Anak muda hari ini hidup di tengah banjir informasi. Namun, ironi terbesar era digital justru terletak dari semakin lama waktu yang dihabiskan dengan internet, semakin sedikit waktu yang digunakan untuk memahami dunia secara mendalam.
Sebuah studi terbaru dari peneliti media Universitas Zurich dipimpin oleh Mark Eisenegger menunjukkan gambaran yang mencolok tentang pola konsumsi informasi generasi muda di dunia. Penelitian yang dilakukan dalam kerangka National Research Programme 77 (NRP 77) ini menjadi salah satu studi pertama yang secara sistematis melacak bagaimana kaum muda berusia 18–25 tahun memperoleh informasi melalui ponsel pintar mereka.
Para peneliti, termasuk Adrian Rauchfleisch dari National Taiwan University, Pascal Jürgens dari University of Trier, dan Karl Aberer dari EPFL, memantau seluruh domain yang diakses peserta setiap hari melalui telepon pintar mereka. Domain-domain tersebut kemudian dicocokkan dengan lebih dari 3.500 situs berita nasional dan internasional.
Hasilnya menunjukkan ketimpangan yang tajam antara konsumsi hiburan digital dan konsumsi jurnalistik. Rata-rata anak muda menghabiskan sekitar 400 menit per hari menggunakan telepon pintar.
Dari jumlah itu, sekitar 170 menit digunakan untuk media sosial. Namun waktu yang dipakai untuk membaca berita daring, politik, ekonomi, budaya, olahraga, hingga isu kemanusiaan hanya sekitar tujuh menit per hari. “Itu sangat sedikit. Bahkan tidak cukup untuk menonton satu program berita malam sampai selesai,” kata Eisenegger, dalam laporan yang dirilis kampusnya, Kamis (28/5/2026).
Tujuh menit membaca berita bukan sekadar angka kecil. Ia menggambarkan perubahan besar dalam hubungan generasi muda dengan jurnalisme. Di tengah derasnya arus video pendek, algoritma personalisasi, dan budaya menggulir tanpa henti, berita semakin tersingkir dari ruang perhatian publik muda.
Situs berita yang paling sering diakses dalam penelitian tersebut pun bukan media investigatif atau analisis mendalam, melainkan portal berita cepat dan ringan seperti 20 Minuten, yaitu media di Swiss yang berisi informasi singkat. Hanya sekitar 2 persen responden yang menghabiskan lebih dari 30 menit per hari untuk mengonsumsi berita yang diproduksi jurnalis profesional dengan tulisan-tulisan mendalam.
Fenomena ini disebut para peneliti sebagai “news deprivation” atau kekurangan asupan berita. Istilah itu merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu sedikit mengonsumsi informasi jurnalistik yang diverifikasi secara profesional. Menurut laporan tahunan Research Center for the Public Sphere and Society (fög), kelompok masyarakat yang mengalami “news deprivation” terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, hampir separuh populasi Swiss masuk kategori tersebut.
Serial Artikel
Media Sosial Mengambil Alih Waktu Remaja untuk Membaca, Menggambar, dan Olahraga
Media sosial telah mengambil alih waktu anak-anak dan remaja untuk membaca, berolahraga, dan melakukan berbagai aktivitas kesenian.
Perubahan budaya digital
Masalah yang ditemukan dalam laporan ini bukan hanya soal berkurangnya minat membaca berita. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya konsumsi jurnalistik berkaitan langsung dengan menurunnya partisipasi demokrasi.
Orang yang kekurangan akses terhadap berita cenderung kurang tertarik pada politik, memiliki pengetahuan publik yang lebih rendah, lebih jarang terlibat dalam proses demokrasi, dan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih rendah terhadap institusi politik maupun media.
Yang menarik, studi Eisenegger juga menemukan bahwa tingkat pendidikan ternyata hampir tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumsi berita anak muda. Artinya, bahkan kelompok yang secara akademik lebih tinggi pun tidak otomatis lebih banyak membaca berita. Ini menunjukkan bahwa problem utamanya bukan semata kemampuan literasi, melainkan perubahan budaya digital.
Media sosial memainkan peran sentral dalam perubahan ini. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin melalui sistem rekomendasi algoritmik.
Dalam situasi seperti ini, jurnalisme harus bersaing bukan hanya dengan media lain, tetapi dengan seluruh industri ekonomi perhatian.
Konten yang cepat, emosional, ringan, dan menghibur lebih mudah memenangkan perhatian dibanding laporan investigatif panjang atau analisis kebijakan publik. Dalam situasi seperti ini, jurnalisme harus bersaing bukan hanya dengan media lain, tetapi dengan seluruh industri ekonomi perhatian.
