MBG Lansia Tak Sesederhana Anak Sekolah, Imunolog Unair Soroti Risiko Keracunan hingga Diet Khusus

suarasurabaya.net
18 jam lalu
Cover Berita

Wacana pemberian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) kembali menjadi perhatian publik. Meski sudah lama dibahas, pelaksanaannya dinilai memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan MBG untuk anak sekolah.

Salah satu sorotan disampaikan dr. Ari Baskoro, Imunolog Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Ia menilai kebutuhan nutrisi lansia sangat bersifat individual, sehingga tidak bisa disamakan antara satu orang dengan lainnya.

Menurutnya, selain persoalan demensia atau pikun, penyusunan menu bagi lansia harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari selera makan, kemampuan mengunyah, hingga penyakit penyerta yang dimiliki.

“Karena sifatnya personal, pengaturan spesifikasi diet mestinya didasarkan atas kondisi medis masing-masing lansia. Selain demensia/pikun, beragam faktor patut diperhitungkan. Misalnya soal selera, kemampuan mengunyah makanan, dan kondisi komorbid,” tulis dr. Ari dalam catatannya yang diterima suarasurabaya.net, memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang diperingati setiap 29 Mei.

Ia menjelaskan, kebutuhan makanan lansia dengan diabetes tentu berbeda dengan penderita penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan ginjal, maupun penyakit hati. “Diet penyandang diabetes lansia, tentu sangat berbeda dengan gangguan kardiovaskuler, ginjal, atau lever,” ujarnya, Kamis (29/5/2026).

Karena itu, dr. Ari mengingatkan pemerintah perlu berhati-hati jika nantinya menjalankan program MBG untuk lansia. Apalagi, kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG masih beberapa kali terjadi di sejumlah daerah.

“Persoalan keracunan MBG yang kini ‘rutin’ diberitakan, dikhawatirkan akan menimpa lansia pula,” katanya.

Menurut dr. Ari, dampak keracunan makanan pada lansia jauh lebih berbahaya dibanding kelompok usia muda. Selain rentan mengalami dehidrasi, kondisi tersebut juga dapat memicu komplikasi penyakit yang sudah ada sebelumnya.

“Tidak seperti anak dan remaja, jika terjadi keracunan makanan dan dehidrasi pada lansia, sangat berisiko memicu komplikasi,” tegasnya.

Usia Harapan Hidup Meningkat

Di sisi lain, dr. Ari mengungkapkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, usia harapan hidup rakyat Indonesia kini mencapai 74,47 tahun.

Ia menilai tren tersebut menunjukkan adanya perbaikan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dari tahun ke tahun. Meski faktor genetik memiliki pengaruh terhadap panjang usia seseorang, dr. Ari menegaskan peran terbesar justru berasal dari gaya hidup dan lingkungan.

“Berdasarkan riset, faktor genetik hanya memengaruhi sekitar 20-30 persen potensi panjang usia seseorang. Mayoritas (70-80 persen), justru dipengaruhi gaya hidup dan kondisi lingkungan,” tulisnya.

Belajar dari Zona Biru Dunia

Dalam catatannya, dr. Ari juga menyinggung fenomena blue zones atau zona biru, yakni wilayah-wilayah di dunia yang memiliki populasi lansia berusia panjang dengan kondisi kesehatan yang relatif baik.

Beberapa wilayah yang masuk kategori zona biru antara lain Pulau Ikaria di Yunani, Okinawa di Jepang, Sardinia di Italia, Semenanjung Nicoya di Kosta Rika, dan Loma Linda di Amerika Serikat.

“Banyak peneliti dari seluruh dunia yang kemudian berupaya mengungkap rahasia ilmiah di balik tabir ‘kesuksesan’ lansia di zona biru,” ujarnya.

Masyarakat di wilayah tersebut dikenal mengonsumsi makanan tinggi serat dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Konsumsi daging juga relatif sedikit dan lebih banyak menggantungkan sumber protein dari ikan yang kaya asam lemak omega-3.

Selain itu, mereka terbiasa aktif bergerak, berjalan kaki dalam aktivitas sehari-hari, menjaga interaksi sosial, mengelola stres, serta memiliki pola tidur yang cukup.

“Ada ‘pelajaran’ lainnya dari zona biru. Iklim kehidupan berbasiskan agama, interaksi sosial yang kuat, tidur yang cukup, dan memiliki tujuan hidup yang jelas, sangat bermanfaat bagi kesehatan dan menekan risiko stres,” tulisnya.

Tantangan Lansia Indonesia

Lebih lanjut, Imunolog FK Unair itu menyebut persoalan yang kerap dihadapi lansia di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi.

Rasa kesepian, kehilangan pasangan hidup, pensiun, hingga keterbatasan finansial menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kualitas hidup lansia.

Selain itu, berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, hingga gangguan kognitif seperti demensia dan Alzheimer juga semakin sering ditemukan pada kelompok usia lanjut.

“Bagi sebagian orang, menjadi tua adalah keniscayaan. Tetapi tidak semuanya mampu dilalui dengan sukses mencapai kualitas hidup yang baik,” tulisnya.

Karena itu, ia berharap berbagai kebijakan yang ditujukan bagi lansia, termasuk wacana MBG, benar-benar mempertimbangkan kebutuhan kesehatan kelompok usia tersebut secara menyeluruh.

“Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia yang Berdaya. Semoga zona biru bisa menginspirasi,” pungkasnya. (bil/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPJS Gresik: Tunggakan Iuran Jaminan Kesehatan Bisa Diangsur 36 Bulan
• 8 jam laluberitajatim.com
thumb
Harapan Damai AS-Iran Mencuat, Harga Minyak Longsor ke US$92
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ini Pidato Lengkap Prabowo dan Macron: Indonesia-Prancis Capai Titik Terkuat
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Jalan Lenteng Agung Ambles, Pakar Curiga Tanah Dasarnya Bermasalah
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Daftar Jurnal Rifaldy Fajar di Google Scholar, Jadi Sorotan Kasus Dugaan Riset Palsu
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.