JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden ke-7 RI Joko Widodo akan berkeliling Indonesia dalam waktu dekat.
Pria yang identik dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah hengkang dari PDI-P ini akan memulai perjalanannya dari Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat.
Meski safari disebut untuk memenuhi undangan masyarakat sekaligus menemui pengurus PSI di daerah, publik menduga lawatannya juga bertujuan untuk mendongkrak suara PSI menuju Pemilu 2029.
Lantas, seberapa efektif safari tersebut mampu mendulang suara pemilih ketika Pemilu masih tiga tahun lagi?
Baca juga: Safari Politik Jokowi, Pengamat: Untuk Dongkrak Suara PSI dan Posisi Tawar Gibran di 2029
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menilai, safari jauh-jauh hari justru relevan untuk partai berlambang gajah itu.
Mengacu pada Pemilu 2024, sebanyak 30 persen pemilih justru sudah menentukan pilihannya dari jauh-jauh hari.
Oleh karenanya, mengambilalih garis start lebih dulu bisa menjadi sebuah keunggulan, minimal membuat PSI mampu menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold).
"Lebih dari 30 persen pemilih itu sudah punya pilihan sejak jauh-jauh hari. Jadi, dengan demikian, pemilih Jokowi yang sudah setia atau yang masih setia sama Jokowi itu bisa diikat jauh-jauh hari," kata Djayadi, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Ikat pemilih swing
Menurut Djayadi, safari politik dari jauh-jauh hari sejatinya juga mampu mengikat pemilih yang suka berubah-ubah pilihan (swing).
Ia tidak memungkiri, mendekati pemilih swing dari jauh-jauh hari membuat jangka waktu membujuk mereka juga jauh lebih banyak.
Dengan begitu, simpatisan yang masih ragu-ragu lebih dapat diarahkan menjadi pendukung Jokowi dan PSI.
"Itu berarti kan masih mungkin untuk mengajak mereka ke partai yang bersangkutan. Jadi, ini menggunakan strategi double (strategi dua kaki) sekaligus, ya strategi double," beber dia.
Terlebih menurut dia, tiga tahun sebelum Pemilu sebetulnya bukan waktu yang lama.