VIVA –Dunia akademisi Indonesia tengah dihebohkan dengan skandal dugaan pemalsuan dan fabrikasi riset oleh sejumlah peserta asal Indonesia di Konferensi Internasional Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 di Denmark. Tiga peneliti Indonesia diduga melakukan tindakan tersebut demi mendapatkan dana hibah dari ajang yang mereka ikuti.
Kabar ini pertama kali diunggah di akun Instagram Ida Bagus Mandhara Brasika baru-baru ini.
“Merusak nama Indonesia di mata dunia. Skandal pemalsuan di konferensi Internasional. Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuan dunia. Hal ini terungkap di sebuah konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark,” demikian bunyi unggahan tersebut dikutip Kamis 28 Mei 2026.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa seorang wanita yang diduga sebagai pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya, ia berganti-ganti nama saat presentasi hanya dengan mengganti hijab dan nametag yang dikenakannya.
Tak hanya identitasnya, riset yang dibuat peserta tersebut juga diduga dipalsukan. Disebutkan bahwa penelitian itu dibuat menggunakan AI dan/atau fabrikasi data sehingga tampak meyakinkan, padahal riset tersebut diduga tidak pernah benar-benar ada. Data, gambar, hingga isi tulisannya pun disebut merupakan hasil rekayasa AI.
“Saya mendapat confort ke orangnya langsung (prihatin), minta dijelasin figure-figurenya, jelasin poster-posternya dan dia tidak bisa menjelaskan sama sekali. Katanya seluruh abstrak mereka di’generate’ (kata yang dia pakai) oleh leader mereka atas nama Rifadly Fajar. Hal ini terlihat jelas di poster-poster riset mereka. Dua riset berbeda dengan conclusion yang sama persis,” demikian unggahan tersebut disertai potongan gambar poster dan conclution dari penelitian tersebut.
Ada beberapa hal yang juga disorot oleh pemilik akun tersebut terkait dengan riset yang diduga dipalsukan oleh peneliti dalam konferensi ISPPD tersebut. Pertama terkait dengan lokasi yang tidak masuk akal yakni di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, dan India Utara. Disebutkannya, peneliti tersebut tidak melakukan kolaborasi dengan peneliti setempat.





