Sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel sistem air tawar raksasa tersembunyi di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat. Penemuan ini menjadi yang pertama di dunia.
Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.
Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.
Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.
Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh.
“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.
Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.
Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.
Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.
“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island.
Bisa Jadi Solusi Krisis Air Dunia?Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah, seberapa luas sistem air tawar bawah laut ini tersebar di dunia?
Jika ternyata keberadaannya umum ditemukan, bukan tidak mungkin cadangan tersebut suatu hari dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum atau pertanian, seperti halnya akuifer di daratan.
Penemuan ini muncul di saat yang sangat relevan, ketika dunia semakin mendekati era krisis air bersih. Saat ini, sekitar separuh populasi dunia mengalami kekurangan air parah setidaknya pada periode tertentu setiap tahunnya.
Perubahan iklim yang mengeringkan sumber air permukaan, ditambah pertumbuhan populasi global, diperkirakan akan membuat tekanan itu semakin berat di masa depan.
Sejumlah pihak bahkan memperingatkan bahwa krisis air dapat memicu konflik antar-wilayah, perebutan sungai lintas negara, hingga perpindahan massal penduduk dari wilayah yang dilanda kekeringan.
Meski belum ada jaminan sistem air bawah laut ini bisa menjadi solusi atas krisis air global, para ilmuwan menilai potensi itu layak untuk terus diteliti lebih jauh.





