ITB Prihatin soal Alumni Diduga Terlibat Pemalsuan Riset di Denmark

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Institut Teknologi Bandung (ITB) buka suara terkait dugaan keterlibatan salah satu alumninya dalam kasus dugaan pemalsuan riset pada konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark. ITB menyatakan prihatin atas kejadian tersebut.

ITB menyebut nama Prihantini yang ramai diperbincangkan dalam polemik itu merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 yang lulus pada 2022.

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menyebut materi yang dipresentasikan Prihantini dalam konferensi tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas akademiknya selama menempuh pendidikan di ITB.

“Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupuk aktivitas akademik di ITB,” kata Aep dalam keterangannya, Kamis (28/5).

“Adapun Tesis Prihantini saat menempuh studi Magister di ITB berjudul ‘Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring’” lanjutnya.

Aep pun menyebut dugaan tindakan manipulasi riset tersebut merupakan tanggung jawab pribadi. Pihak ITB akan menghormati apabila nantinya terdapat proses hukum.

“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” ungkap Aep.

“ITB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sebelumnya, sekelompok periset Indonesia diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Dugaan skandal pemalsuan riset ini viral setelah diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5). Masalah ini menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia.

Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.

Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan AI.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penguatan Kewenangan Kompolnas Dinilai Penting dalam Reformasi Polri
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Erin Serahkan Bukti CCTV saat Diperiksa dalam Laporan Mantan ART, Tessa Mariska Beri Sindiran Ini
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Geger Bos Besar Raksasa Energi Inggris British Petroleum Dipecat
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi Ancam Jateng hingga Kamis Pagi
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kisah Widya, Peracik Bumbu Sate Idul Adha yang Tak Makan Daging karena Trauma Masa Kecil
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.