Kesepakatan 60 hari itu menunggu persetujuan akhir dari Trump, kata seorang sumber AS.
EtIndonesia.com —Amerika Serikat dan Iran untuk sementara telah menyetujui sebuah nota kesepahaman selama 60 hari guna memperpanjang gencatan senjata yang berlaku saat ini. Gencatan senjata ini memungkinkan negosiasi lebih lanjut mengenai program nuklir Iran, demikian dikonfirmasi seorang sumber pemerintah AS kepada The Epoch Times.
Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump, kata sumber itu pada 28 Mei. Axios pertama kali melaporkan perkembangan terbaru gencatan senjata.
Kesepahaman itu dicapai setelah Trump memerintahkan aksi militer ofensif terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu 38 hari pertempuran berskala besar sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada 7 April.
Ketegangan tetap tinggi meskipun ada gencatan senjata. Pasukan AS serta Iran telah beberapa kali saling baku tembak, termasuk beberapa putaran serangan semalam pada 27 Mei.
Komando Pusat AS mengatakan tindakan terbaru Iran, termasuk peluncuran drone yang menargetkan Selat Hormuz dan peluncuran rudal yang menargetkan Kuwait, merupakan “pelanggaran gencatan senjata yang sangat serius.”
Sebaliknya, Teheran merasa keberatan atas blokade berkelanjutan AS terhadap sejumnlah pelabuhan Iran, yang dimulai Trump hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 7 April.
Komando Pusat AS pada 28 Mei melaporkan bahwa pasukan AS telah mengalihkan 111 kapal sehubungan dengan operasi blokade tersebut. Pasukan AS juga menggunakan tembakan pelumpuh terhadap beberapa kapal kargo Iran.
Kekhawatiran Nuklir Memicu KebuntuanTrump telah berjanji untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, dan menjadikan ancaman tersebut sebagai alasan peluncuran operasi tempur.
Para anggota pemerintahan Trump, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth, menggambarkan aksi tempur terbaru AS sebagai upaya untuk membongkar perlindungan militer Iran yang dapat digunakan untuk menahan serangan jika negara itu berupaya cepat memperoleh senjata nuklir.
Para pemimpin Iran berulang kali mengatakan program nuklir negara itu bersifat damai, meskipun para pengamat internasional tetap skeptis mengingat kemajuan yang telah dicapai sejauh ini.
Setelah Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan memulai kampanye “tekanan maksimum” berupa sanksi ekonomi baru, Teheran mulai meningkatkan cadangan uranium secara keseluruhan dan memperkaya uranium ke tingkat kemurnian yang lebih tinggi, sehingga semakin mendekati bahan bakar nuklir tingkat senjata, menurut Badan Energi Atom Internasional.
Tahun lalu, Trump memerintahkan pasukan AS, termasuk pembom siluman B-2 Spirit, untuk melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Fordow, dan Natanz.
Dalam negosiasi terbaru, Trump berfokus pada bagaimana melucuti Iran dari cadangan uranium yang diperkaya tinggi, yang mungkin masih terkubur di fasilitas yang diserang tahun lalu.
Dalam rapat kabinet pada 27 Mei, Trump menolak gagasan membiarkan Iran memindahkan cadangan uraniumnya ke Tiongkok atau Rusia, yang keduanya merupakan negara bersenjata nuklir.
“Saya tidak akan merasa nyaman dengan itu,” kata presiden.
Sebaliknya, Trump menawarkan tiga opsi: Iran menyerahkan cadangan uraniumnya kepada Amerika Serikat, menghancurkannya di tempat, atau setuju untuk menghancurkannya di bawah pengawasan pemantau pengawas nuklir.
Sepanjang pembicaraan terbaru, pejabat Iran mengatakan program nuklir adalah hak kedaulatan mereka dan menyatakan keinginan untuk mempertahankan sebagian kapasitas pengayaan domestik dalam hasil akhir.
Isu Lain Membebani NegosiasiBeberapa faktor lain juga dapat menjadi tantangan bagi Washington dan Teheran untuk mencapai nota kesepahaman 60 hari tersebut serta mendorong penyelesaian permanen atas kebuntuan saat ini di Timur Tengah.
Pada akhir pekan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan nota kesepahaman yang sedang disusun akan memprioritaskan penghentian permusuhan dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Hal demikian dilakukan sebelum membuka jalan bagi tahap negosiasi berikutnya. Negosiasi yang dimaksud adalah membahas program nuklir Iran dan isu lain yang menjadi kepentingan bersama.
Pasukan Iran mulai menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Teluk Persia sebagai bagian dari respons mereka terhadap serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Di tengah gencatan senjata dan blokade AS, Teheran bergerak memformalkan kendali Iran atas lalu lintas selat tersebut dengan mengumumkan administrasi tarif baru.
Departemen Keuangan AS pada 28 Mei menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap kantor tarif Iran yang baru dibentuk tersebut.
Baghaei juga mengindikasikan bahwa nota kesepahaman yang sedang dibahas akan membuka jalan bagi pelonggaran sanksi terhadap Iran di masa mendatang.
Dalam rapat kabinet 27 Mei, Trump mengatakan ia tidak mempertimbangkan pencabutan sanksi secara langsung, tetapi mengisyaratkan terbuka terhadap kemungkinan pelepasan aset Iran yang dibekukan di kemudian hari.
“Kami mengendalikan uang yang mereka klaim sebagai milik mereka,” katanya. “Kami akan tetap mengendalikan uang itu. Ketika mereka berperilaku dengan baik, dan ketika mereka melakukan hal yang benar, kami akan membiarkan mereka mendapatkan uang mereka.”
Dukungan Iran terhadap kelompok teroris yang ditetapkan secara internasional, khususnya Hezbollah di Lebanon, juga dapat meningkatkan taruhan dalam negosiasi. Dalam pidato utama pada 1 April, Trump mengatakan operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran dirancang untuk melumpuhkan dukungan Teheran terhadap terorisme.
Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Hezbollah memulai putaran baru serangan yang menargetkan Israel. Sebagai tanggapan, pasukan udara Israel meningkatkan serangan di seluruh Lebanon, dan pasukan darat Israel yang telah menduduki wilayah selatan negara itu memperluas patroli dan penggerebekan darat.
Pasukan Israel terus menyerang Lebanon bahkan setelah Amerika Serikat dan Iran memasuki gencatan senjata 7 April, sehingga memicu kecaman dari Teheran. Amerika Serikat kemudian menengahi gencatan senjata paralel untuk Lebanon, meskipun pertempuran di sana masih terus berlanjut.
Sumber : Theepochtimes.com





