Jakarta, VIVA – Banyak orang menganggap kesuksesan identik dengan jadwal padat, lembur setiap hari, hingga hidup yang selalu sibuk tanpa jeda. Namun miliarder sekaligus investor legendaris Warren Buffett justru menunjukkan kebalikannya.
Pria yang memiliki kekayaan ratusan miliar dolar atau setara ribuan triliun rupiah itu dikenal menjalani hidup sederhana dan tenang. Ia tidak terbiasa membalas email tengah malam, tidak gemar menghadiri rapat yang tidak penting, bahkan menjaga kalender hariannya tetap longgar.
Menariknya, kebiasaan tersebut justru dianggap menjadi salah satu alasan Buffett mampu bertahan produktif dan bahagia hingga usia lanjut. Filosofi hidupnya juga relevan diterapkan pekerja modern yang sering merasa kelelahan akibat tekanan pekerjaan.
Berikut lima kebiasaan Warren Buffett yang bisa membantu menciptakan work-life balance lebih sehat, sebagaimana dirangkum dari New Trader U, Jumat, 29 Mei 2026.
1. Tidak Terjebak Kesibukan Semu
Menurut Buffett, waktu adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli kembali. Ia dikenal sangat menjaga jadwal hariannya agar tidak penuh dengan aktivitas yang sebenarnya tidak penting. Buffett bahkan pernah menunjukkan kalender kosongnya kepada Bill Gates sebagai contoh bahwa jadwal padat belum tentu berarti produktif.
Banyak pekerja menghabiskan hari dengan membalas pesan, menghadiri rapat panjang, hingga menangani masalah mendadak tanpa henti. Akibatnya, energi terkuras tetapi pekerjaan utama justru tidak selesai.
Buffett memilih menyisakan ruang kosong dalam jadwalnya. Kebiasaan ini membuat dirinya tetap punya waktu berpikir dan tidak mudah stres saat muncul situasi tak terduga.
2. Berani Mengatakan “Tidak”
Salah satu prinsip paling terkenal dari Buffett adalah pentingnya menolak hal-hal yang tidak benar-benar penting. Menurut Buffett, setiap kali seseorang berkata “ya” pada suatu hal, berarti ia juga sedang berkata “tidak” pada hal lain. Karena itu, menjaga waktu menjadi sangat penting.
Banyak orang menerima undangan rapat, pekerjaan tambahan, atau aktivitas sosial hanya karena merasa tidak enak menolak. Padahal, keputusan tersebut sering membuat waktu habis untuk hal yang tidak mendukung tujuan utama. Dengan membatasi komitmen yang tidak perlu, seseorang bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga, kesehatan, maupun istirahat.