Penelitian lain oleh Morley Weston, pengajar komunikasi dari Universitas Zurich dan tim yang diterbitkan dalam jurnal Mobile Media & Communication pada 2025 menunjukkan bahwa konsumsi berita di ponsel anak muda bersifat sangat terfragmentasi. Mereka membaca berita secara sambil lalu, dalam jeda pendek, dan sering bercampur dengan hiburan digital lain. Berita tidak lagi dikonsumsi sebagai aktivitas utama, melainkan hanya sisipan di antara notifikasi, video pendek, meme, dan percakapan media sosial.
Situasi di Indonesia
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Eropa. Di Indonesia, pola serupa muncul dengan intensitas yang bahkan lebih kuat. Laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 menunjukkan bahwa 79 persen masyarakat Indonesia memperoleh berita dari internet dan media sosial. Sebanyak 57 persen responden mengakses berita melalui platform media sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan Instagram.
Pada kelompok usia muda, dominasi media sosial bahkan jauh lebih besar. Survei IDN Research Institute menemukan bahwa 73 persen Gen Z Indonesia lebih memilih mencari berita melalui media sosial dibanding televisi, radio, atau media cetak. Media digital konvensional hanya dipilih oleh 19 persen responden, sementara televisi tinggal 1 persen.
Riset YouGov Indonesia Media Consumption Report 2025 juga memperlihatkan bagaimana Generasi Z kini menjadi penggerak utama pola konsumsi media di Indonesia. Sebanyak 61 persen pengguna media sosial harian berasal dari kelompok Gen Z. TikTok menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat, sementara YouTube dan Instagram tetap mendominasi konsumsi harian.
Anak muda Indonesia tidak lagi mengonsumsi media secara linear, melainkan berpindah cepat antarplatform dalam pola yang sangat personal dan multitasking. Perubahan ini menandai pergeseran besar: dari “online-first” menjadi “social-first”.
Kini, anak muda tidak lagi datang ke situs berita untuk mencari informasi. Sebaliknya, informasi datang kepada mereka melalui algoritma media sosial. Berita hadir dalam bentuk potongan video TikTok, Instagram Reels, unggahan influencer, meme, thread pendek, atau cuplikan YouTube. Yang dikonsumsi bukan lagi keseluruhan laporan jurnalistik, melainkan serpihan-serpihan informasi yang cepat, emosional, dan mudah dibagikan.
Penelitian Reuters Institute selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan informasi. Mereka hanya mendefinisikan ulang apa yang disebut “berita”. Bagi banyak anak muda, informasi yang relevan bisa datang dari kreator konten, podcaster, streamer, atau akun media sosial, bukan hanya dari media konvensional. Namun perubahan ini juga menciptakan persoalan baru: kaburnya batas antara jurnalisme, hiburan, opini pribadi, propaganda, dan disinformasi.
Di Indonesia, persoalan tersebut diperparah oleh rendahnya budaya membaca mendalam. Banyak informasi dikonsumsi dalam format ultra-singkat. Video satu menit dianggap cukup untuk memahami isu geopolitik, ekonomi, atau perubahan iklim. Akibatnya, perhatian publik menjadi dangkal dan mudah diarahkan oleh algoritma yang memprioritaskan keterlibatan emosional dibanding akurasi.
Tantangan baru muncul dari perkembangan kecerdasan buatan generatif. Penelitian oleh tim Universitas Zurich tersebut mencatat bahwa sekitar 18 persen anak muda mulai menjadikan AI sebagai sumber utama informasi dan berita, dengan tren yang terus meningkat. Banyak pengguna cukup membaca jawaban ringkas yang dihasilkan AI tanpa pernah membuka tautan sumber berita asli. Akibatnya, media kehilangan lalu lintas pembaca, jangkauan, dan akhirnya pendapatan.
Kondisi ini memunculkan paradoks besar era digital Indonesia: generasi muda adalah generasi paling terkoneksi dalam sejarah, tetapi belum tentu menjadi generasi paling terinformasi. Mereka menghabiskan berjam-jam setiap hari di internet, tetapi hanya sebagian kecil waktu yang digunakan untuk memahami isu publik secara mendalam.
Padahal rendahnya konsumsi jurnalisme memiliki konsekuensi serius bagi demokrasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang kekurangan asupan berita berkualitas cenderung memiliki partisipasi politik lebih rendah, lebih mudah terjebak polarisasi, dan lebih rentan terhadap manipulasi informasi.





