Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat AS dan Iran kini memasuki bulan ketiga. Meski kedua negara sedang menjalani gencatan senjata, konflik ini sudah menguras banyak senjata utama milik Washington.
Selama tiga bulan perang, AS telah mengerahkan berbagai senjata utamanya untuk menyerang Iran sekaligus menahan serangan balasan. Mulai dari rudal jelajah Tomahawk, rudal udara-ke-darat JASSM, rudal taktis PrSM, hingga sistem pertahanan seperti Patriot, THAAD, SM-3, dan SM-6.
Penggunaan senjata-senjata itu tidak kecil. Sebagian bahkan diperkirakan sudah menguras porsi besar dari stok awal yang dimiliki AS sebelum perang. Dalam beberapa jenis amunisi, jumlah yang terpakai sudah mencapai ratusan hingga lebih dari seribu unit.
Mengutip laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), penggunaan sejumlah senjata utama AS dalam perang Iran sudah sangat besar. Dalam 39 hari serangan udara dan rudal sebelum gencatan senjata, AS memakai banyak rudal jarak jauh dan sistem pertahanan udara mahal.
Ribuan Rudal Sudah Ditembakkan
Beberapa senjata AS yang paling banyak dipakai dalam perang ini adalah Tomahawk dan JASSM.
Tomahawk adalah rudal jelajah yang ditembakkan dari kapal perang atau kapal selam untuk menyerang target di darat. Rudal ini menjadi salah satu senjata andalan AS karena bisa ditembakkan dari jarak jauh tanpa harus menempatkan pasukan terlalu dekat ke wilayah musuh.
Dalam perang Iran, penggunaan Tomahawk disebut sudah sangat besar. CSIS mencatat, berdasarkan laporan The Wall Street Journal, AS telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk.
Angka ini besar karena stok Tomahawk AS sebelum perang diperkirakan sekitar 3.100 unit. Artinya, hanya dari satu jenis rudal ini saja, lebih dari sepertiga stok awal sudah terpakai.
Senjata lain yang juga banyak dipakai adalah JASSM atau Joint Air-to-Surface Standoff Missile. Ini adalah rudal yang ditembakkan dari pesawat untuk menghantam target dari jarak jauh.
CSIS memperkirakan penggunaan JASSM dalam perang Iran sudah mencapai lebih dari 1.100 unit. Sebelum perang, stok JASSM AS diperkirakan sekitar 4.400 unit.
Berdasarkan data CSIS, ada tujuh amunisi utama AS yang paling menjadi perhatian. Senjata-senjata ini penting karena dipakai untuk menyerang target strategis dan menahan serangan rudal dari Iran.
Tekanan paling besar pada jumlah persediaan terlihat pada senjata pertahanan udara dan anti-rudal, terutama Patriot dan THAAD.
Patriot dipakai untuk mencegat pesawat, rudal balistik, dan rudal jelajah. Dalam perang Iran, CSIS memperkirakan AS sudah memakai 1.060 hingga 1.430 rudal Patriot.
Padahal, stok Patriot AS sebelum perang diperkirakan sekitar 2.330 unit. Artinya, sekitar separuh stok Patriot AS bisa saja sudah terkuras.
Kondisi THAAD juga tidak kalah serius. THAAD adalah sistem pertahanan untuk mencegat rudal balistik di ketinggian lebih tinggi. CSIS memperkirakan AS sudah memakai 190 hingga 290 interseptor THAAD, dari stok awal sekitar 360 unit.
Jika memakai estimasi tertinggi, lebih dari 80% stok THAAD AS sebelum perang bisa saja sudah terpakai.
Rudal Ditembakkan Sekejap, Gantinya Bertahun-tahun
Masalah terbesar dari perang ini bukan hanya berapa banyak rudal yang sudah dipakai. Masalah yang lebih besar adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggantinya.
Berdasarkan data CSIS, pengiriman baru untuk tujuh amunisi utama AS bisa memakan waktu 42 hingga 64 bulan. Artinya, butuh sekitar 3,5 tahun hingga lebih dari 5 tahun untuk mengganti stok yang sudah terpakai.
Patriot, misalnya, membutuhkan waktu pengiriman sekitar 42 bulan. Tomahawk sekitar 47 bulan, JASSM 48 bulan, sementara SM-3 bahkan bisa mencapai 64 bulan.
Ini menunjukkan bahwa perang modern bukan hanya soal siapa yang punya senjata paling canggih. Negara juga harus mampu memproduksi senjata itu dalam jumlah besar dan dalam waktu cepat.
Bagi AS, ini menjadi pekerjaan berat. Sebab, permintaan senjata tidak hanya datang dari kebutuhan perang Iran.
Ukraina juga membutuhkan Patriot untuk menghadapi Rusia. Jepang membutuhkan Tomahawk untuk memperkuat pertahanannya di kawasan Pasifik. Negara-negara sekutu lain juga masuk dalam antrean pembelian senjata AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw) Add as a preferredsource on Google




