Humas Kominfo Jeneponto, Makna Kurban Dan Pengabdian Sejati Seorang Pelayan Negara

terkini.id
4 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Jeneponto – Suasana hari raya Idul Adha selalu membawa getaran yang berbeda di hati setiap insan. Di tengah berkumandangnya gema takbir yang bergema dari menara-menara masjid, dan kesibukan masyarakat dalam menyiapkan hewan kurban, tersimpan satu pesan besar yang menjadi inti dari perayaan agung umat Islam ini. Bagi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dan Informasi Komunikasi Publik (Humas dan IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jeneponto, Doddy A Baso, momen ini bukan sekadar perayaan syariat belaka, melainkan sebuah ruang perenungan mendalam tentang hakikat hidup dan pengabdian.

“Idul Adha selalu menghadirkan ruang perenungan yang berbeda dalam kehidupan manusia,” ujarnya, membuka perbincangan penuh makna ini.

Menurutnya, di balik segala kemeriahan dan pelaksanaan ibadah kurban, sesungguhnya tersimpan pelajaran kehidupan yang sangat besar tentang makna pengabdian, keikhlasan, hingga ketundukan hati yang mutlak kepada kehendak Tuhan. Kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menjadi landasan peringatan ini, dipandangnya bukan sekadar catatan sejarah tentang kepatuhan seorang ayah dan anak semata. Lebih dari itu, kisah tersebut adalah sebuah pengajaran agung tentang bagaimana manusia diajarkan untuk memurnikan niat dan menyelaraskan seluruh gerak hidupnya dengan kebenaran ilahi.

“Sebab dalam kehidupan, yang paling berat sering kali bukanlah memberi atau berbagi, melainkan mengikhlaskan,” ungkapnya dengan nada bijak.

Ia menilai, tidak semua manusia memiliki kekuatan jiwa yang cukup besar untuk mampu melepaskan ego, menyingkirkan kepentingan pribadi, maupun menanggalkan rasa ingin selalu diutamakan di hadapan orang lain. Di situlah letak makna filosofis Idul Adha yang begitu dalam dan menyentuh relung hati. Bahwa pengorbanan yang sesungguhnya tidak melulu soal apa yang tampak secara lahiriah dan kasat mata, melainkan tentang kemampuan manusia untuk menundukkan hawa nafsu dan keinginan diri sendiri demi tujuan yang jauh lebih luhur dan mulia.

Keikhlasan sebagai Puncak Pengabdian

Meminjam pandangan dalam nilai-nilai sufistik, ia mengemukakan bahwa keikhlasan adalah puncak tertinggi dari derajat penghambaan seorang hamba. Ketika seseorang bekerja dan mengabdikan diri, hal itu seyogyanya tidak dilakukan semata-mata untuk mencari sorotan atau mendapatkan pengakuan dari sesama manusia. Melainkan, segala langkah dan karya tersebut dijalankan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan spiritual langsung kepada Allah SWT.

Nilai-nilai luhur inilah yang menurutnya sangat relevan dan menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di tanah air. Bagi seorang pejabat publik, menjadi ASN bukanlah sekadar menjadi bagian dari roda atau sistem birokrasi yang kaku. Lebih dari itu, mereka adalah pelayan masyarakat yang dipercaya untuk mengemban amanah besar dari negara dan rakyatnya.

“Karena itu, pengabdian tidak cukup hanya dijalankan dengan kemampuan administratif atau kecakapan teknis belaka, melainkan sangat memerlukan hati yang bersih, niat yang lurus, serta kesadaran utuh untuk melayani dengan tulus dan ikhlas,” tegasnya yang sehari-hari juga berhadapan langsung dengan dinamika pelayanan informasi publik.

Dalam perjalanan panjang birokrasi di daerah maupun pusat, ia mengamati begitu banyak sosok aparatur yang bekerja dalam diam namun penuh dengan rasa tanggung jawab dan dedikasi tinggi. Mereka hadir dan menjalankan tugas dengan kedisiplinan yang terjaga, senantiasa menjaga integritas, serta tidak pernah lupa mengedepankan kualitas pelayanan terbaik bagi masyarakat luas.

