Kritikus politik Faizal Assegaf menilai bahwa perlawanan pemerintah terhadap oligarki memiliki konsekuensi besar, salah satunya memicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.
Menurutnya, lonjakan dolar akan semakin menekan ekonomi Indonesia dan berpotensi mengubah arah politik ke depan.
"Efek melawan melawan oligarki, bikin dollar mengamuk. Ujungnya akan mempertegas peta politik ke depan. Harus jeli dan matang membaca perkembangan," tulis Faizal, dikutip dari akun X pribadinya, Kamis (28/5).
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) saat ini berada di kisaran Rp17.828 hingga Rp17.840 per dolar AS.
Mata uang rupiah sedang mengalami tren pelemahan yang cukup tajam sepanjang bulan Mei 2026. Bahkan pada perdagangan hari ini, nilai tukar dolar AS sempat melesat tinggi dan menyentuh level tertinggi barunya mendekati angka Rp17.900 per dolar AS.
Analis pasar uang merangkum tiga penyebab utama mengapa nilai tukar rupiah terus tertekan dalam beberapa pekan terakhir:
1. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah: konflik militer antara AS dan Iran, termasuk insiden di Bandar Abbas dan Kuwait, mendorong investor global beralih ke dolar AS sebagai aset aman.
Baca Juga: Dana Oligarki dan Judol Mengalir, Prabowo Dibidik
Baca Juga: Maman Buka-bukaan, Kontribusi Golkar ke Prabowo di 2024 Gak Kaleng-kaleng
2. Sentimen Libur Panjang: Adanya momentum libur panjang nasional membuat volume intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar domestik menjadi tidak seoptimal pada hari kerja biasa.
3. Defisit Transaksi Berjalan: Di sisi internal, kekhawatiran pasar meningkat seiring membengkaknya angka defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal pertama yang mencatat rekor terdalam dalam enam tahun terakhir.





