Pelemahan Rupiah Jadi Daya Tarik Wisman, PHRI Soroti Dampak Ganda

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing memang membuat Indonesia semakin menarik bagi wisatawan mancanegara karena biaya liburan menjadi lebih murah.

Namun, melemahnya nilai tukar rupiah juga ibarat buah simalakama. Meski Indonesia menjadi semakin menarik bagi wisatawan asing karena biaya liburan yang relatif murah, kondisi ini tetap menyimpan tantangan bagi perekonomian nasional, bahkan bagi sektor pariwisata itu sendiri.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Maulana Yusran menilai pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang asing membuat Indonesia semakin menarik bagi wisatawan mancanegara dari sisi pengeluaran selama berlibur. 

Sebab, ketika wisatawan asing berkunjung ke Indonesia, pelemahan rupiah membuat nilai mata uang yang mereka bawa menjadi lebih kuat sehingga kemampuan belanja mereka meningkat dan pengeluaran selama berwisata di Tanah Air pun cenderung lebih besar.

"Ketika wisatawan mancanegara ini melihat produk lokal kita jauh lebih murah, tentu mereka akan berbondong-bondong. Itu normal bagi traveler. Ini juga bisa jadi keuntungan buat kita," katanya. 

Namun, pelemahan nilai tukar rupiah bukan berarti sepenuhnya membawa keuntungan bagi sektor pariwisata. Di balik meningkatnya daya beli wisatawan asing, ada sektor-sektor pendukung pariwisata yang justru menghadapi tekanan akibat melemahnya mata uang domestik.

Baca Juga

  • Kemenpar Ungkap Tantangan Genjot Wisman di Tengah Konflik Global
  • Mengasah Magnet Kunjungan Wisman di Tengah Bayang-Bayang Konflik Global

Dia mencontohkan industri hotel dan restoran, terutama yang berada segmen premium, masih menggunakan bahan baku maupun perlengkapan dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat biaya operasional berpotensi meningkat karena terdampak kenaikan harga barang impor akibat pelemahan rupiah.

“Selain itu, kebutuhan lain di sektor hotel, restoran, maupun usaha pariwisata yang masih bergantung pada kurs dolar juga pasti akan terdampak,” imbuhnya.

Meski begitu, Yusran menilai peningkatan kunjungan wisatawan akibat pelemahan rupiah tetap perlu dimanfaatkan secara optimal. Apalagi, berdasarkan pengamatannya, mayoritas wisatawan yang datang berasal dari negara-negara tetangga di kawasan sekitar Indonesia.

Dia juga melihat faktor lain yang turut memengaruhi tren tersebut, yakni kenaikan harga avtur. Kondisi itu membuat biaya perjalanan udara menjadi lebih mahal sehingga wisatawan cenderung memilih destinasi yang lebih dekat, termasuk negara-negara di kawasan regional.

“Kenapa? Karena kenaikan harga avtur membuat biaya perjalanan ikut meningkat. Akibatnya, wisatawan dari negara-negara tetangga kemungkinan akan lebih memilih destinasi yang jaraknya dekat,” tuturnya.

Menurutnya, di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, pasar wisatawan yang paling realistis untuk terus didorong saat ini adalah kawasan Asean. Ia menilai wisatawan dari negara-negara sekitar menjadi target utama karena pergerakannya relatif lebih dekat dan dinilai lebih memungkinkan untuk tetap tumbuh di tengah situasi global yang tidak menentu.

Dia menambahkan, pelemahan rupiah di satu sisi memang dapat menjadi keuntungan karena membuat Indonesia lebih menarik bagi wisatawan asing. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga perlu mendapat perbaikan karena tetap memberi tekanan bagi sejumlah sektor yang terdampak fluktuasi kurs dolar dan mata uang asing lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Blokade, AS Sanksi Otoritas Selat Hormuz
• 7 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Aksi Cabul Pimpinan Ponpes di Pekalongan: Modus Minta Pijat, Korban Diintimidasi
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Cuti Bersama Idul Adha, Jalan Sudirman Ramai Lancar
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Malaysia Kenakan Bea Impor Emas 10 Persen, Pengiriman Mulai Tertahan
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Jasa Marga: 196.320 Kendaraan Tinggalkan Jabotabek di Periode Libur Panjang
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.