Utang Bank Jangka Pendek PLN Melonjak 167% di 2025

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PLN (Persero) mencatatkan lonjakan signifikan pada pos utang bank jangka pendek sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian perseroan, kenaikan kewajiban jangka pendek badan usaha milik negara (BUMN) sektor ketenagalistrikan ini berjalan di tengah posisi kas internal yang mengalami penyusutan.

Laporan keuangan perseroan menunjukkan posisi utang bank jangka pendek yang merupakan bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun, mencapai Rp58,30 triliun per 31 Desember 2025. 

Angka tersebut meningkat sebesar Rp36,51 triliun atau melonjak 167,6% dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp21,79 triliun.

Akselerasi pada pos kewajiban ini sejalan dengan aktivitas pendanaan perseroan, di mana PLN melakukan penarikan utang bank jangka pendek baru dengan nilai nominal mencapai Rp84,89 triliun sepanjang tahun 2025.

Di sisi lain, saldo kas dan setara kas perseroan mengalami penurunan pada akhir tahun buku 2025. Saldo kas bersih PLN tersisa Rp42,20 triliun, atau menyusut sebesar Rp19,16 triliun (turun 31,23%) dari posisi akhir tahun 2024 yang berada di angka Rp61,36 triliun.

Dengan formasi angka tersebut, ketersediaan kas dan setara kas perseroan pada akhir 2025 (Rp42,20 triliun) tercatat Rp16,10 triliun lebih rendah dibandingkan dengan total kewajiban utang bank jangka pendek yang jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun (Rp58,30 triliun).

Baca Juga: PLN Rogoh Kocek Rp195,2 Triliun untuk Beli Listrik Swasta, Berikut 10 IPP Terbesar

Baca Juga: Beban Usaha Membengkak, Bikin Laba PLN Susut ke Rp7,26 Triliun di 2025

Perubahan pada saldo kas ini dipengaruhi oleh penurunan arus kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi perseroan. 

PLN membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp9,91 triliun pada 2025, turun dari torehan periode 2024 yang mencapai Rp75,35 triliun. Penurunan kas operasi ini dipicu oleh jumlah pembayaran kas kepada pemasok dan pihak ketiga yang mencapai Rp447,77 triliun pada tahun 2025.

Sementara itu, untuk aktivitas investasi, perseroan mencatatkan defisit kas sebesar Rp62,16 triliun yang mayoritas dialokasikan untuk perolehan aset tetap senilai Rp63,72 triliun. 

Guna memenuhi kebutuhan tersebut, aktivitas pendanaan perseroan mengamankan arus kas masuk bersih sebesar Rp32,86 triliun, berbalik dari tahun 2024 yang mencatat arus kas keluar bersih sebesar minus Rp7,83 triliun.

Kondisi pengetatan likuiditas dan peningkatan beban utang ini juga berjalan beriringan dengan penurunan profitabilitas perseroan pada periode yang sama. Laba tahun berjalan PLN tahun 2025 turun menjadi Rp7,26 triliun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,23 triliun.

Penurunan laba bersih ini turut dipengaruhi oleh kenaikan rugi selisih kurs bersih yang mencapai Rp12,46 triliun pada 2025, naik dari rugi kurs tahun 2024 yang sebesar Rp6,78 triliun. 

Setelah diakumulasikan dengan rugi pengukuran kembali program manfaat pasti sebesar Rp9,05 triliun, PLN membukukan total rugi komprehensif tahun berjalan sebesar Rp1,50 triliun pada 2025, berbalik dari tahun 2024 yang mencetak untung komprehensif Rp52,08 triliun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Perluas Uji Coba Digitalisasi Bansos Mulai Juni 2026
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
BGN Tak Permasalahkan Efisiensi Anggaran MBG, Pastikan Layanan dan Kualitas Terjaga
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Wali Kota Bandung Sambut Baik Instruksi Presiden Prabowo Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Meta Luncurkan Paket Langganan Berbayar untuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp Secara Global
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Wisata Mangrove Jadi Cara Baru Gen Z Isi Akhir Pekan
• 19 jam laluherstory.co.id
Berhasil disimpan.