JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik operasi senyap penangkapan Xanana Gusmão, terselip peran seorang agen ganda bernama Mariano yang menjadi salah satu mata rantai penting pembuka lokasi persembunyian eks pemimpin gerilya Falintil itu di Kota Dili, pada 20 November 1992.
Jauh sebelum penangkapan, saat itu sedang berlangsung pameran pembangunan di Baucau.
Pengamanan dilakukan oleh Batalyon 315. Di tengah kegiatan, kelompok perlawanan bersenjata menyerang.
Seorang prajurit tewas. Bagi Komandan Satgas Intel Nanggala X/Timor Timur saat itu, Letkol Mahidin Simbolon, serangan tersebut tidak bisa dianggap sekadar insiden keamanan biasa.
Baca juga: “Rakyat Tidak Salah, Saya yang Salah”: Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao
Ia memerintahkan anak buahnya menelusuri siapa pelaku penyerangan, siapa yang memimpin operasi, hingga siapa yang berada di balik perintah gerakan itu.
Mahidin kemudian menugaskan seorang perwira muda berpangkat Letnan Satu, Doni Monardo (eks Kepala BNPB), untuk menelusuri jaringan di balik serangan tersebut.
Penyelidikan membawa mereka kepada seorang mahasiswa Universitas Timor Timur, bagian dari jaringan clandestine, organisasi bawah tanah yang menjadi penghubung logistik, informasi, dan komunikasi gerakan kemerdekaan Timor Timur.
Saat diinterogasi, mahasiswa itu tidak langsung bicara.
Ia hanya menyebut, mungkin “si A tahu”. Dari satu nama, muncul nama lain.
Dari satu simpul, muncul simpul berikutnya.
“Jadi kita tidak memutus jaringan clandestine, tetapi mengembangkan,” kata Mayjen (Purn) Mahidin Simbolon, dalam wawancara bersama Podcast Brigade Kompas.com, dikutip Kamis (28/5/2026).
Mahidin mengatakan, jaringan clandestine dilatih untuk bertahan saat tertangkap.
Karena itu, menurut dia, penangkapan dilakukan dengan cara yang berbeda.
Mereka memburu target saat dini hari. Sekitar pukul tiga atau empat pagi.
Menurut Mahidin, orang yang dibangunkan mendadak dari tidur lebih mudah panik dan kehilangan kesiapan mental dibanding ditangkap di ruang publik.
Operasi-operasi kecil dilakukan diam-diam. Dari rumah ke rumah.
Dari satu informan ke informan lain. Semua saling dikaitkan.
“Yakinkan dia bahwa dia pasti tahu,” kata Mahidin, mengenai metode interogasi yang digunakan saat itu.