Bisnis.com, CIREBON- Bisnis kuliner di Kota Cirebon, Jawa Barat menunjukkan tren perlambatan dalam empat tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat jumlah rumah makan terus menurun sejak 2022 hingga pertengahan 2026.
Berdasarkan data Kota Cirebon Dalam Angka 2026, jumlah rumah makan di Kota Cirebon tercatat sebanyak 313 unit pada 2022. Angka itu turun menjadi 278 unit pada 2023, kembali menyusut menjadi 235 unit pada 2024, dan tinggal 219 unit pada saat ini.
Kepala BPS Kota Cirebon Samiran mengatakan tren penurunan tersebut mencerminkan dinamika usaha kuliner yang sedang mengalami penyesuaian dalam beberapa tahun terakhir.
"Data menunjukkan jumlah rumah makan memang mengalami penurunan bertahap dari tahun ke tahun,” kata Samiran dikutip pada Jumat (29/5/2026).
Secara tahunan, penurunan paling tajam terjadi pada periode 2023 menuju 2024. Dalam rentang itu, jumlah rumah makan berkurang 43 unit. Adapun pada 2022 ke 2023 terjadi penurunan 35 unit, sedangkan 2024 ke 2025 turun 16 unit.
Samiran menilai angka tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketatnya persaingan usaha hingga perubahan pola konsumsi masyarakat. Selain itu, meningkatnya biaya operasional usaha makanan juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil.
Baca Juga
- Cuaca Hujan Hambat Produksi Garam Rakyat Cirebon hingga Mei 2026
- Harga Cabai di Cirebon Melonjak Sehari setelah Iduladha
- Rob di Pesisir Cirebon Memburuk, Warga Ajukan Tuntutan
"Usaha kuliner sangat sensitif terhadap daya beli masyarakat dan biaya produksi. Ketika harga bahan baku naik atau biaya operasional meningkat, usaha kecil biasanya paling terdampak," ujarnya.
Fenomena menjamurnya layanan pesan antar berbasis aplikasi juga dinilai mengubah pola bisnis rumah makan konvensional. Sebagian pelaku usaha memilih beralih menjadi usaha rumahan atau hanya beroperasi secara daring sehingga tidak lagi tercatat sebagai rumah makan formal.
Meski jumlah rumah makan menyusut, aktivitas usaha kuliner masih terkonsentrasi di sejumlah kawasan strategis Kota Cirebon. Kecamatan Kesambi menjadi wilayah dengan jumlah rumah makan terbanyak pada 2025, yakni mencapai 75 unit.
Jumlah itu jauh melampaui kecamatan lain seperti Harjamukti sebanyak 46 unit, Kejaksan 42 unit, Lemahwungkuk 34 unit, dan Pekalipan yang hanya memiliki 22 rumah makan.
Dominasi Kesambi dinilai tidak terlepas dari posisinya sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kota Cirebon. Kawasan tersebut juga menjadi titik aktivitas ekonomi masyarakat karena terdapat pusat perbelanjaan, hotel, hingga jalur utama lalu lintas kota.
"Kesambi memang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan sehingga konsentrasi usaha kuliner lebih banyak berada di sana," kata Samiran.
Penurunan jumlah rumah makan turut menjadi indikator melambatnya sektor usaha kuliner formal di Kota Cirebon. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja, terutama bagi pekerja informal yang selama ini menggantungkan hidup dari industri makanan dan minuman.
Di sisi lain, tren tersebut juga memperlihatkan adanya konsolidasi usaha. Pelaku usaha dengan modal dan manajemen lebih kuat cenderung mampu bertahan di tengah tekanan biaya dan persaingan pasar.
Samiran mengatakan, pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat dukungan terhadap UMKM kuliner melalui kemudahan perizinan, promosi wisata kuliner, hingga pendampingan usaha agar sektor makanan dan minuman tetap menjadi penggerak ekonomi lokal di Kota Cirebon.





