Kepribadian Xi Jinping Disebut Berubah Drastis Tahun Ini, Analisis AI Tunjukkan Emosi Sedih dan Antipati Meningkat Tajam

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, sejak awal tahun ini belum pernah melakukan kunjungan ke luar negeri, dan frekuensinya meninggalkan Beijing juga terlihat jauh berkurang. Para ahli menggunakan analisis AI terhadap perubahan ekspresi wajah Xi Jinping dan menemukan bahwa emosi “sedih” serta “antipati” meningkat drastis. Mereka menilai berkurangnya perjalanan Xi kemungkinan berkaitan dengan pembersihan besar-besaran di kalangan petinggi militer Tiongkok.

Menurut laporan media Jepang Yomiuri Shimbun, Xi Jinping sudah lebih dari setengah tahun tidak melakukan kunjungan luar negeri. Kunjungan inspeksi domestiknya di Tiongkok juga sebagian besar terbatas pada perjalanan jarak dekat dan jarang meninggalkan Beijing.

Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri Tiongkok, sebelum pandemi COVID-19 pada tahun 2019, Xi Jinping melakukan tujuh kunjungan luar negeri ke 12 negara. Setelah pandemi, jumlah kunjungannya menurun drastis. Pada tahun 2024 ia hanya melakukan empat kunjungan ke sembilan negara, sedangkan pada tahun 2025 juga hanya empat kali dan mengunjungi enam negara saja.

Kunjungan luar negeri terakhir Xi adalah ke Korea Selatan pada Oktober hingga November 2025. Hingga tahun 2026 ini, Xi belum sekalipun keluar dari Tiongkok.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa menurut kebiasaan sebelumnya, Xi Jinping biasanya melakukan inspeksi domestik sekitar sebulan sekali. Namun tahun ini ia jarang meninggalkan Beijing. Kalaupun bepergian, hanya terbatas ke lokasi dekat seperti Beijing dan Provinsi Hebei yang dapat ditempuh pulang-pergi dalam sehari.

Pada akhir April, Xi sempat pergi ke Shanghai untuk menghadiri forum mengenai penguatan riset dasar, namun pihak luar menduga ia segera kembali ke Beijing setelah acara selesai.

Laporan itu mengutip analisis peneliti Academia Sinica Taiwan, Cai Wenxuan, yang menilai bahwa Xi Jinping tidak bepergian jauh kemungkinan bukan karena masalah kesehatan, melainkan berkaitan dengan perubahan situasi politik di Tiongkok.

Cai Wenxuan, yang meneliti politik Tiongkok, menggunakan AI (kecerdasan buatan) untuk menganalisis perubahan emosi Xi Jinping berdasarkan rekaman laporan televisi pemerintah Tiongkok CCTV. Hasilnya menunjukkan perubahan ekspresi Xi sangat mencolok antara parade militer tahun 2015 dan 2025.

Dalam analisis tersebut, proporsi emosi “sedih” Xi Jinping meningkat dari 17,3% menjadi 48,6%, sementara emosi “jijik” naik dari 5,8% menjadi 13,6%, keduanya mengalami peningkatan besar.

Menjelang parade militer September 2025, militer PKT diguncang peristiwa besar. Sembilan jenderal bintang empat, termasuk mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat He Weidong dan mantan Direktur Departemen Kerja Politik Militer Miao Hua, dicopot dari keanggotaan partai dan militer pada hari yang sama serta diserahkan ke jaksa militer untuk diperiksa dan dituntut.

Saat itu, banyak pihak percaya bahwa penyingkiran sembilan loyalis Xi di militer menjelang parade militer dilakukan oleh Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, yang menunjukkan sengitnya perebutan kekuasaan di kalangan elite PKT. Zhang sebelumnya dianggap sebagai sekutu kuat Xi di militer. Namun dalam pembersihan militer yang dilakukan Xi, Zhang sendiri ikut terdampak dan terpaksa melakukan perlawanan.

Cai Wenxuan mengatakan bahwa selama parade militer 2025, “Xi Jinping kemungkinan merasakan adanya risiko potensial dari pihak militer.”

Namun pada 24 Januari 2026, situasi di tubuh militer PKT berubah drastis. Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat Liu Zhenli sama-sama dicopot, mengejutkan dunia internasional.

Pernyataan resmi PKT terhadap Zhang Youxia menggunakan bahasa yang sangat keras, menuduhnya “secara serius merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat.” Karena Xi Jinping menjabat sebagai ketua komisi tersebut, tuduhan ini dianggap hampir menyiratkan bahwa Zhang memiliki niat “merebut kekuasaan.”

Sejumlah pengamat menilai konflik antara Xi dan Zhang merupakan kelanjutan dari sejarah panjang perebutan kekuasaan internal PKT selama seratus tahun, di mana salah satu inti utamanya adalah perebutan kendali atas militer.

Mantan pejabat intelijen senior Amerika Serikat dan peneliti senior di Georgetown University, Dennis Wilder, pernah menganalisis: “Saya rasa Xi Jinping tidak menyukai besarnya kekuasaan yang dikumpulkan Zhang Youxia selama proses ini. Selain itu, mungkin Zhang juga tidak sepenuhnya patuh secara internal.”

Cai Wenxuan menambahkan bahwa pembersihan besar-besaran terhadap petinggi Komisi Militer Pusat seperti Zhang Youxia kemungkinan berdampak besar pada Xi Jinping.

“Untuk mempertahankan kekuasaannya, Xi Jinping selalu menunjukkan sikap bahwa bahkan petinggi militer yang ia sendiri promosikan pun bisa disingkirkan. Namun bawahan Zhang Youxia tersebar di seluruh negeri. Jika Xi khawatir ketidakpuasan di militer meningkat, bahkan takut akan pembalasan, itu bukan hal yang aneh,” katanya. 

Luo Tingting /Wen Hui


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepribadian Xi Jinping Disebut Berubah Drastis Tahun Ini, Analisis AI Tunjukkan Emosi Sedih dan Antipati Meningkat Tajam
• 16 jam laluerabaru.net
thumb
Kesal Utang Rp1,2 Juta Tak Dibayar, Penjual Ayam di Kulon Progo Bunuh Temannya Sendiri
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Kerbau Albino Mirip Donald Trump di Bangladesh Batal Disembelih untuk Kurban Karena Viral
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prabowo Bangga Indonesia Diundang di Bastille Day Prancis, Negara Asia Pertama Ikut Defile Militer di Eropa
• 19 jam laludisway.id
thumb
Monas Mencatat 9.558 Kunjungan Wisatawan pada Libur Cuti Bersama Idul Adha 2026
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.