Mungkin saja kerja keras mereka tidak semuanya terekspos atau menjadi sorotan di ruang publik, namun dari pengabdian-pengabdian senyap seperti itulah roda pemerintahan dapat berputar dengan baik dan kesejahteraan masyarakat dapat terus diupayakan.

Jabatan Adalah Amanah, Bukan Keagungan

Peringatan Idul Adha, menurutnya, juga mengajarkan satu prinsip dasar kepemimpinan: bahwa sebuah jabatan pada hakikatnya adalah sebuah amanah yang dipikulkan di pundak seseorang. Jabatan tidak sepatutnya dipandang sebagai simbol kekuasaan untuk meninggikan diri atau merasa lebih mulia dari orang lain. Sebaliknya, jabatan adalah sebuah ruang yang luas bagi pemegangnya untuk menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi orang banyak dan lingkungan sekitarnya.

Semakin tinggi kedudukan dan semakin besar tanggung jawab yang diemban, maka semakin besar pula tuntutan bagi pejabat tersebut untuk menjaga kerendahan hati serta memelihara keikhlasan dalam setiap langkah kerjanya.

Nilai pengabdian yang bernapas panjang seperti inilah yang selama puluhan tahun terus dijaga dan diwariskan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai institusi sentral yang menjadi salah satu pilar penyangga manajemen aparatur negara di Indonesia. Bagi beliau, usia lembaga atau seseorang bukanlah sekadar hitungan angka waktu yang berlalu, melainkan tumpukan jejak pengabdian yang terus diuji oleh zaman dan perubahan zaman.

“Dalam perjalanan panjang birokrasi, kita belajar bahwa bekerja untuk negara bukan hanya soal menyelesaikan tugas rutin atau memegang jabatan tertentu, melainkan tentang bagaimana menjaga amanah itu dengan hati yang jernih dan niat yang tulus,” tambahnya.

Sebagaimana nilai-nilai keagamaan mengajarkan bahwa kemuliaan sejati seseorang lahir dari keikhlasannya, demikian pula pengabdian sejati seorang aparatur negara tumbuh dan bermakna dari kesediaannya melayani tanpa terus-menerus berharap akan pujian atau balasan sesaat. Sebab, pada akhirnya yang paling abadi dan akan terus dikenang dari sebuah pekerjaan atau jabatan bukanlah kedudukan yang pernah diraih, melainkan manfaat nyata yang berhasil ditinggalkan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“Semoga Badan Kepegawaian Negara senantiasa menjadi rumah besar bagi lahirnya generasi ASN yang berintegritas tinggi, tetap rendah hati di tengah kewenangan yang dipegang, kuat dalam menjaga nilai pengabdian, serta senantiasa bijaksana dalam melayani negeri ini,” harapnya tulus.

Sebagai penutup renungan yang mendalam ini, ia kembali menegaskan pesan yang dipesankan Idul Adha kepada kita semua. Bahwa hidup yang bernilai dan berharga bukanlah dinilai dari apa yang berhasil kita miliki atau kita kuasai, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu kita hadirkan dan berikan bagi sesama manusia. Karena dalam dunia pengabdian, ketulusan sering kali hadir dalam bentuk ibadah yang paling sunyi, namun justru di situlah terletak makna yang paling dalam dan paling bermakna bagi kehidupan bersama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wali Kota Makassar Munafri: Festival Keberkahan Kurban Bosowa Peduli Jadi Ajang Berbagi dan Pemberdayaan Masyarakat
• 4 jam laluterkini.id
thumb
Apa Itu Spike dalam Trading Forex? yang Diwaspadai Trader
• 8 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Catatan di Balik Menguatnya Peran Negara
• 9 jam lalukompas.com
thumb
KBRI Tokyo Fasilitasi Pelaksanaan Shalat Idul Adha WNI di Berbagai Prefektur Jepang Berjalan Khidmat
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Ayo Nostalgia bersama Kereta Tua di Ambarawa
• 2 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.