Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak Melemah ke Level Rp17.900 per Dolar AS

idxchannel.com
17 jam lalu
Cover Berita

Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS

Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak Melemah ke Level Rp17.900 per Dolar AS (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel  – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tren pelemahan yang kuat dan berisiko terus meluncur mendekati level psikologis baru Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Jumat (29/5/2026). 

"Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” tutur Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi Jumat (29/5/2026).

Baca Juga:
Momen Prabowo Hadiri Jamuan Santap Malam di Istana Élysée Paris

Performa ini mengonfirmasi penutupan rapor merah mata uang Garuda di pasar offshore pada perdagangan Kamis (28/5/2026) kemarin.

Merujuk data dari Bloomberg, pergerakan kurs rupiah sebenarnya sempat mengukir penguatan tipis sebesar 0,18 persen ke level Rp17.813 per Dolar AS.

Baca Juga:
Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue, Perkuat Respons Cepat Kedaruratan di Mina

Namun, respons positif tersebut tidak bertahan lama. Hanya dalam beberapa menit sejak perdagangan dibuka, posisi mata uang domestik langsung berbalik arah dan jatuh mendekati area resistansi atas, tepatnya bertengger di posisi Rp17.869 per Dolar AS.

Dia mencermati bahwa potensi kejatuhan rupiah menuju level Rp18.000 per Dolar AS kian terbuka lebar pasca-pembusukan nilai tukar di pasar offshore. 

Baca Juga:
Prediksi Cuaca Jakarta Hari Ini: Cerah Berawan, Suhu Maksimal 32 Derajat Celsius

Menurut analisisnya, eskalasi militer di Timur Tengah menjadi dirigen utama yang memicu kepanikan global, sehingga arus modal dunia berbondong-bondong memburu aset aman (safe haven) dan melambungkan indeks Dolar AS.

Ketegangan di ring satu geopolitik meningkat pasca-serangan udara Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas penting di Iran, yang diprediksi memicu aksi balasan yang jauh lebih masif dari Teheran.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, dikutip Jumat (29/5/2026).

Gejolak perang ini juga membawa risiko nyata berupa disrupsi logistik dan distribusi energi di Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada meroketnya harga komoditas energi global. Harga minyak mentah jenis WTI dilaporkan telah merangkak naik mendekati level 96 Dolar AS per barel.

Melambungnya harga minyak dunia tersebut secara otomatis mempertebal tekanan inflasi global sekaligus membebani neraca perdagangan dalam negeri akibat membengkaknya biaya impor energi Indonesia. Konsekuensinya, volume permintaan terhadap Dolar AS di pasar domestik meningkat tajam untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan komoditas tersebut.

Ibrahim menambahkan, tekanan eksternal tersebut berkelindan dengan sederet persoalan struktural dari dalam negeri. Beban domestik yang ikut menggerus kekuatan Rupiah antara lain tingginya aktivitas impor minyak, siklus pengiriman dividen korporasi ke luar negeri, fenomena konversi dana simpanan masyarakat ke aset valas, serta besarnya liabilitas utang jatuh tempo milik pemerintah maupun sektor swasta.

Kondisi fiskal ini kian diperparah oleh kekhawatiran para pengelola dana asing terhadap efektivitas tata kelola sejumlah program pemerintah saat ini. Sentimen negatif tersebut memicu penarikan modal secara masif dari pasar keuangan nasional.

“Arus modal asing keluar cukup deras pada masa libur panjang ini. Sementara Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi secara terbatas,” kata Ibrahim.

Di lini kebijakan moneter, prospek perbaikan kurs domestik masih terganjal oleh sikap agresif bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pernyataan terbaru dari para pejabat The Fed yang kembali memprioritaskan penanganan risiko inflasi melahirkan ekspektasi bahwa rezim suku bunga tinggi (higher-for-longer) akan bertahan lebih lama, yang berujung pada penyusutan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meta Rilis Paket Langganan Instagram Plus, Facebook Plus, WhatsApp Plus
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Suasana Haru Selimuti Jemaah Multazam Utama saat Tawaf Ifadah di Masjidil Haram
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemeriksaan Sejumlah Pihak Selesai, Majelis Etik Ombudsman Tunggu Surat Tertulis Hery Susanto
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Polisi Hanya Autopsi Anak Bungsu di Kasus Sekeluarga Tewas Saat Kamping
• 13 jam laludetik.com
thumb
RS Syeh Yusuf Gowa Terbakar, Pasien Berhamburan Dievakuasi ke Jalan
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.