanan juga dilakukan melalui pendampingan pasien oleh konselor perawat selama proses stimulasi, sistem satu pasien satu perawat, kolaborasi dengan layanan akupunktur, pengembangan layanan endometriosis dan PCOS, serta pembentukan pusat layanan keguguran berulang.
Melalui peluncuran kembali ini, katanya, RSCM Kencana diharapkan dapat menghadirkan layanan fertilitas yang lebih dekat, humanis, dan berbasis teknologi modern bagi masyarakat Indonesia, sehingga mampu membantu lebih banyak pasangan mendapatkan penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
"Kalau nanti generasi ini pertumbuhannya bagus, maka kita akan punya usia produktif yang bagus di tahun 2045 yang disebut sebagai masa Indonesia Emas. Ini harus dijaga kualitasnya," dia menambahkan.
Baca juga: Wamenkes: CKG & Nutri Level upaya cegah diabetes tipe 2 pada anak muda
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan di Jakarta, Kamis, perjalanan menuju kehamilan bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan bukanlah sekadar upaya medis, melainkan sebuah perjuangan merawat harapan.
"10-15 persen pasangan usia subur mengalami infertilitas. Artinya, ada sekitar 4 hingga 6 juta dari total 39,8 juta pasangan usia subur di Tanah Air yang membutuhkan intervensi medis untuk bisa mendapatkan keturunan," kata Dante.
Secara global, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 mencatat sekitar 17,5 persen populasi dewasa atau 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas.
"Tantangan ini menjadi perhatian serius, terlebih Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia berada di angka 2,14 anak per perempuan pada tahun 2023 berdasarkan data BKKBN," kata Dante.
Oleh karena itu, angka fertilitas total ini perlu dijaga demi mempersiapkan generasi masa depan yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Wamenkes: Klinik infertilitas penting jaga pertumbuhan generasi emas
Dia menyebutkan respons masyarakat terhadap layanan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) sendiri terus meningkat pesat. Jumlah pasien secara nasional naik signifikan dari 23 ribu pasien pada 2021 menjadi 36 ribu pasien pada 2024.
Saat ini, katanya, Indonesia memiliki 59 rumah sakit di 15 provinsi yang telah mengantongi izin layanan IVF, di mana RSCM menjadi salah satu pelopornya melalui Klinik Yasmin.
Dante menjelaskan, Klinik Reproductive Cluster tersebut memiliki delapan layanan utama, meliputi infertilitas dan bayi tabung (Yasmin IVF), gangguan haid, endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), keguguran berulang, ginekologi remaja, menopause, hingga preservasi fertilitas.
Baca juga: Wamenkes soroti pentingnya cek kesehatan bagi remaja dan anak
Sepanjang 2025, Klinik Yasmin mencatat 95 kehamilan dari 221 siklus program yang dijalankan. Layanan ini didukung oleh tenaga medis di bidang obstetri, ginekologi, serta andrologi, termasuk para guru besar dengan pengalaman klinis yang luas.
Pengembangan layanan juga dilakukan melalui pendampingan pasien oleh konselor perawat selama proses stimulasi, sistem satu pasien satu perawat, kolaborasi dengan layanan akupunktur, pengembangan layanan endometriosis dan PCOS, serta pembentukan pusat layanan keguguran berulang.
Melalui peluncuran kembali ini, katanya, RSCM Kencana diharapkan dapat menghadirkan layanan fertilitas yang lebih dekat, humanis, dan berbasis teknologi modern bagi masyarakat Indonesia, sehingga mampu membantu lebih banyak pasangan mendapatkan penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
"Kalau nanti generasi ini pertumbuhannya bagus, maka kita akan punya usia produktif yang bagus di tahun 2045 yang disebut sebagai masa Indonesia Emas. Ini harus dijaga kualitasnya," dia menambahkan.
Baca juga: Wamenkes: CKG & Nutri Level upaya cegah diabetes tipe 2 pada anak muda




