KOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.
Bank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.
Baca Juga: Melemah! Rupiah Sempat Tembus Rp17.845 per Dolar AS, Ekonom: Peringatan! | KOMPAS PAGI
#rupiah #dolaras #bankindonesia
Penulis : Tesalonika-Ajeng
Sumber : Kompas TV
- rupiah
- dolar as
- bank indonesia
- ekonomi
- noads





