Menimbang Ulang Sistem Ranking di Sekolah: Antara Relevan dan Tidak

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem ranking di sekolah disebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai perankingan berpotensi memicu perundungan. Apakah ranking masih relevan?

Di banyak sekolah, praktik ranking formal memang tidak lagi diumumkan secara terbuka seperti dulu.

Namun, sebagian sekolah masih menerapkannya secara terbatas, biasanya saat pembagian rapor atau evaluasi akademik tertentu.

Lantas, masih relevankah sistem ranking dipertahankan?

Di sisi lain, pendapat soal ranking masih terbelah. Sebagian menganggap sistem tersebut penting sebagai pemicu semangat belajar, sementara yang lain melihatnya sebagai sumber tekanan karena menyederhanakan kemampuan siswa hanya melalui angka.

Baca juga: Ranking di Sekolah Disebut Bisa Picu Bullying, Benarkah?

Tak adil karena menyamaratakan “start” siswa

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji termasuk pihak yang mempertanyakan relevansi ranking di sekolah saat ini.

Menurut dia, asumsi dasar sistem ranking telah terbukti tidak berpijak pada kondisi material di ruang kelas.

“Sistem ranking mengasumsikan semua anak punya titik start, minat, dan kecerdasan yang seragam. Ini adalah kemalasan akademis dalam menilai manusia,” kata Ubaid kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).

KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji

Ia menilai, mengukur siswa dengan satu alat ukur lalu mengurutkannya dalam daftar peringkat berpotensi mengabaikan keragaman kemampuan anak.

“Mengukur kecerdasan musisi, calon atlet, dan calon ilmuwan dengan satu alat ukur lalu merankingnya adalah bentuk ketidakadilan,” kata Ubaid.

Meski praktik ranking formal mulai berkurang, realitas pendidikan menunjukkan pemeringkatan belum benar-benar hilang.

Siswa masih menghadapi berbagai bentuk kompetisi akademik, mulai dari kelas unggulan, olimpiade, jalur prestasi, hingga seleksi masuk perguruan tinggi yang bertumpu pada capaian nilai.

Baca juga: Mendikdasmen: Sistem Ranking Picu Perilaku Perundungan di Sekolah

Bagi Ubaid, problem utama bukan sekadar daftar ranking di kelas, melainkan cara sistem pendidikan membangun persaingan antarsiswa.

Menurut dia, sekolah semestinya menggeser orientasi kompetisi dari mengalahkan orang lain menjadi pengembangan diri.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Kompetisi jangan diarahkan untuk mengalahkan teman, tetapi mengalahkan keterbatasan diri sendiri,” kata dia. Ia juga mendorong metode pembelajaran lebih kolaboratif agar siswa tidak tumbuh dalam tekanan saling bersaing.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Aceh yang Masih Bertahan di Pengungsian Rayakan Idul Adha | BERITA UTAMA
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Menyambut Peluang di Kertajati, Indonesia Bidik Peran Industri Aviasi Asia
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Pembubaran Ibadah di GMS Bantul, Wamen HAM Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku Provokasi
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Tambah 19 Unit Armada, Kemenhub Dukung Skema Buy The Service di Layanan Trans Batam
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo Pakai APBN untuk Beli 1.098 Sapi Kurban, MUI: Secara Syari’ Sah
• 8 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.